Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
50


__ADS_3

"Sil, ntar tungguin gue,mau bareng yah". ucap safira sambil mengunyah makanannya. Saat ini Fira, sila dan Tomi sedang makan dikantin.


"Apa kak Endru gak jemput lho?" sila bertanya.


"Ogah ah, males gue, apa apaan coba antar jemput gue,kek gak ada kerjaan aja tu anak." dengus nya risih.


"Ya namanya juga pacar, wajar lah antar jemput lho." timpal Tomi.


"Ya gak wajar lah, siapa juga mau ama tu oli, dianya aja maksa." Safira sangat kesal mengingat Endru memintanya jadi pacarnya.


"Tapi masa lho gak suka sih fir, ganteng lho kak Endru, kalo gue jadi lho mah gak bakal nolak gue." sila tersenyum senyum menangkupkan kedua tangannya dipipinya.


"Huuh, elu mah semua cowok juga bakal lho embat." Tomi melemparkan keripik ke sila.


"Apaan sih tom, buktinya gue gak suka tu ma elo."


"Hiihh.. gue juga gak ngarep disukain Ama lu, sapa juga yang mau Ama Mak lampir kayak lho."


"Wooyy..kok kalian malah debat? jodoh baru tau rasa lho lho pada." Safira menimpali.


"Ogah"


Ucap sila dan Tomi kompak.


Safira tertawa melihat kedua sahabatnya itu, ya begitu, mereka berdua pasti selalu berdebat hal yang gak jelas, tapi mereka tetap saling support dan membela satu sama lain.


Tawa Safira terhenti saat bahu nya ditepuk seseorang.


" Hey, singa betina, sok kecakepan banget lho, lho kasih apa ke kak Endru hingga dia mau Deket sama lho?" Delia datang menghampiri Safira dikantin.


"Del, jangan ribut , ini masih disekolah." Tere mengingati.


Delia adalah kakak kelas Safira di sekolah, dia menyukai Endru sejak pertama kali ia masuk SMA sini dan endru adalah kakak kelasnya. Ia sangat menyukai Endru berharap Endru bisa jadi pacarnya, Kebetulan Tere teman sekelasnya adalah sepupunya Endru dia minta comblangin dengan Endru melalui Tere, tapi hingga dua tahun ini pun ia belum bisa mendapatkan Endru.


"Apaain sih lho, datang datang marah marah. Trus kenapa lho tanya tu si oli enduro?" Safira menepis tangan Delia.


"Gue gak suka ya lho Deket sama kak Endru." Delia menunjuk Safira.

__ADS_1


"Eits, ada hak apa lho ngelarang gue Deket dengan siapa, ya terserah gue lah." Safira mengangkat bahu cuek.


"Terserah lho mau Deket dengan siapa gue gak peduli,asal jangan dengan kak Endru, dia gebetan gue." Delia menarik kerah Safira geram.


Mendengar ucapan Delia Safira tertawa mengakak sembari melepaskan tangan Delia dari bajunya dan membuat suasana kantin tambah rame melihat apa yang akan terjadi pada mereka.


"Sil, tom, lho dengar gak? Wanita ini suka sama tu oli? hahah..." Safira tambah terkekeh membuat Delia semakin geram. "Tapi sayangnya tu si oli lebih suka sama gue, gimana coba? dua tertarik sama gue, bukan sama cewek siluman kayak lho." bisik Safira ditelinga Delia membuat Delia tambah murkah, Delia mengepalkan tangannya erat, raut wajah nya berubah menjadi merah karena terbakar amarah.


"Udah fir, gak usah ladenin tu orang, yuk cabut". sila menarik Safira hendak beranjak namun dihentikan oleh Delia.


"Tunggu." ucap Delia dingin membuat Safira dan sila tidak jadi beranjak.


Byurr... Delia menuangkan air yang ada dimeja tepat diatas kepala Safira membuat jilbabnya basah.


"Ha!" sila dan Tomi tercengan melihat sahabatnya. Safira hanya diam, tepatnya belum membalas.


"Apa lho menjual tubuh lho sama kak Endru hingga dia mau Deket sama lho ha?" Delia setengah berteriak.


"Del!" Tere menarik Delia agar pergi, ia tidak ingin menerima hukuman dari guru BP.


"Awww.. sakit" ringis Delia.


Tak mau kalah ia juga menjambak rambut Safira melalui jilbabnya. Safira yang sangat kencang menarik rambut Delia membuat Delia kesusahan membalas Safira, ia hanya meringis kesakitan. kehabisan akal, ia menginjak kaki Safira membuat Safira terjengkit dan jambakannya lepas. Delia kembali membalas Safira dengan menarik rambut Safira dan begitupun dengan Safira, mereka akhirnya saling Jambak membuat riuh kantin. Semua bersorak ingin mengetahui siapa yang jadi pemenangnya.


Suara riuh kantin mengundang penasaran para guru, mereka menghampiri para siswa siswi yang sibuk riuh bertepuk tangan dikantin. Dan betapa syok nya mereka melihat dua orang siswinya berkelahi.


Teman temannya? jangan tanya mereka pun gak bisa menghentikan mereka berdua.


"HENTIKAN". teriak pak Hendra sang kepsek membuat Safira dan Delia menghentikan aksi mereka. Mereka sangat kaget melihat para guru menatap mereka horor.


"Kalian berdua keruangan saya!" ucap pak Hendra dan langsung beranjak pergi.


"Mampus gue", batin Safira.


"Safira, kamu gak bosen bosennya buat ulah." Desah pak Rian, guru BP itu memang sudah bosan dengan tingkah Safira, yang cabut kah, yang bolos lah, yang berantem lah. Ia menggusar wajahnya frustasi melihat siswi nya ini.


"Cepat, kalian ditunggu diruang kepsek!" ucap pak Rian sembari beranjak dan diikuti guru lain.

__ADS_1


"Habislah kamu fir, kenapa juga berantem disekolah, harus nya tadi lho bawak kelapangan luar sana." Tomi menimpali.


"Apaan sih lho tom, bukannya simpati Mala lho komporin." sila menyikut Tomi.


"Ini semua gara cewek siluman ini." Safira menunjuk Delia.


"Hey, kamu singa betina gatel, kalo lho gak mulai duluan deketin kak Endru gue juga gak bakal nyolek lho."


"Dasar lho siluman" Safira hendak kembali menghajar Delia namun dengan ceoat Tomi dan sila menariknya.


"Udah ayok, nanti pak kepsek tambah marah." sila menarik Safira, mereka jalan duluan menuju ruangan kepsek baru disusul Delia.


"Mereka berdua duduk dihadapan pak Hendra, suasana didalam ruangan ini begitu tegang karena ditatap oleh pak Hendra horor seperti siap untuk menghunus mereka.


"Saya sangat tidak suka ada siswa siswi saya yang berkelahi". ucap pak Hendra datar.


"Tapi pak, cewek siluman ini yang duluan nyiram saya pak." Safira membela diri.


Delia hendak berbicara namun dihentijan oleh pak Hendra.


"Sssttt... jangan bicara lagi, saya tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian. Ambil surat SP di kantor BP dan bawa wali kalian besok menemui saya, kalian gak boleh datang kesekolah jika tidak bersama wali kalian besok." Ucap pak Hendra tegas.


"Tapi pak, jangan bawa wali dong pak! skorsing saja gak papa pak". Safira memelas. Bagaimana tidak takut, jika sang papa mengetahui, entah ia akan tinggal nama dimuka bumi ini. Ayah nya sangat killer jika anak anaknya melakukan kesalahan.


"Iya pak, jangan panggil wali kami." Delia ikut menimpali, ia juga takut jika sampai orang tuanya tahu dia berantem disekolah, auto bokek dia selama sebulan.


"Tidak ada negosiasi, silahkan keluar." Ucap pak Hendra lagi.


Safira dan Delia menghbuskan nafas kasar, dan melangkah meninggalkan ruangan kepsek.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2