Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
53


__ADS_3

Safira duduk mematung sambil meremas rok nya merasa takut, ia saat ini duduk k berhadapan dengan mama, papa, kakak dan kakak iparnya. Ia benar benar berasa sedan dalam persidangan kasus berat. Ia menunduk tidak berani menatap orang orang didepannya yang seolah siap memangsanya jika ia mendongak.


"Bisa kamu jelaskan fir?" ucap papa datar dan dingin. Papanya tidak memarahi atau membentaknya, hanya pertanyaan datar yang keluar dari mulutnya,namun itulah yang justru membuat Safira membeku ketakutan.


Safira tidak menjawab pertanyaan papanya, ia hanya diam menunduk, ia pikir papa nya pasti sudah tau semua karena tadi papa bicara dengan kakaknya.


"Fir" tegur papanya.


Suasana diruangan itu sangat hening mencekam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara nya jika sang papa sudah marah. Nafisah menatap Safira iba, ia tidak tau harus melakukan apa untuk Safira.


"Maafin Fira pa". Ucapnya lirih, Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.


Papa menarik nafas dan menghembuskannya kasar. "Apa pria itu pacar mu?" tanya papa lagi membuat Safira langsung mendongak menatap papanya.


"Bu..bukan pa." ucapnya terbata.


"Mulai besok, kamu tidak boleh lagi keluar rumah selain hanya kesekolah, dan kamu akan diantar jemput oleh pak Ujang". Ucap papa tegas.


"Iya pa!" Safira mengangguk pasrah.


"Sekarang kembali ke kamarmu." perintah papa dan langsung diikuti Safira, ia berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


"Huff, sial banget gue ketahuan papa, ini semua gara oli sama cewek siluman itu." gerutu Fira melemparkan tasnya ketempat tidur, kemudian ia membaringkan tubuhnya untuk istirahat karena lelah akan masalah nya hari ini.


***


"Baiklah, gue kesana sekarang." Alvian mematikan sambungan teleponnya.


"Telvon dari siapa mas?" tanya Nafisah yang heran melihat raut wajah Alvian memerah seperti menahan kenarahan.

__ADS_1


"Azka sayang, orang yang mencelakai mu sudah tertangkap, dan mas akan kesana menemui nya." Jawab Alvian


"Benarkah?"


"Iya,mas pergi dulu yah!" Alvian mengecup kening Nafisah dan melangkahkan kaki nya keluar kamar.


Alvian melajukan mobilnya kemana tempat yang sudah diberi tahu Azka. Sekitar dua jam lebih Alvian sampai di lokasi, sebuah rumah lebih tepatnya vila salah satu teman Alvian.


"Ka, dimana dia?" Alvian yang baru masuk langsung mencerca pertanyaan.


"Di dalam", Azka mengikuti Alvian memasuki kamar dimana Aluna disekap.


Brak..Pintu kamar dibuka kasar Alvian, dan nampak lah Aluna sedang duduk diikat dikursi itu. Mata Alvian sangat geram melihat sosok wanita yang ada didepannya, sosok wanita yang mencelakakan istri dan calon anaknya.


"Al, kamu mau nolongin aku kan Al?, cepat lepasin ikatan ini Al." ucapnya kepedean.


"Al, kamu tega nyakitin perempuan Al?" ucapnya meringis rahangnya yang sakit dicengkram Alvian.


Alvian menyiram Aluna dengan air hingga ia basah kuyup. "Tega kamu bilang? kamu sadar sudah mencelakai istriku ha? kamu tega mau membunuh istri dan anakku, dan kamu bilang aku tega menyiksa mu?" Alvian sangat geram, ia menarik rambut Aluna hingga Aluna mendongak mengikuti arah tarikan rambutnya. Aluna meringis menahan sakit dikepalanya karena rambutnya serasa akan terlepas dari kepalanya.


"Tidak hanya menyiksa mu, aku juga bahkan bisa membunuhmu. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, aku akan membuatmu menderita hingga kamu berharap lebih baik mati saja." Alvian menggeretakkan giginya bicara dengan Aluna, matanya sungguh berang dan tajam melihat musuhnya.


"Al, aku mohon lepasin aku Al" rengek Aluna tapi tak dihiraukan Alvian.


"Kalian lakukan tugas kalian, Saya gak mau mengotori tangan saya menghukumnya, buat dia semenderita mungkin, saya serahkan semua sama kalian terserah mau apakan dia." Perintah Alvian pada beberapa orang anak buah nya dan Azka,lalu ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan vila itu dan diikuti oleh Azka.


Saat Alvian menghidupkan mesin mobilnya terdengar suara jeritan Aluna, entah apa yang dilakukan oleh para suruhan nya. Tanpa memperdulikannya lagi ia melajukan mobilnya. Sekitar jam sembilan malam Alvian baru sampai dirumahnya, Ia memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil, terlihat Nafisah yang berdiri di teras rumah. Ia menyunggingkan senyumnya melihat sang istri, lelah dan marahnya langsung hilang seketika melihat sang istri.


"Sayang, kenapa diluar?" tanya nya sambil mengulurkan tangannya pada Nafisah, ia melingkarkan tangannya di pinggang Nafisah dan berjalan sambil memeluk pinggang Nafisah.

__ADS_1


"Naf nunggu mas, Naf khawatir, saat Naf dengar suara mobil mas Naf langsung turun."


"Makasih ya sudah khawatir sama mas." Ucap Alvian sambil mejawil hidung Nafisah."


Mereka kemudian memasuki kamarnya.


"Mas, air hangat nya sudah Naf siapkan, mas mandilah dulu, Naf akan siapkan makan mas." Ucapnya saat keluar dari kamar mandi.


"Makasih sayang", Alvian mengecup pipi Nafisah berterima kasih. Kemudian ia membuka pakaiannya membuat Nafisah membola menjerit kaget.


"Mas..apaan sih buka baju disini! Gak malu apa?" Nafisah memalingkan wajahnya malu melihat tubuh polos Alvian.


"Kenapa mesti malu, sama istri juga." jawabnya cuek. "Bahkan sebelumnya kan kamu sudah merasakannya." Sambungnya membuat Nafisah syok.


"MASss.."


Hahah...tawa Alvian pecah berhasil menggoda istrinya, ia tertawa sambil berjalan kekamar mandi.


"Huff..Mas Al sungguh meresahkan." Nafisah mengelus dada nya lega karena Alvian sudah masuk kamar mandi. Ia pun segera pergi kedapur untuk menghangatkan makanan untuk suaminya.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰


like coment dan vote nya ya 🥰

__ADS_1


__ADS_2