
Usai jam mengajar Nafisah keluar pesantren ditemani Laila untuk melihat apa pak ujang sudah menjemputnya, Alvian sudah mengatakan kalau dia akan dijemput pak Ujang dikarenakan suaminya itu tidak sempat untuk menjemputnya.
Ia tersenyum melihat mobil putih milik suaminya lebih tepatnya milik keluarga suaminya.
"Aku Uda dijemput la, aku duluan yah! Assalamualaikum" ucapnya sambil membuka pintu mobil.
"Waalaikumsalam, hati hati ya Naf." Laila melambaikan tangannya pada Nafisah di mobil yang sudah berjalan itu.
Nafisah merasa aneh dengan pak Ujang yang diam, tidak biasanya pak Ujang diam, biasa nya dia akan terus bicara dan selalu ada bahan pembicaraan bagi pak Ujang.
"Pak, apa bapak sakit?" Nafisah pikir mungkinkah pak Ujang sakit hingga enggan untuk bicara.
Tidak mendapat jawaban dari pak Ujang menambah keheranan bagi Nafisah, namun ia tidak mau ambil pusing dan banyak bicara, biarkan saja pak Ujang begitu, mungkin ia sedang ada masalah.
"Pak, kok lewat sini?" Nafisah heran dengan arah jalan yang diambil sopir tersebut.
"Pak!" tanya nya lagi.
Sopir itu pun melihat Nafisah melalui kaca yang didepan, ia menyunggingkan bibirnya tersenyum devil.
Nafisah yang melihat dari pantulan kaca tersebut merasa syok.
"Ka..kamu?" tanya nya terbata.
"Iya, ini gue." Aluna tersenyum devil melihat Nafisah yang kaget.
"Apa yang kau lakukan? hentikan mobilnya." teriak Nafisah .
"Kamu bertanya apa mau ku? aku mau Alvian, kamu sudah merebutnya dari ku."
"Aku tidak merebut mas Al dari siapa pun, dan siapa kau? kamu hanya orang asing yang masuk dalam rumah tanggaku.
Hahaha... Aluna tertawa histeris, ia menambah kecepatan mobilnya membuat Nafisah ketakutan.
**
Pak Ujang yang sadar sudah berada di semak semak jauh dari pesantren, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit karena tadi ada yang menghantam kepalanya dengan benda keras membuat ia pingsan.
Ia khawatir dengan majikannya Nafisah, dengan cepat ia menelpon Alvian. Tanpa lama Alvian langsung mengangkat panggilannya.
"Yah pak Ujang", ucap nya diseberang.
"Maaf tuan, sepertinya nona Nafisah diculik."
"Apa?" Alvian begitu kaget mendengarnya. Pak Ujang menceritakan kejadian saat dia dipukuli.
Alvian dengan cepat menuju mobilnya dan disusul oleh Azka.
"Biar gue yang nyetir, lho pasti syok." Alvian memberikan kunci mobilnya dan duduk disebelah Azka. Azka menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka juga memerintahkan anak buah mereka mencari dan melacak keberadaan Nafisah, dan dalam waktu singkat anak buah mereka sudah menemukan titik keberadaan Nafisah.
Azka melajukan mobilnya menuju titik Nafisah.
__ADS_1
"Itu mobilnya" seru Alvian. Azka menambah kecepatan mobilnya agar bisa mengejar mobil yang membawa Nafisah.
"Mas...tolongin Naf mas." teriak Nafisah, ia melihat mobil yang mengejar dari belakang,ia yakin itu adalah suaminya.
Aluna yang melihat mobil dibelakang mengejarnya, ia menambah kecepatan mobilnya.
"Hentikan mobilnya, kamu mau mati ha?" Sarkas Nafisah, ia takut sekali, sampai ia menggenggam setbelt nya dengan erat.
"jika aku gak bisa dapatin Alvian,maka kamu juga gak akan mendapatkan nya. Kita akan mati bersama." ucap Aluna mengerikan sambil tertawa.
"Gila, kamu gila."
dengan kecepatan tinggi mobil ini mbuat Nafisah melihat bayangan bayangan saat ia di dalam mobil, bayangan itu semakin jelas saat mobil Alvian berhasil mendekat menyalip Aluna dan Aluna membanting setirnya kekiri.
"Mas..Al....." teriak Nafisah
Brak..tinnnnnnnnn
Mobil mereka menabrak sebuah pohon besar hingga bagian depan mobil hancur.
"Nafisah..." Alvian berteriak dan berlari menghampiri mobil yang dibawa Aluna.Dengan cepat ia membuka pintu mobil, ia sangat khawatir melihat istrinya pingsan. Dengan cepat ia membawa Nafisah keluar. Dan Azka membawa Aluna keluar.
"Sayang, sayang, bangun sayang." Alvian menepuk nepul pipi Nafisah namun Nafisah tidak sadar.
"Cepat ka, bawa kerumah sakit." Titahnya sambil menggendong Nafisah masuk kemobil.
"Bagaimana Aluna?" tanya Azka.
Dengan cepat Azka melajukan mobilnya menuju rumah sakit, Ia fokus menyetir dan sesekali ia melirik melihat Nafisah dan Alvian yang tampak sangat kacau.
"Sayang, pliss bangun."
Mobil mereka pun kini sudah sampai dirumah sakit, Alvian menggendong Nafisah dan meletakkannya di brankar mendorong nya di bantu oleh para perawat.
"Sebaiknya bapak tunggu di luar". ucap salah satu suster.
Alvian menunggu didepan ruang UGD dengan cemas, ia bolak balik, berjalan keujung kepangkal gelisah dengan keadaan istrinya.
"Selamatkan istri dan anak hamba ya Allah, aku takut kehilangan mereka." ucapnya lirih. Dua puluh menit ia menunggu akhirnya dokter keluar, dengan sigap ia menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanya nya cemas.
"Alhamdulillah, istri anda baik baik saja, dan kandungannya juga baik, hanya luka ringan, dari pemeriksaan tidak ada luka berat, dia hanya syok yang membuat ia belum sadarkan diri." jelas dokter.
"Alhamdulillah" jawab Alvian dan Azka kompak.
Alvian benar benar lega mendengar istri dan anaknya tidak apa apa.
"Boleh saya masuk dok?"
"Oh ya, silahkan."
__ADS_1
Alvian masuk ruang rawat istrinya. Ia mendekat dan duduk disebelah istrinya. Ditatapnya wajah sang istri lekat, terjatuh bulir bening air mata, ia sangat syok mendengar istrinya diculik, dan sekarang kecelakaan,jiwa nya seperti terlepas dari raganya melihat istrinya kecelakaan. ia sangat takut kehilangan sang istri.Ia tak sanggup jika ditinggalkan oleh Nafisah. Digenggamnya tangan Nafisah dan dikecupnya dengan penuh cinta.
"Sayang", terasa pergerakan tangan Nafisah, Alvian menatap Nafisah yang membuka matanya. Ia sangat bahagia melihat istrinya sudah sadar.
"Mas..." lirih Nafisah, suaranya terdengar sangat lemah.
"Sayang, Alhamdulillah kamu sudah sadar" Alvian mengecup kening Nafisah.
"Naf dimana mas?"
"Kamu dirumah sakit sayang."
"Anak kita?" tanya nya sambil meraba perutnya.
"Alhamdulillah anak kita selamat sayang, dia baik baik saja." Alvian kembali melabuhkan ciumannya di kening sang istri.
"Mas, minta minum."
Alvian mengambilkan minum dan mengubah posisi Nafisah menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Nafisah meneguk segelas air hingga tandas.
"Aluna bagaimana keadaannya mas? dia gak papa kan?" tanya nya cemas. Alvian tersenyum melihat istrinya ini yang sangat peduli dengan orang lain, padahal orang itu sudah berbuat jahat kepadanya.
"Aluna juga tidak apa apa, cuma luka ringan dan dia sekarang sedang dirawat."
"Syukurlah." Ucapnya lega kemudian dahinya mengernyit. "Mobil nya mas? bagaimana dengan mobil mas? tidak hancur kan?"
Alvian membolakan mata nya tidak percaya dengan pertanyaan sang istri, sempat sempatnya ia menanyakan dan menghkawatirkan keadaan mobil.
"Ya ampun sayang, kok malah mikirin mobil sih."
"Itu kan mobil papa mas, jika hancur gimana?"
Alvian menggeleng mendengar istrinya. "Sayang, mobil itu tidak penting jika dibandingkan dengan kamu dan anak kita." Alvian mengecup jari Nafisah dan meraba perut Nafisah. "Kalian sangat berharga bagi mas, tiada yang lain."
Nafisah sangat terharu mendengarnya.
"Peluk" Nafisah membentangkan tangannya minta dipeluk, dan dengan senang hati Alvian memeluknya.
"Manja banget istri mas."
"Biarin."
Alvian tersenyum bahagia, ia sangat bersyukur Allah masih memberikan izin mereka bersama.
'' Terima kasih ya Allah."
.
.
Bersambung
__ADS_1