
Alvian saat ini sedang berada dirumah bunda Sarah, ia akan menjemput Nafisah dan membawanya pulang kerumah keluarga atmaja.
"Pak Alvian, duduk dulu, cahaya..em maksudnya Nafisah sebentar lagi akan turun". ucap bunda Sarah.
"iya buk Sarah, terima kasih."
Nafisah berjalan menuruni tangga menyeret kopernya.
"Sayang." Alvian tersenyum lebar melihat Nafisah, ia benar benar bahagia bisa bertemu lagi dengan istrinya.
"Cahaya, eh Nafisah! bunda ikut bahagia akhirnya kamu bertemu dengan keluargamu". bunda Sarah mengelus lengan Nafisah.
"Bund!" Nafisah memeluk bunda Sarah sedih. "Aku sedih harus ninggalin bunda." ucap nya sendu. Ia senang bertemu dengan keluarganya namun ia juga sedih harus meninggalkan bunda Sarah yang sudah sangat baik kepadanya, orang yang menolong dan merawatnya, orang yang sudah ia anggap sebagai ibu nya sendiri.
"Jangan sedih, kamu tetap boleh main kesini, pintu rumah ini selalu terbuka untuk mu." Ucap bunda Sarah sembari mengelus punggung Nafisah.
Bunda Sarah merenggangkan pelukannya dan menatap Alvian. "Pak Alvian tolong jagain Nafisah ya, dan nanti sekali sekali ajaklah Nafisah main kerumah ini."
"Pasti buk Sarah, kami akan sering sering nanti kesini, sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak buk Sarah, ibu sudah menolong dan menjaga Nafisah istri saya."
*
Alvian dan Nafisah kini sudah berada di dalam mobil, Alvian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Nafisah yang duduk disebelah Alvian hanya diam dan melihat kearah luar jendela, sembari menyetir Alvian sesekali melirik Nafisah.
"Sayang", Alvian menggenggam tangan Nafisah dan langsung ditepis oleh Nafisah, namun Alvian bukannya marah dan mengambil hati. Ia tahu Nafisah masih canggung.
"Maaf mas, boleh aku meminta sesuatu?" tanya nya dengan suara pelan namun masih jelas terdengar oleh Alvian.
"Kamu mau apa sayang? mas akan turuti, kamu menginginkan sesuatu? kamu ngidam?" tanya nya antusias, senyumnya begitu lebar, ia senang Nafisah meminta sesuatu padanya, itu artinya Nafisah mulai terbiasa dengannya.
"Aku ingin nanti saat dirumah mas, kita tidak tinggal sekamar, dan juga jangan ada kontak fisik diantara kita." pintanya
__ADS_1
Alvian membolakan matanya kaget akan permintaan Nafisah, bagaimana mungkin Nafisah meminta agar pisah kamar dan tidak ada kontak fisik? secara mereka adalah suami istri yang sah.
Alvian menepikan mobilnya dipinggir jalan, ia ingin tahu dan mendengar penjelasan Nafisah.
"Sayang? maksudnya? Mas suami kamu lho, bagaimana mungkin kita pisah kamar?" tanyanya tertawa kecil, "Jangan bercanda yang, mas kesiksa jika jauh dari kamu." sambungnya lagi.
"Hanya sampai ingatan ku pilih mas, mengertilah." mohon Nafisah.
"Hufff..." Alvian mengeluarkan nafas kasar, "Baiklah, mas tidak akan memaksamu. Mas akan bantu kamu untuk bisa mengingat kembali kisah kita." ucapnya lirih
"Makasih mas", Nafisah tersenyum, walau Alvian tidak melihat senyum itu, tapi ia tahu Nafisah saat ini sedang tersenyum.
"Mas rindu senyummu itu sayang." Ucap Alvian dalam hati menatap Nafisah mendamba,ingin sekali ia melihat senyum itu, senyum yang selalu membuat hatinya sejuk, ingin sekali ia memeluk istrinya itu, melepaskan rindu yang selama ini menumpuk dihatinya.
Alvian kembali menjalankan mobilnya, tak lama mobilnya memasuki halaman rumah keluarga atmaja, ia membuka setbelt nya dan Nafisah, ia keluar dan mengitari mobilnya membuka pintu Nafisah.
"Ayo sayang!" Alvian menjulurkan tangannya menyambut Nafisah kemudian ia tarik kembali, ia lupa dengan apa yang barusan diminta nafisah. "M..maaf."
Nafisah keluar dan berjalan dibelakang Alvian. Sampai dirumah Nafisah disambut dengan sangat gembira oleh keluarga atmaja.
"Mama, Fira juga pengen meluk kak Naf" Safira menarik mama rosa, gantian ia yang memeluk Nafisah. "Kak Naf, terima kasih kakak telah kembali, Fira sangat kangen sama kakak."
"Fira jangan erat erat peluk nya nanti anak kakak kejepit." Alvian menegur Safira memeluk terlalu kencang.
"Ups, iya lupa! gimana ponakan aunty?" Safira mengelus perut Nafisah.
"Alhamdulillah baik aunty" Jawab Nafisah tertawa. Nafisah melihat kearah papa dan juga kakek dan menyalami mereka.
"Selamat datang kembali nak!" kakek mengelus kepala Nafisah yang beralaskan hijabnya.
"Terima kasih kek."
__ADS_1
"Ya sudah Al, bawa Nafisah keatas agar istirahat." suruh mama rosa.
"Iya ma". Alvian menyeret koper Nafisah menaiki tangga dan diikuti oleh Nafisah.
"Ini kamar kita sayang." Alvian membuka pintu mempersilahkan Nafisah masuk. Istirahat lah sayang, mas akan tidur dikamar sebelah." ucapnya dan Nafisah hanya mengangguk.
Nafisah meneliti kamar, ia melihat beberapa foto yang terpajang di meja dan didinding. Foto pernikahan mereka sangat jelas terpampang didinding.
"ini foto pernikahanku?" tanya nya dalam hati sembari mengelus foto didinding, ia melihat dirinya sangat cantik dengan gaun pernikahan yang ia kenakan.
"Ayahmu sangat tampan nak" sambungnya tersenyum melihat foto Alvian sembari mengelus perutnya.
***
Setelah tau Nafisah sudah ditemukan dan kembali, sahabatnya Laila dan ustadz Yusuf datang ke kediaman keluarga atmaja, tak hanya mereka, Azka dan sabilah, mutiara dan dr.hendri juga datang menjenguk, kini mereka semua kumpul.
Mereka semua sangat bahagia karena Nafisah dalam keadaan baik dan sehat,dan kandungan nya juga sehat, mereka sangat bersyukur bisa berkumpul dengan Nafisah.
"Ya Allah Naf, Alhamdulillah kamu baik baik saja Naf". Laila memeluk Nafisah erat sembari menangis, tangis bahagia karena ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya.
Begitupun dengan sabilah dan mutiara bergantian memeluk Nafisah, meskipun mereka belum lama mengenal Nafisah, tapi mereka sudah sangat dekat dengannya.
Meskipun Nafisah belum mengingat apapun,tapi ia mencoba untuk mengakrabkan diri dengan mereka. "Alhamdulillah aku baik baik saja, makasih ya kalian semua sudah peduli denganku, dan maaf aku belum bisa mengingat kalian". ucapnya sendu.
Mereka kembali memeluk Nafisah bersamaan. Alvian, Hendri, Azka dan Yusuf tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰🥰
like coment dan vote nya ya kak 😊😊