
Seiring teriakan panjang Nafisah dan cengkraman kuat dilengan alvian terdengar tangisan menggema diruang bersalin itu.
Alvian tak bisa menahan air mata saat mendengar tangis pertama darah dagingnya.
"Waahhh... jagoan yah pak ." ucap dokter
Dikecupnya jari Nafisah yang tadi mencengkram lengannya kuat hingga memerah,andai kuku Nafisah panjang pasti lengannya sudah berdarah, tapi sesakit apapun itu tak sebanding dengan kesakitan Nafisah yang berjuta kali lipat.
"Makasih sayang," Alvian mengecup jari tangan Nafisah kemudian beralih mengecup kening Nafisah. "Makasih sayang, makasih" ucapnya lagi dan juga terus mengecupi kening Nafisah. Nafisah yang tak sanggup bicara hanya mengangguk tersenyum.
Sebelum perawat membawa bayi nya untuk dibersihkan Alvian melihat anaknya sebentar. "Gak kurangg apa pun kan sus?" tanya nya pelan.
"Sempurna pak, dan ganteng seperti papa nya." jawab suster yang seperti nya sudah sangat berpengalaman. Alvian tersenyum.
"Makasih sus" jawabnya mengangguk kemudian membiarkan putranya dibawa keluar. Alvian kembali mendekati Nafisah dan duduk disisi ranjang sembari mengecup kening Nafisah lembut.
"Makasih sayang, kamu sudah memberikan mas jagoan tampan yang mirip dengan mas." bisik Alvian.
"Asal jangan playboy nya aja yang mirip mas."
"Mas tidak playboy sayang."
"Masa?" Nafisah mencibirkan bibir nya. Dokter dan suster yang melihat mereka hanya tersenyum.
"Kita pindah kr ruang perawatan ya Bu, pak." suster mendorong brankar Nafisah menuju ruang rawat inap, dan diikuti oleh Alvian.
"Bagaimana Nafisah dan cicit kakek?" tanya kakek saat alvian keluar ruang bersalin.
"Alhamdulillah kek, mama dan baby nya selamat dan sehat." Alvian tersenyum kemudian memeluk kakek. Kakek membalas pelukan Alvian dengan erat juga mengelus punggung Alvian, ia sangat bahagia, di usianya yang sudah senja ia masih diberikan kesempatan untuk melihat cicitnya.
"Ayo kek." Alvian merenggangkan pelukannya dan mengajak kakek keruang rawat Nafisah.
Alvian sudah mengazani putranya, dan kini putranya sedang belajar menyusu pada mama nya.
Nafisah meringis meringis geli saat ujung *********** dihisap putra nya. Nafisah menatap bahagia putranya, Alvian benar,putra nya sangat tampan seperti papa nya. Kulitnya putih,rambut hitam pekat, hidung mancung, mata dan bibir nya pun mirip papa nya, tidak sedikitpun meniru Nafisah.
"Curang banget sih mas, masa Naf gak kebagian, semuanya mirip mas." ucap Nafisah mengelus pipi sang putra dan melepas *********** dari hisapan putranya.
"Kamu kan kebagian mengandung nya yang." jawab Alvian santai. Ia tertawa bahagia, anak dan istrinya selamat dan sehat wal Afiat.
"Mana cicit ku?" ucap kakek masuk ruang rawat Nafisah.Alvian menggeser tubuhnya kebelakang agar kakek mendekat melihat cicitnya.
__ADS_1
"hallo sayang. ini kakek buyut." kakek mengelus pipi cicitnya.
"Siapa namanya?" tanya kakek melihat Alvian.
"FATIH RIZKI PRATAMA ATMAJA" jawab Alvian, bagaimana kek?" tanya nya meminta pendapat.
"Bagus, namanya sangat bagus." Kakek kembali mengelus pipi Fatih.
**
Duk Duk Duk...
Langkah kaki masuki kamar rawat Nafisah, Alvian yang baru menyelesaikan sholat subuh memalingkan wajahnya melihat siapa yang masuk, ternyata mama dan papa nya. Ia bangkit dan menyalami mama dan papa nya.
"Bagaimana keadaan Nafisah?" tanya mama sembari mendekat ke box bayi, dan papa mengikuti dari belakang.
"Alhamdulillah mah, sehat, jagoan Al juga sehat." ucap Alvian.
Mama Rosa melihat Fatih dengan mata berkaca kaca. Ia tidak menyangka ternyata ia sudah menjadi seorang nenek. Ia mengelus pipi Fatih yang masih nyenyak dalam tidurnya.
"Tampan sekali cucu Oma."
"Cucu opa juga." timpal papa ikut mengelus pipi Fatih. Fatih menggeliat merasakan sentuhan dipipinya.
mama Rosa membelai rambut Nafisah, ia sangat berterima kasih dengan Nafisah yang sudah memberikannya seorang cucu.
"Biarkan saja Naf istirahat." Mama kemudian membawa papa keluar, dan Alvian ikut keluar menemui mama dan papa.
"Bagaimana Safira ma?" tanya Alvian duduk disamping papa.
"Fira menikah tadi malam." jawab mama.
"Apa? jadi benar dia dinikahkan? tapi kenapa? apa yang terjadi?" Alvian memberondong pertanyaan.
Hufff...
mama Rosa menghembuskan nafas kasar.
"Dia didapat kan dalam keadaan tidak pantas bersama Gus zayyan putranya kyai Anwar." jelas mama.
"Maksudnya keadaan tidak pantas gimana?" tanya Alvian.
__ADS_1
"Menurut cerita zayyan dan Fira, Fira hendak Kabur memanjat tembok tapi ketahuan oleh zayyan, dan saat Fira lompat malah menimpa tubuh zayyan, dan ketepatan para santri juga staf lain lewat dan melihat saat posisi mereka sangat intim, sehingga mereka dipaksa harus menikah." jelas mama panjang lebar.
Alvian memijit pelipisnya, "Tapi Fira masih sekolah, dan bagaimana sekolahnya?"
"Fira akan tetap sekolah, karena mereka merahasiakan ini agar Fira tidak di DO dari sekolahnya.
Alvian sangat menyayangkan nasib adiknya yang harus menikah muda. Tapi ia juga kesal dengan kelakuan Fira tidak berubah hingga membuatnya terjerat pernikahan dini.
"Mudah mudahan zayyan bisa membimbingnya dan merubahnya." harap mama Rosa. Papa hanya diam tidak menimpali, kepalanya sakit jika mengingat kelakuan putrinya. Ia merasa gagal menjadi ayah yang tidak bisa mendidik anak anaknya, terlebih anak perempuan.
**
Hey, gatel banget sih kamu jadi cewek, pasti kamu sengaja kan ngejebak Gus zayyan agar bisa menikah dengannya." Tuduh seorang santriwati pada Fira.
"Apaan sih lho, gak penting banget." jawab Fira santai lalu berjalan menuju kamar nya dengan teman temannya.
Fira memasuki kamar yang pernah ditempatinya.
"Fir, kamu kok disini?" tanya Julia.
"Emang kenapa kali gue disini? ini kan kamar gue juga."
"Iya maksud aku tuh, kamu sekarang sudah menikah dengan Gus zayyan, jadi kamu harus ikut Gus zayyan." jelas Julia.
"Gak mau. Gue disini aja." ucapnya sambil berbaring.
"Yeh ni anak, bukannya senang jadi istri Gus zayyan, Mala jual mahal." ucap Eli sambil menyisir rambutnya. "Kalo cewek lain pasti seneng banget bisa di nikahin sama Gus tampan seperti Gus zayyan". Eli membayangkan jika saja dirinya yang menikah dengan Gus zayyan, dia pasti tidak akan jauh barang sejengkal pun dari Gus zayyan.
"Cepat sana pulang kerumah nyai Fatimah fir, kamu itu sekarang seorang istri, gak baik pergi tanpa izin suami mu." nasehat Julia.
"Gue bukanlah istri yang diinginkannya." jawab Fira santai, "Dan dia juga bukan suami idaman gue." Fira memejamkan matanya kemudian membuka nya kembali kala ada seseorang mengetuk pintu dan memanggil namanya.
Ia membuka pintu ternyata ustazah Laila memanggil nya.
"Fira, bagaimana? kamu sudah bereskan pakaianmu?" tanya ustazah Laila.
"Be..belum ustazah." jawabnya gagu. Dia tadi pulang memang disuruh mengambil pakaiannya dan dia akan tinggal dirumah nyai Fatimah dan kyai Anwar,karena ia sudah sah menjadi istri dari Gus zayyan.
"Ya sudah, ayo bereskan, kakak akan tunggu."
Dengan berat Safira membereskan pakaiannya memasukkan kedalam tas, ia tidak membawa semua pakaian nya, hanya beberapa pasang saja yang ia bawa.
__ADS_1
"Jangan lupain gue ya man teman, gua pasti akan kembali lagi." ucap fira dramatis membuat Julia dan Eli terbahak.