Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
Extra part


__ADS_3

Enam tahun kemudian


"Umi..."


"Umi.." panggil kedua putra Alvian dan Nafisah.


"Adzriel, Rhizan! Ada apa teriak teriak?" tanya Nafisah menghampiri.


"bang ayiel umi, ia ambil ainan izhan." Adunya dengan suara cadel nya.


"Rhizan umi, ini kan mainan adzriel dibelikan opa." Adu adzriel pula.


Adzriel Dwi putra Atmaja adalah putra kedua Nafisah dan Alvian, berisia empat tahun sedangkan Rhizan Tri putra Atmaja ialah putra ketiga mereka yang masih berusia dua tahun. Mereka sering berantem merebutkan mainan, padahal mainan mereka sudah banyak dan jika dibelikan pasti sama bentuk juga sama banyak nya, masih juga mereka saling berebut.


Nafisah sangat pusing melihat kedua putra nya ini, rumah seperti kapal pecah jika mereka bermain, untung saja Alvian tidak pernah komplain atau mengeluh melihat rumah yang selalu berantakan. Malahan ia akan membantu membereskan serakan anak anaknya.


"Adzriel, Rhizan, sesama saudara tidak boleh berantem nak, kita itu harus saling menyayangi dan mengasihi. Adzriel sebagai Abang harus sayang dan mengasihi adiknya. Begitupun Rhizan ya nak! gak boleh kasar sama Abang nya." nasihat Nafisah lembut.


"Iya umi." Jawab mereka kompak.


"Maafin Abang ya Zhan, ini buat izhan aja." Adzriel memberikan mainan nya kepada Rhizan, Rhizan mengambil nya dengan sangat senang. Mereka bermain berdua dengan kompak. Tak selang lama mereka berteriak lagi saling mengadu.


"Huff... masyaallah", Nafisah menggeleng melihat kedua putranya.


"Assalamualaikum.." Alvian datang bersama Fatih putra pertama mereka.


"Assalamualaikum umi." Fatih mencium tangan Nafisah.


"Waalaikumsalam sayang" kemudian Nafisah mencium tangan Alvian.


"Bagaimana sekolahnya sayang?" tanya Nafisah duduk disamping Fatih, Fatih yang saat ini berusia enam tahun dan sudah menginjak sekolah dasar kelas satu.


"Biasa aja mi" jawabnya datar. Begitulah Fatih, datar persis Alvian. Beda dengan adzriel dan Rhizan yang banyak bicara, rumah akan ramai jika ada mereka berdua. Bahkan mama Rosa dan papa sering membawa mereka pulang kerumah mama agar suasana rumah itu ramai. Alvian dan Nafisah sudah pindah kerumah mereka sendiri saat usia Fatih menginjak satu tahun, mama Rosa sebenarnya tetap ingin mereka tinggal bersamanya. Hanya saja Alvian dan Nafisah ingin mandiri dan menjalankan kehidupan keluarga kecil mereka sendiri, tidak mau merepotkan dan menyusahkan orang tua mereka.


"Ya sudah umi, Abang keatas dulu" Ucapnya sambil mencium pipi Nafisah, kemudian beranjak meninggalkan Alvian dan Nafisah yang masih duduk diruang tengah.


"Masyaallah mas, putramu sungguh kopiannya kamu banget mas. Bagaimana dia bisa cuek dengan hal sekitar."


Alvian tertawa mendengar ucapan Nafisah, "Walaupun dia cuek tapi dia penyayang sayang."


Nafisah mengangguk membenarkan, walaupun Fatih tipe cuek dan datar tapi dia sangat sayang pada adik adiknya, dia juga perhatian pada umi nya, jika ia melihat uminya dalam kesusahan dia pasti membantu umi nya, dia juga menjaga adik adiknya.


"Bagaimana keadaan baby girl?" Alvian mengelus perut buncit Nafisah.


"Alhamdulillah baik, tapi apa iya perempuan? waktu mengandung izhan juga kata nya perempuan, eh pas lahir cowok." jawab Nafisah tertawa.


Memang sewaktu pemeriksaan mengetahui jenis kelamin izhan dulu,dokter mengatakan bahwa anak perempuan, tapi pas lahir ternyata cowok juga.

__ADS_1


"Kalo lahir cowok lagi, ya coba lagi sampai dapat perempuan." jawab Alvian santai.


"Ya allah mas, mas kira aku kucing kerjaannya beranak Mulu." ketus Nafisah memukul lengan Alvian. Alvian kembali terbahak mendapat pukulan Nafisah.


"Abiiii..." teriak adzriel dan Rhizan berlari menghampiri Alvian.


"Hallo jagoan jagoan Abi." Alvian menggendong adzriel ditangan kanannya dan izhan ditangan kirinya. "Apa aja yang Abang dan adek lakukan hari ini?" tanya Alvian.


"Main mobilan." jawab mereka kompak.


"Tidak ribut lagi kan?"


"Tidak Abi, adzriel sayang dek izhan."


"Ozan juga tayang bang ayiel." jawab Rhizan dengan suara cadel nya.


"Bagus kalo begitu, kalian harus saling menyayangi dan melindungi yah! sampai kapan pun." Ucap Alvian sembari duduk disofa dan menurunkan adzriel dan Rhizan.


"Iya Abi." jawab mereka kompak.


**


Nafisah menarik handle pintu kamar Fatih, dan membukanya sedikit, ia tersenyum melihat kekompakan ketiga anaknya. Fatih sungguh Abang yang baik bagi adik adiknya, ia mengajarkan adik adiknya bermain puzzle dengan sabar, meskipun adiknya sedikit rusuh dan ribut,namun ia bisa membuat adik adiknya diam menurut dan memperhatikan apa yang ia terangkan.


"Ada apa yang?" Alvian menyusul.


"Ayo, kamu harus istirahat lebih awal." Alvian menggandeng Nafisah memasuki kamarnya.


Sesampainya dikamar, Nafisah merasa tidak nyaman dengan perutnya.Ia meringis memegangi perutnya.


"Sayang, kamu kenapa? Mau lahiran?" tanya nya panik, meskipun sudah tga kali ia mendampingi Nafisah saat persalinan, namun tetap saja ia panik dan khawatir.


Nafisah semakin meringis saat cairan bening mengaliri kakinya.


"Ya Allah, sayang,ketubannya pecah." Alvian dengan cepat membawa Nafisah kerumah sakit sebelum nya ia sudah mengabari yang asisten rumah tangga nya untuk menjaga anak anak nya, ia juga mengabari kedua orang tuanya.


Nafisah masuk ke ruang bersalin dan ditemani Alvian, Dengan keringat bercucuran dan rasa sakit yang mendera Nafisah terus berusaha mendorong agar buah hatinya bisa melihat dunia. Alvian juga terus memberikan semangat untuk Nafisah, hingga tangis putri kecil mereka pun menggema diruang bersalin itu.


"Alhamdulillah, gadis ya buk pak, cantik seperti ibunya." ucap dokter.


Air mata kebahagiaan luruh mendengar tangis buah hati, rasa sakit sirna saat itu juga berganti kebahagiaan.


"Makasih sayang." Alvian menghujani ciuman diseluruh wajah Nafisah. Ia sangat bahagia istri dan anak nya sehat dan selamat.


Setelah selesai dibersihkan Nafisah dipindahkan diruang perawatan, Alvian mengazani putrinya tepat disebelah Nafisah.


Cup

__ADS_1


Alvian kembali mencium kening Nafisah, "ia sangat cantik sepertimu sayang." Alvian memberikan putrinya pada Nafisah.


"Dia tetap mirip kamu mas, kalo dilihat cuma bibirnya yang mirip Naf."


"Heheh...berarti bibit mas sangat unggul ya," jawabnya tertawa. memang keempat anak mereka semuanya mirip Alvian, Nafisah hanya kebagian mengandung nya saja.


"Umiiii..." Ketiga putra mereka menghampiri.


"Mana adik nya umi Abi." tanya adzriel. mereka mendekat dan melihat bayi mungil yang sedang memejamkan mata.


"Mana nenek?" tanya Alvian melihat hanya ketiga putranya masuk.


Masih diluar Abi, kami tinggal berlari." jawab adzriel.Mereka bertiga berlari menuju kamar rawat Nafisah dan meninggalkan kakek neneknya dibelakang.


"Dia adik kami umi? kecil sekali!" adzriel kembali bertanya, sedangkan izhan hanya menoel hidung adiknya. "Elti belbi" ucap izhan sambil menoel hidung adiknya.


"Sayang, jangan digituin adiknya, nanti dia terbangun." tutur Alvian.


"Bagaimana keadaan umi?" Fatih bertanya. Dia memang sangat perhatian kepada umi nya, ia lebih dulu menanyakan keadaan umi nya.


"Alhamdulillah umi baik sayang." Nafisah mengelus kepala putra pertama nya.


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya mama Rosa yang baru masuk bersama papa. "Alhamdulillah ma, baik." Nafisah tersenyum dan menyalami mama dan papa mertuanya.


"Siapa nama nya bi?" tanya Fatih, ia memegangi tangan adiknya gemas.


"Nama nya Audrie Agnesia putri Atmaja, panggilan Audrie." seru Alvian.


"Hallo Audrie, welcome to Atmaja familys" Seru Fatih menyentuh pipi Audrie.


"Hello Audrie"


"Eyo Audi" sambung adzriel dan Rhizan, kini ketiga kakak nya berkerumun didekat Audrie, pemandangan yang sangat indah, terpancar rasa sayang pada ketiga kakak nya untuk sang adik. Alvian dan Nafisah berharap semoga mereka akan saling menyayangi sampai tua dan saling menjaga diamana pun mereka berada.


.


.


.


TAMAT🥰🥰


Happy reading ya readers, semoga suka dengan ceritanya.


Cerita Alvian dan Nafisah hanya sampai sini saja yah🥰


Jangan lupa mampir dikisah selanjutnya🥰🥰

__ADS_1


Sekian dan terima kasih ✌️ I love para readers🥰🥰


__ADS_2