Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
48


__ADS_3

Siapa sayang?" Suara Alvian mengalihkan pandangan Salman. Mata Salman membola melihat Alvian ada dirumah bunda Sarah.


"Kau?"


"Alvian".


Ucap mereka kompak.


"Sedang apa kau disini?" tanya Alvian dengan tatapan tidak suka.


"Seharusnya saya yang nanya, sedang apa kamu disini? dan siapa tadi yang kau panggil sayang?" bukannya menjawab Salman malah bertanya kembali. "Dan ada hubungan apa kamu dengan bunda Sarah?" sambungnya lagi.


"Saya disini karena istri saya disini lah."


"Nafisah? disini? dimana dia?" tanya Salman sembari celingukan melihat sekeliling.


Sementara Nafisah hanya diam mendengar perdebatan mereka.


"Mata kamu buta atau gimana hingga gak liat istri saya didepan mata mu."


Salman mengerutkan dahinya merasa heran, ia yang salah atau gimana? gadis didepannya ini Nafisah ataukah cahaya, kenapa dia tidak bisa membedakannya, ia memijit pelipisnya.


"Na..nafisah? lalu cahaya?" ia benar benar tidak mengerti.


"Asal kamu tau, cahaya dan Nafisah adalah orang yang sama. dan jangan kamu mencoba mengganggu dan mendekati istri saya." tekannya seperti ancaman.


"Tunggu..tunggu, bisa dijelaskan? Apa maksud semua ini?. Nafisah dan cahaya orang yang sama, tetapi kenapa bunda Sarah bilang kalo suami cahaya meninggal karena kecelakaan." cecar Salman, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau! kau mendoakan saya mati. dan kamu bisa mendekati istri saya gitu?" Aalvian merasa kesal mendengar ucapan Salman.


"Mas.." Nafisah melerai.


"Saya akan jelaskan." Alvian menjelaskan mulai dari Nafisah kecelakaan hingga dia tidak bisa menemukan Nafisah, bunda Sarah yang menolong dan Nafisah hilang ingatan hingga ia bisa menemukan Nafisah. Semua nya Alvian ceritakan tanpa ada dikurangi atau ditambahi.


Salman merasa syok mendengar kabar itu, ia sangat sedih ternyata cahaya wanita yang ia sukai adalah Nafisah, mereka wanita yang sama yang Salman juga sempat menyukai Nafisah, namun ia kubur rasa itu karena Nafisah sudah memiliki kehidupannya dengan pria yang bernama Alvian itu, dan sekarang saat ia menyukai cahaya dan tak lain adalah Nafisah. Hatinya sungguh perih, cintanya selalu berlabuh tidak tepat.


"Astaga! jadi?"


Ia menatap Nafisah kemudian ia mengusap wajahnya kasar, ia benar benar syok mendengar berita ini, sedih senang bercampur aduk, Ia sedih mengetahui Nafisah kecelakaan dan amnesia,ia juga bahagia Nafisah selamat dan kini sudah bertemu dengan keluarganya.


"Naf!" ucap lirih menatap nafisah dengan tatapan nanar.


"Maaf pak Salman atas kesalahpahaman ini", ucap Nafisah.

__ADS_1


"Kakak Naf, ini Kak Salman, tetangga kamu dulu, teman masa kecil kamu." ucap Salman .


"Dan bagaimana bisa nafisa mengalami kecelakaan?"


"Ada yang sengaja mencelakakan Nafisah."


"Apa?"


"Saya sudah menyelidikinya, kaki tangan nya sudah tertangkap, dan tinggal mencari siapa dalang nya." Terang Alvian.


**


Disisi lain Azka sedang mencurigai dan mengamati Aluna yang bersikap mencurigakan, ia mencuri dengar obrolan Aluna di telepon.


"Ck,, dam it. Kenapa gak aktif sih? kemana dia pergi, apa jangan jangan dia ketangkap? Ah sial.." teriaknya memaki ponsel nya.


"Gue harus hati hati, gue gak mau ketangkap." gumamnya pelan, ia melirik sekeliling dan segera pergi kembali ke meja kerjanya.


Dalam suasana gelap Alvian menerobos kegelapan kerumah petak kecil diujung kampung rumah yang sangat jauh dari kampung, dimana cuma Hanya ada rumah itu sendiri, ia menghampiri penjaga pintu itu meminta kunci rumahnya. Ya, Alvian memerintahkan anak buahnya menjaga seseorang yang sedang ia sekap didalam.


"Hey, bangun." teriak Alvian.


Pria itu mendongakkan kepalanya menatap Alvian.


"Hey" Alvian sangat emosi dengan pria didepannya ini, sudah beberapa hari ini ia disekap,namun tidak mau mengatakan siapa yang menyuruhnya.


"Baiklah jika itu yang kamu mau." Alvian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, ia menekan panggilan video Dengan Azka.


"Bagaimana?" tanyanya dan Azka menunjukkan dua orang wanita dilayar ponselnya. Alvian tersenyum melihat nya.


"Lihatlah, siapa yang ada disana!" tunjuk Alvian pada layar ponselnya. Seketika pria itu membolakan mata nya melihat orang yang ada di layar ponsel Alvian.


"Bagaimana? sebaiknya mereka diapakan yah!" Alvian meletakkan jari telunjuknya didagu seolah berfikir.


"Saya mohon tuan, jangan sakiti istri dan putri saya." mohon nya.


"Hahahaha..." Alvian tertawa mengejek.


Alvian menyuruh Azka mencari tau latar belakang pria itu,dan juga keluarganya dan membawa istri dan anak nya, pasti akan jadi kelemahan pria itu, dan benar saja, ia memohon agar tidak menyakiti keluarganya.


"Tergantung atas apa informasi yang kau beri." ucap Alvian datar dan dingin.


Alvian hanya ingin menggunakan keluarga pria itu sebagai senjatanya, tidak mungkin juga ia tega menyakiti orang yang tidak bersalah, dia bukanlah pria kejam seperti bandit bandit di novel.

__ADS_1


"Tuan, saya mohon, saya tidak tahu tuan, sungguh."


"Saya benar benar tidak mengenal wanita itu tuan sungguh. Saya hanya disuruh apa yang ia inginkan." Sambungnya.


Alvian mematikan sambungan teleponnya dan mencari sebuah foto di galeri ponselnya. Ia memperlihatkan nya pada pria itu.


"Apa wanita ini yang menyuruhmu?" tanya Alvian menunjukkan sebuah foto.


"I..iya benar tuan, dia yang membayar saya dan menyuruh saya pergi jauh dari kota ini.


"Dam it, sialan kau Aluna. Kau harus membayar semua nya" Alvian menggeram mengepalkan tangannya hingga urat bukunya keluar.


Dengan cepat ia langsung menekan nomer Azka.


"Bawa Aluna kehadapanku" ucapnya menggeram dan langsung mematikan ponselnya.


"Tuan, apa yang akan kita lakukan dengan pria ini tuan?" tanya seseorang anak buahnya.


Alvian menatap pria itu berang, matanya memancarkan kilatan marah yang membara.


"Aku akan memberikan dia dan juga keluarganya pada binatang buas agar tubuh mereka dicabik cabik seperti bangkai." ucapnya menggeram.


"Tuan, tolong ampuni saya tuan, jangan sakiti istri dan anak saya tuan, saya mohon, kasihani istri dan anak saya yang masih kecil tuan." pinta nya memelas.


Brak.. Alvian menghempaskan kursi didepan pria itu hingga hancur.


"Lantas, apa saat itu kamu tidak kasihan pada seorang wanita yang kamu celakai? Apa kamu tidak berfikir wanita yang tak berdosa akan mati karena perbuatanmu, hampir saja istri dan anak dalam kandungan istri saya meninggal gara gara perbuatanmu. kamu tidak berfikir kan?" teriak Alvian marah. Ia benar benar marah.


Bugh.. Ia memukul pria itu tepat diwajahnya. "Kamu bisa tega kan hanya karena uang!."


Ia tersulut emosi hingga ia menghajar pria itu hingga babak belur.


Nafasnya begitu memburu karena emosi, entah bagaimana keadaan pria yang ia hajar. Tanpa menoleh Alvian memerintahkan anak buahnya.


"Seret ia kekantor polisi." perintah Alvian dan ia langsung beranjak melangkahkan kajinya meninggalkan tempat itu.


.


.


Bersambung.


Ditunggu kelanjutannya yah, 🥰

__ADS_1


Dan jangan lupa tinggalkan jejak ya yah, Like coment dan vote nya ya 🥰, karena support para readers sangat membantu saya dalam menulis.


__ADS_2