
Flashback
Alvian dengan terpaksa memakan gado gado buatannya, wajahnya memerah menahan pedas,lidahnya seperti terbakar kala makanan itu masuk kemulutnya.
"Ya Allah yang, pedas banget, aku gak bisa bayangin jika kamu yang memakannya." batinnya sambil melahap semua gado gadonya. Bagi Nafisah mungkin itulah tidak pedas, tapi bagia Alvian yang tidak suka pedas itu sangat mengenaskan.
Nafisah tersenyum memandang suaminya makan dengan lahap hingga tandas. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun diwajahnya.
"Habis yang." Alvian menunjukkan piring nya yang sudah bersih tidak ada sisa makanan sedikitpun. Kemudian ia meneguk air dingin segelas penuh hingga tandas untuk meredakan rasa terbakar lidahnya.
"Enak mas?" tanya Nafisah tersenyum.
"I..iya." Alvian memegangi perutnya yang terasa mules.
"Yang, mas kekamar dulu, tidak tahan." ucap nya kemudian berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Mas, kenapa?" Nafisah ikut menyusul Alvian, ia masuk kamar tapi tidak mendapati Alvian.
"Mas panggilnya lagi."
"Dikamar mandi sayang." teriak Alvian dari kamar mandi. Nafisah kemudian duduk bersandar di dashboard tempat tidurnya menunggu Alvian.
**
Safira kembali mengintip melihat situasi di dapur, ia tersenyum lega karena Alvian dan Nafisah sudah kembali ke kamarnya. Dengan langkah pelan ia keluar lewat pintu belakang. Ia meletakkan tangga dipagar tembok yang tinggi itu, kemudian memanjat nya.
"Sil," panggilnya pelan dari atas. Sila langsung mendongak melihat keatas.
"Fir, gimana lho turunnya?" tanya sila dengan suara pelan juga.
"Gue juga bingung, mau lompat ini tinggi banget. Bisa patah seribu tulang gue." ucapnya bergidik,
"Trus gimana dong?" tanya sila bingung.
"Ada tali gak?" tanya Fira,
"Tali? mana ada, emang gue jualan tali."
"Ck,," decak Fira, tidak ada jalan lain selain melompat pikirnya, ia masih ragu namun itu satu satunya cara jika ia ingin pergi. Jika tidak mau lompat ya dia kembali lagi lah kekamar.
"Gue lompat sil, lho tanggung jawab kalo gue patah ya"
"Eh fir, jangan nanti lho_ belum selesai omongan sila Safira usah melompat dan .
"Aghh..kaki gue." keluh Safira memegangi kakinya.
"Tuh kan, belom juga gue selesai ngomong."
Sila mengurut sedikit kaki Fira, setelah dirasa sudah mendingan mereka beranjak pergi menuju arena.Sila dengan cepat melajukan motornya agar sampai tepat waktu.
"Jika sampai dalam dua puluh menit dia gak datang, maka dia dianggap gugur, dan kami jadi pemenangnya." ucap salah seorang lawan Fira.
Tomi sangat cemas dan khawatir, ia terus mondar mandir sembari menatap arah jalan untuk melihat kedatangan Safira namun tidak ada tanda tanda Safira datang. Lima belas menit sudah berlalu Safira juga belum datang, membuat Tomi makin cemas.
"Dia gak bakal datang, pasti dia takut.'' ejek lawannya.
"Dia pasti datang." ucap Tomi yakin.
__ADS_1
Lawan mereka tertawa mendengar ucapan Tomi. "Dia gak baka_ ucapan mereka terhenti mendengar suara seseorang.
"Gue yang akan gantikan Fira."
Semua mata tertuju pada suara itu, Tomi juga tercengak melihat siapa yang datang.
"Kak Endru."
"Gue yang akan gantikan Safira." ucapnya tegas saat sudah berhadapan dengan lawan.
"Lho siapa? lho gak ada hal buat gantiin dia."
"Gue cowoknya, dan gue punya hak." tegas Endru. Dengan sedikit polemik dan drama akhirnya mereka setuju Endru yang menjadi lawannya. Kini mereka semua sudah menaiki motor masing masing menunggu aba aba memulai.
"Kak Endru, semoga berhasil. Teriak Tomi menyemangati.
Satu...
Dua...
brum..brum..brum... Suara motor menghampiri mereka.
"Fira," ucap Tomi dan endru kompak.
"Akhirnya lho datang fir," Tomi memukul bahu Fira girang.
"Datang juga lho?" ucap pria yang akan menjadi lawan Fira.
"Gue pasti datang lah, mana mungkin gue biarin kambing congek kayak lu menang." tawa Fira.
"Hehehe...kita lihat saja, siapa yang akan menang."
"Ya elah beb, gue mau ikut lho." Endru langsung naik ke motor Safira.
"Apaan sih Lo, turun gak lho." teriak Fira kesal, namun Endru masih santai duduk dibelakang Fira.
Satu
Dua
Tigaaa....
"Gak ada waktu lagi cepat tarik gas nya." perintah Endru. Fira melihat lawannya sudah melaju duluan,jika ia masih ngotot nyuruh Endru turun maka dia akan tertinggal jauh dari lawannya, dengan terpaksa dia membiarkan Endru ikut,kemudian ia melajukan motornya membelah jalanan dan dia berhasil menyusul lawannya.
"Yuhuuuu... kita pasti menang." teriak Endru sambil mengejek lawan yang sudah tertinggal oleh Safira.
"Hebat banget cewek gue." ucap Endru lagi sambil melingkarkan tangannya diperut Fira.
"Lepasin tangan lho oli."
"Kalo gue gak pelukan nanti yang ada gue jatuh."
"Masa bodoh. Cepat lepaskan tangan lho." Safira melambatkan motornya untuk melepaskan tangan Endru.
Brummmm....Motor lawan menyalip Safira. "tuh kan beb kita disalip."
"Lepasin gak tangan lho, kalo gak lo turun aja disini."
__ADS_1
"Okeh oke, gue lepas", Endru melepaskan tangannya dari perut Fira, kemudian Fira kembali melajukan motornya hingga ia kembali mendahului lawannya. Ia terus melaju dan sebentar lagi akan sampai di garis finish. Semua orang sudah riuh menyambut kemenangan Fira namun saat beberapa meter lagi sampai finish terdengar suara tembakan ke udara, mobil polisi menghadang tepat di garis finish membuat Safira mengerem mendadak.
Ciiiiiit..... Suara gesekan ban diaspal.
Safira dan endru tidak dapat lagi mengelak, mereka langsung diboyong kekantor polisi, tidak hanya mereka, semua orang yang ada di lokasi langsung diboyong kekantor polisi.
"Kalian ini pelajar kok kerjanya balapan liar." ucap seorang polisi, tak habis pikir dengan para pelajar itu, bahkan seorang wanita yang ikut balapan liar.
Saat ini dikantor hanya tinggal Endru, Safira, Tomi dan sila. Yang kain sudah kembali karena keluarganya datang, sedangkan mereka tidak berani mau menghubungi keluarganya.
"Cepat, berapa nomor keluarga kalian agar mereka bisa datang menjamin kalian."
Orang tua saya tidak ada disini pak." ucap Safira. Berbagai alasan mereka berikan hingga membuat polisi itu pusing.Sekakiblagi polisi itu bertanya dan sedikit memberi ancaman jika keluarga mereka tidak datang maka mereka akan tidur di sel, sontak saja membuat mereka takut, Tomi terpaksa memberikan sebuah nomor telepon pada polisi.
**
"Mas, kok lama banget." ucap Nafisah khawatir karena Alvian tidak keluar keluar kamar mandi hingga hampi satu jam. Al Ian tidak keluar karena dia bolak balik harus buang air, saat ia hendak membuka kamar mandi perutnya kembali mulas, itu beberapa kali ia rasakan hingga hampir satu jam.
Klek... pintu kamar mandi dibuka.
"Mas kamu kenapa?" Wajah Nafisah sangat khawatir.
"Mas sakit perut, gak bisa makan terlalu pedas." ucap Alvian menggosok perutnya.
"Ya Allah mas, maafin Naf yah! gara gara Naf minta mas makan itu mas jadi sakit perut." ucap nya bersalah.
"Gak apa sayang."
"Kenapa mas gak nolak saja tadi saat Naf meminta mas makannya?"
"Mas gak mungkin bisa menolak saat istri mas lagi ngidam."
Nafisah berhambur memeluk Alvian sembari menangis. Ia menangkis sesenggukkan didalam pelukan Alvian.
"Kenapa nangis?" Alvian mengelus punggung Nafisah.
"Maafin Naf mas." ucap nya semakin kencang menangis.
"Udah,,jangan nangis lagi, mas udah gak papa kok." Alvian mengendurkan pelukannya dan menatap Nafisah, ia menghapus air mata Nafisah dengan ibu jarinya dan menangkup wajah Nafisah.
"Jangan menangis lagi, mas gak rela jika air mata ini jatuh karena merasa bersalah ataupun bersedih. Air mata ini hanya boleh keluar saat bahagia." Alvian tersenyum dan mengecup kening Nafisah.
Nafisah kemudian kembali memeluk Alvian, hatinya sedikit lega, ia tersenyum bahagia memiliki suami yan sangat sayang padanya.
Drttt...drttt...drrtt
Ponsel Alvian bergetar diatas nakas, ia melihat nomor asing yang memanggil,kemudian ia mengangkatnya, ia membulatkan matanya kaget mendengar kabar dari kantor polisi.
"Ada apa mas?"
"Sayang, mas ada perlu sebentar, Fira dikantor polisi saat ini."
"Apa mas? kok bisa? bukankah dia dikamar."
"Nanti kita bahas ya syaang, mas pergi dulu, kamu dirumah saja" Alvian langsun oergi kekantor polisi.
.
__ADS_1
.
Bersambung.