Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
37


__ADS_3

Aaa.... cahaya terengah engah sentak dari tidurnya, saat pulang tadi ia istirahat dan membaringkan tubuhnya dan tertidur, bayangan bayangan kecelakaan hadir dalam mimpinya membuat ia ketakutan. Wajahnya penuh dengan keringat.


"Astaghfirullah", cahaya menangkupkan tangannya kewajah beristighfar, setelah hatinya sedikit tenang ia bangun dan bergegas kekamar mandi dan berwudhu, hampir saja ia melewatkan sholat Zuhur karena ketiduran.


Ceklek


Pintu kamarnya dibuka, bunda Sarah masuk membawa nampan berisi makanan.


"Cahaya, kamu sudah bangun nak! bunda bawakan kamu makan siang." ucap bunda Sarah meletakkan nampan diatas nakas.


"Bunda, tidak perlu repot begini, aku kan bisa mengambilnya sendiri." cahaya merasa tidak enak.


"Gak apa sayang,bunda gak repot kok, justru bunda senang." bunda Sarah menangkup pipi Cahaya dengan sebelah tangan kanan nya.


"Terima kasih ya Bun! bunda sangat baik denganku"


"Mulai sekarang,kamu adalah putri bunda." bunda Sarah tersenyum.


"Makasih ya bund" Nafisah memeluk Sarah dengan mata berkaca kaca.


"Kamu pasti bosan dirumah sepi begini, bagaimana nanti malam kita jalan, makan malam diluar, mau kan?." Ajak bunda Sarah.


Cahaya mengangguk, "Iya bund, aku mau."


**


Kini malam telah menampakkan kegelapan ya dengan cahaya rembulan, bunda Sarah dan cahaya kini ada disebuah restoran besar yang ada di kota X.


"Bund, aku ke toilet sebentar ya!" Cahaya berdiri dari duduknya permisi pada bunda Sarah dan bunda Sarah hanya mengangguk.


Saat berjalan cahaya menjatuhkan sapu tangannya karena buru buru. Dan ada seorang pria yang mengambilnya, saat pria itu hendak memanggil cahaya namun ia sudah hilang dari pandangan pria itu.


"Buk Sarah!" pria itu menyapa bunda Sarah, mendengar namanya dipanggil bunda Sarah menoleh kesamping dan ternyata yang memanggil adalah orang yang ia kenal.


"Pak Salman" balasnya kaget.


"Iya buk, nggak nyangka yah kita ketemu disini." ucap Salman tersenyum. "Ibuk sedang apa disini? apa ada meeting dengan client?" tanyanya.


"Tidak pak, saya hanya makan malam dengan putri saya disini, dan eh gimana dengan bapak? ketemu client juga?"


"Iya buk, tadi habis ketemu client." jawab Salman.


"Oh ya pak, silahkan duduk dulu". Ajak bunda Sarah.


"Terima kasih buk, sebaiknya saya pulang saja, senang ber_" ucapan Salman terpotong saat suara cahaya menegur.


"Bunda". ucapnya sembari duduk dikursi sebelah bunda Sarah.


Sarah dan Salman menoleh kearah cahaya. Menyadari salman memandangi lekat cahaya, bunda Sarah memperkenalkannya.


"Pak Salman,kenalkan ini putri saya cahaya."


"Nak, kenalkan ini pak Salman, teman bisnis bunda."


Salman mengulurkan tangannya hendak berjabat,namun Nafisah hanya menangkupkan kedua tangannya didada.

__ADS_1


"Cahaya".Ucapnya memperkenalkan diri.


"Oh, maaf, Salman", Salman menarik tangannya dan ikut menangkupkan tangannya didada.


"oh ya, ini sapu tanganmu kan?" tanya Salman.


"Eh, iya. kenapa bisa sama pak Salman?" Ucap cahaya heran.


"Tadi kamu menjatuhkannya, saat saya panggil, kamu sudah hilang." salaman memberikan sapu tangannya pada cahaya.


"Terima kasih pak Salman."


"Sama sama. oh ya buk Sarah saya permisi ya! Assalamualaikum".


"Iya pak, waalaikumsalam".


***


"Bagaimana ka? sudah ada kabar?" Alvian bicara melalui telepon dengan Azka.


"Sudah Al, dari informasi mobil yang dikendarai Nafisah waktu itu rem nya diputuskan oleh seseorang, dan truk yang menabraknya pun suruhan orang yang merusak rem mobil Nafisah."


Alvian mengepalkan tangannya dan menggeretakkan giginya merasa geram.


"Trus siapa bajingan yang membunuh istriku?"


" Dia preman jalanan yang bernama Bajo, dan dia sudah meninggalkan Jakarta saat kecelakaan nafisah,ungkin dia sedang berada di kota lain atau luar negeri."


"Cari dia sampai ketemu, jangan biarkan dia lolos.Dia harus menebus semua nya." ucap Alvian geram,.mukanya memerah karena marah.


**


"Ada apa denganku? kenapa setiap pagi aku muntah terus? bahkan sangat sensitif dengan bebauan parfum?" monolog Alvian sembari memijit keningnya. Kepalanya terasa amat pusing.


Tok..tok..tok.. pintu kamar Alvian diketok,namun ia tidak menyahut.


Ceklek


Pintu kamar Alvian terbuka dan masuk safira.


"Kak, sudah bangun? Cepetan turun, mama papa dan kakek nungguin diruang makan." Ucap Safira.


Alvian semalam mengunjungi mama nya dan keluarga lain, saat ia hendak pulang mama nya meminta ia untuk tidur dirumah, tidak tega melihat mama nya memohon makanya ia tidur di rumah keluarga atmaja.


"Kakak gak selera makan fir, kalian makan saja duluan." Alvian masih memijit keningnya.


"Kakak kenapa?" Safira menempelkan punggung tangannya dikening Alvian. "Gak panas" sambungnya.


"Kakak cuma pusing."


"Kakak masih keingat kak Nafisah?" tanya Safira dan membuat Alvian membuka matanya menatap safira.


"Kak, bagaimana dengan perasaan kakak saat ini? apa kakak masih yakin kak Nafisah masih hidup?" tanyanya serius.


"Entahlah fir, kakak masih ragu, jika Nafisah sudah meninggal kenapa mayatnya tidak ditemukan, dan kalaupun masih hidup dimana dia sekarang." Alvian menghela nafasnya.

__ADS_1


"Tanyakan pada hati kakak."


"Hati kakak masih percaya dan yakin kalau Nafisah masih hidup."


"Kalau kakak yakin, kakak harus berusaha mencarinya kak, kakak harus sehat agar bisa menemukan kak Nafisah."


"Kamu benar fir, tumben adik kakak ini jadi bijak." Alvian mengacak rambut Safira.


"Ya udah, kakak mau sarapan, agar bisa menemukan kakak ipar mu." Alvian bangkit dan berjalan keluar kamar.


Safira tersenyum melihat kakaknya bisa tersenyum kembali.


"Semoga kak Nafisah bener bener masih hidup,dan kakak cepat menemukannya." Batin Safira menatap kepergian Alvian kemudian ia pun menyusul.


"Al, ayo nak sarapan. Sudah lama kita tidak ngumpul seperti ini." mama mengambilkan sarapan untuk Alvian.


"Ayo Al, kakek senang melihatmu pagi ini mau makan bersama." ucap kakek senang.


"Baru saja ia menyuapkan sepotong roti kedalam mulut nya, perutnya langsung bergejolak, Ia membekap mulutnya dan berlari kekamar mandi didapur.


Ia menumpahkan semua, hanya ada cairan kuning yang ia muntah kan karena dari tadi ia sudah banyak muntah. Mama dan yang lain ikut menyusul Alvian karena merasa khawatir. Papa memapa Alvian menaiki kamar nya,karena Alvian sangat lemah.


"Ada apa dengan Alvian ma?"


"Mama gak tau pa, sudah beberapa hari ini ia muntah muntah terus, tapi ia tidak mau kerumah sakit." jelas mama rosa.


"Papa sudah panggilkan dokter, sebentar lagi akan sampai." Timpal kakek.


Tak selang waktu lama, dokter pun datang dan memeriksa keadaan Alvian.


"Bagaimana keadaan nya dok?" tanya mama.


"Dari pemeriksaan semuanya baik".


"Tapi kenapa ia muntah muntah terus dok?"


"Sebelumnya saya mau tanya!" ucap dokter membuat semua melihat dokter ingin tau. "Apa istri pak Al sedang hamil?" Semua mata membola melihat dokter.


"Kenapa bertanya seperti itu dok? apa hubungannya? Kakek menimpali.


Dokter tersenyum melihat semua yang ada disitu, "Pak Alvian mengalami kehamilan simpatik."


"Ha? maksudnya?"


Semua menatap dokter menanti penjelasan, apalagi Alvian? ia sangat ingin tahu.


"Kehamilan simpatik terjadi karena suami sangat mencintai istrinya dan tak ingin istrinya merasakan sakit,biasanya akan dirasakan oleh suami saat istrinya sedang hamil dan semua rasa mual dan ngidam suami yang mengalami".


"T..tapi dok, menantu saya sudah meninggal beberapa minggu yang lalu." Mama menimpali.


Dokter mengernyitkan dahinya, "tapi jika istri sudah tiada otomatis anak dalam kandungan pun tiada,gak mungkin suami akan merasakan ngidam."


Deg...


.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰🥰


__ADS_2