Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
57


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan dirinya, namun sepasang suami istri itu belum lagi keluar dari kamarnya, hingga membuat Fira menggerutu karena menunggu mereka untuk sarapan pagi.


"Mana sih tu dua makhluk, biasanya selalu tepat waktu saat sarapan pagi!".


Ia sangat enggan sarapan jika hanya sendirian seperti ini, mama dan papa nya pergi ke luar kota untuk pekerjaan.


Baru ia mengambil roti,pasangan suami istri itu sudah datang dan duduk bersama Fira.


"Tumben kak lama, biasanya paling dulu, kak Al membuat kakak lelah semalaman ya." Safira tertawa menggoda. Ucapan Fira yang absurd itu membuat Nafisa merona malu. Bagaimana tidak, yang dikatakan Safira memang benar, Alvian membuatnya kelelahan,hingga tak sempat mau buatkan sarapan.


"Wajah kakak merah, berarti benar yah?"


Nafisah hanya diam dan memandangi Alvian namun Alvian hanya cuek tak mau menjawab pertanyaan Fira yang absurd.


Hahaha...


uhuk..uhuk.. Safira keselek karena terus tertawa menggoda Nafisah. Nafisah memberikan segelas air dan diteguk Fira hingga setengahnya. Matanya memerah dan mengembun air dipeluk matanya karena tenggorokan sakit akibat tersedak.


"Makanya jangan suka godain orang, kena karma kan!" timpal Alvian.


Fira kemudian melanjutkan sarapannya tak mau lagi menggoda kakak iparnya.Ia takut keselek lagi.


"Kakak rapi banget! mau kemana emangnya?" tanya nya yang melihat Nafisah sudah berpakaian rapi.


"Kakak mau ngajar lagi fir."


Nafisah memang mau melanjutkan mengajarnya, walaupun ia masih ilang ingatan tapi kan ilmu nya tidak ikut hilang. Ia sudah meminta izin pada Alvian agar bisa mengajar lagi, awalnya Alvian memang tidak setuju, ia bisa dan sangat cukup menafkahi istrinya bahkan lebih pun, ia juga tidak mau Nafisah kecapean apalagi saat ini Nafisah sedang mengandung buah hatinya. Dengan bujukan dari Nafisah akhirnya Alvian setuju asal ia tidak kelelahan, jika ia kelelahan maka Alvian tidak akan memberikan izin lagi untuknya mengajar.


"Ngajar? di pesantren kyai Anwar?" tanya Fira memastikan.


"iya."


"Ooohh.." Fira hanya ber oh riya mengangguk.


"Mama kapan pulang sih kak?" sambung Fira bertanya pada Alvian sambil mengunyah makanan nya.


"Dua hari lagi, jika pekerjaan papa selesai." jawab Alvian.


"Papa posesif banget sih, kemana mana mesti Bawak mama. udah tua juga." gerutu Fira.

__ADS_1


Papa nya memang sangat posesif dan amat Bucin terhadap mama nya, jika ia pergi keluar kota maupun luar negri ia pasti akan membawa istrinya, tidak ingin meninggalkan istrinya seorang diri. Padahal jika ditinggal pun sang istri tidak sendiri, namun ia kekeh ingin istrinya ikut. Anak anaknya ia bisa tinggal, namun istrinya tidak akan, ia sangat bergantung pada istrinya,ia tidak akan bisa tidur jika tidak ada sang istri disampingnya.


***


Mobil Alvian sudah sampai didepan pesantren Raudhatul Jannah milik kyai Anwar.


"Nanti pak Ujang yang jemput yah yang!" Ucapnya kemudian mencium kening Nafisah.


"Iya mas, mas hati hati yah." Nafisah keluar dan melambaikan tangannya dan masuk ke ponpes itu. Setelah memastikan istrinya masuk barulah Alvian melajukan mobilnya kekantor nya.


Nafisah mendapat sambutan hangat dari para ustazah maupun ustadz yang mengajar disana, mereka sangat senang dan bahagia karena Nafisah selamat. tak hanya para ustadz ustazah, kyai Anwar dan umi Maryam juga menyambut Nafisah, dan para santri pun menyambut Nafisah dengan bahagia, ustazah favorit mereka akhirnya bisa mengajar kembali.


Nafisah sangat terharu atas sambutan mereka untuknya, ia bahagia karena kehadirannya sangat dirindukan oleh para santriwati. Ia bahagia karena ia bisa berguna bagi orang lain.


"Ya Allah Naf, aku seneng banget kamu mau ngajar lagi." Laila memeluk erat Nafisah. Ia sangat bahagia sahabat nya ini bisa kembali bergabung mengajar bersamanya.


"Makasih ya la, kamu memang sahabat aku paling tersayang." Nafisah tertawa sambil membalas pelukan Laila.


"Ingatan mu sudah kembali Naf?" tanya Laila dan Nafisah menggeleng.


"Yo wes, gak usah pikirin yang penting kamu dan anak kamu sehat." Laila mengelus perut Nafisah.


Setelah bercerita dan bercanda Nafisah dan Laila kembali mengajar ke kelas masing masing.


**


"Ngapain tuh anak?" Tanya nya dalam hati, sembari membuka pintu mobil.


"Sedang apa lho disini?" tanya nya judes.


"Gue cuma mau ngasih ini sebagai permintaan maaf." Endru mengulurkan tangannya memberi sebatang coklat dan setangkai bunga mawar. Safira mengernyitkan alisnya heran. Kalau cewek lain sih pasti seneng banget daoa hadiah dari cowok keren, tapi tidak bagi Safira.


"Maaf? emangnya lho salah apa?"


"Karena gue lho dihukum". tangannya masih terulur karena Fira belum menerima pemberiannya.


"Hey oli, gue dihukum tu bukan salah lho, jadi gak perlu merasa bersalah."


"Ya walaupun memang kenyataannya begitu, gue tetap mau minta maaf, Maaf karena gue ngajak lho pergi, maaf karena gue gak bisa bantu lho, maaf karena gue gak bisa nemenin lho mendapatkan hukuman."

__ADS_1


Ohhh...so sweet banget, andai cewek lain pasti meleleh mendengarnya, Safira? dia malah tertawa mendengar ucapan endru.


"Hahaha...garing tau gak," ia mengambil bunga dan coklat pemberian Endru. "Btw thanks ya!" ucapnya sambil mencium bunga mawar nya.


"Sudah Sono pulang lho, gue mau masuk, ntar gue telat lagi gara gara lho." Safira menggerakkan dagunya menunjuk motor Endru.


"Iya, gue akan pulang jika lho Uda masuk dan memastikan lho gak apa-apa."


"Garing tau gak, Uda Sono, gue masuk dulu." Safira berjalan melewati pagar sambil tersenyum menggeleng dengan sikap Endru.


Ehm..


Senyum Safira luntur seketika mendengar deheman seseorang, ia berbalik kebelakang melihat, setelah tau siapa yang berdehem ia kembali memalingkan wajahnya terus melihat kedepan sambil berjalan.


"Senyum senyum aja dari tadi!" sila dan Tomi berjalan mendekati Safira dan mensejajarkan jalan mereka.


"Kayak nya ada yang lagi kasmaran ni!" goda Tomi.


"Apaan sih, gak jelas, siapa juga yang senyum senyum." elaknya.


"Ciee.. yang dapat bunga dan coklat. so sweet banget" timpal sila. "Lho uda suka sama kak Endru?" sambung nya.


"Gak lah, siapa juga yang suka sama tu anak."


"Ya elah fir, masa gak suka Ama cowok setampan dan sekeren kak Endru sih!" sila tak habis pikir dengan Fira, disaat semua cewek terkagum kagum dan mengidolakan sosok Endru,ia malah cuek.


"Fir, lho normal kan? atau jangan jangan.." Sila bergidik membayangkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Apaan sih lho, lho pikir gue belok gitu? Gue normal kali." Fira memukul lengan Sila tak terima dengan ucapan sila yang mengatakan ia tidak normal.


"Gue gak mau ya fir kalo gue jadi incaran lho." sila kembali bergidik.


"Kalo gue mau ngincar lho, lho mau apa?" Safira menaik turunkan alisnya menatap sila dengan senyuman genitnya.


"Aaaaa...gue gak mau" teriak sila berlari dan Fira mengejarnya menggoda.


Tomi hanya tertawa terbahak melihat ketakutan sila, ia terus memegangi perutnya yang terus tertawa melihat berkeliling kejar kejaran.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2