Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
44


__ADS_3

"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" baru saja bunda Sarah dan cahaya berbalik badan hendak pergi kekamar mereka, ada suara memberi salam membuat mereka berhenti dan melihat siapa yang datang.


Deg..


Deg..


Jantung cahaya langsung berdetak tak karuan saat melihat Alvian, begitupun dengan Alvian, jantung nya berasa ingin keluar dari tubuhnya.


Matanya kembali berkaca kaca melihat Nafisah, ia sangat merindukan istrinya itu.


Azka menghampiri bunda Sarah karena melihat kebingungan Dimata bunda Sarah.


"Maaf buk Sarah, sebelumnya perkenalkan saya Azka dan ini Alvian CEO A A Group. Pasti ibu tau kan?"


Bunda Sarah mengangguk, siapa yang tidak tahu dengan A A Group, termasuk perusahaan terbesar di Indonesia.Ia tidak menyangka ternyata pemimpin perusahaan itu pria yang masih sangat muda.


"Iya, ada keperluan apa yah?" Tanya nya melihat Alvian dan Azka bergantian.


"Buk Sarah, saya mencari istri saya Nafisah, dan saat ini sedang berada didepan saya." Timpal Alvian namun mata nya masih menatap Nafisah.


Bunda Sarah membolakan mata nya kaget, ia tidak menyangka ternyata cahaya adalah istri seorang pengusaha muda. Nafisah hanya diam tak mau ikut menimpali.


"Maksud bapak apa?" bunda Sarah ingin tahu lebih lanjut. " eh lebih baik kalian duduklah" sambungnya mempersilahkan.


Azka duduk dan sembari menarik Alvian agar duduk. Kini mereka duduk berhadapan dan dibatasi oleh meja, sementara Nafisah masih berdiri tak bergerak sama sekali.


"Begini buk sarah_" ucapan Alvian terhenti saat melihat tas berisi banyak susu ibu hamil di atas meja. Ia mengernyitkan dahinya menduga yang terlintas dipikirannya.


"Susu ibu hamil? Salman tadi keluar, dan sebelumnya ia membeli susu disupermarket. Apa dia yang...?" pikirannya dalam hati.


"Pak Alvian"


Alvian tersadar mendengar namanya dipanggil.


Nafisah hendak berbalik meninggalkan mereka namun dihalangi oleh Alvian.


"Sayang." Tubuh Nafisah kaku mendengar panggilan sayang dari Alvian, panggilan itu sangat lembut menyentuh hatinya. Bunda Sarah memberi isyarat pada cahaya agar ia tetap disitu.


Alvian menceritakan semua yang terjadi, mulai dari kecelakaan dan pencarian, kesedihan,kehancuran dan keputus asaan karena kehilangan sang istri, ia menceritakan dari awal hingga akhir, air matanya jatuh begitu saja saat ia bercerita.

__ADS_1


Bunda Sarah mendengar cerita Alvian pun dapat merasakan kesedihan Alvian, tanpa terasa air mata nya pun ikut jatuh menetes.


Nafisah? Ia semakin membeku mendengar cerita Alvian,tubuhnya terasa lemah,lidahnya keluh tak bisa berkata.Air matanya juga keluar tanpa permisi.


"Benarkah? dia suamiku? dan ini anak kami?" Nafisah mengelus perutnya. "tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" ucapnya lirih didalam hati.


"Sayang" Alvian berdiri hendak menghampiri Nafisah, namun Nafisah menengadahkan tangan nya pertanda ia tidak ingin didekati.


"Sayang, ini mas, suami kamu." namun Nafisah masih diam.


"Emm..maaf pak, apa ada bukti akurat bahwa cahaya ini istri pak Alvian?


"Bukti? Bukti bagaimana yang ibu maksud?" tanya alvian.


Azka mengeluarkan amplop coklat dan memberikannya pada Bu Sarah, ia sudah menduga hal ini akan terjadi, jadi ia siapkan semua foto foto Alvian dan Nafisah sebagai buktinya.


Bunda Sarah membuka amplop coklat itu dan melihat foto foto Nafisah bersama alvian dan juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Sayang, ini foto waktu kita menikah", Alvian menunjuk sebuah foto pernikahan mereka, dan menunjukkan foto foto lain dan menjelaskan kenangannya, Nafisah melihat foto itu satu persatu,seketika membuat Nafisah menjatuhkan air matanya.


"M..ma..maaf. aku keatas dulu" Nafisah berdiri hendak pergi namun Alvian menggenggam tangan Nafisah dan langsung ditepis oleh Nafisah.


"Sayang. apa kamu gak percaya? sungguh kamu Nafisah nya mas, istri mas, mas sangat merindukanmu sayang,mas juga merindukan calon anak kita." ucapnya lirih.


"Tanpa perduli ucapan Alvian, Nafisah melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka yang ada diruang tamu.


"I LOVE YOU " teriak Alvian hingga membuat Nafisah berhenti seketika, ia berdiri seperti patung, hatinya bergetar mendengar kata cinta.


"Aku mencintaimu Nafisah , sangat, sangat mencintaimu." Alvian berjalan menghampiri Nafisah.


"Jika kamu tidak mengingat mas, cukup rasakan saja sayang, bagaimana perasaanmu?rasakan hatimu saat dekat dengan mas, tanya hatimu." Al Ian semakin mendekat dengan Nafisah bahkan ia berdiri tepat dibelakang Nafisah.


"Mas punya bukti lainnya, dan hanya mas yang tahu di dirimu, ada tanda lahir bentuk bulan sabit dibawah dada kirimu" bisik Alvian.


Mata Nafisah langsung membola mendengar kata rahasia Alvian, wajahnya seketika memerah merasa malu. Dengan cepat ia berjalan menaiki tangga tidak memperdulikan panggilan Alvian.


"Pak Alvian, biarkan dulu cahaya menjernihkan pikirannya, tidak mudah untuk menerima dalam keadaannya seperti ini. Saya akan membicarakannya dengan cahaya nanti." bunda Sarah memberi saran.


"Terima kasih Bu Sarah, terima kasih ibu sudah menolong istri saya, saya sangat berhutang Budi dengan Bu Sarah." ucap Alvian sendu.


**

__ADS_1


Bunda Sarah memasuki kamar Nafisah setelah Alvian dan Azka pulang, ia ingin memberi pengertian dan nasihat pada Nafisah.


"Cahaya, sayang." Bunda Rosa menghampiri Nafisah yang duduk diatas sajadah menekuk lututnya dan menangis.


Nafisah sehabis sholat Maghrib masih duduk diatas sajadahnya meminta petunjuk pada Allah, apa langkah yang harus dia ambil, apakah ia akan ikut pria yang mengaku sebagai suaminya atau tetap bersama bunda sarah. Ia menangis merasa kacau.


"Sayang." bunda Sarah memeluk Nafisah, dan tangis Nafisah pun semakin kencang. Bunda Sarah menepuk punggung Nafisah agar ia tenang, dan tangisnya pun sudah reda.


"Apa yang membuatmu bersedih?" bunda Sarah merenggangkan pelukannya dan menatap Nafisah.


"Gak tau Bun, " Nafisah menggeleng.


"Jangan sedih lagi, kamu sudah menemukan keluargamu nak!"


"Tapi aku belum mengingatnya bund, aku takut."


"Hey, lihat bunda?" Bunda Sarah menatap Nafisah.


"Apa yang kamu rasakan saat melihatnya?" bunda Sarah menyentuh da**a Nafisah dengan telunjuknya.


"Entahlah bund, entah kenapa aku merasa dia tidak asing bund, jantungku berdebar tidak karuan jika dekatnya, aku merasa tenang, ada rasa rindu walaupun dia ada di depanku." ucap Nafisah pelan.


"Sayang, walaupun kamu kehilangan ingatan kamu, tapi tidak hatimu nak, hatimu akan tetap bisa merasakan cinta, sayang, rindu dengan orang orang yang kamu cintai walaupun kamu tidak mengingat mereka."


"Lalu aku harus bagaimana bund?"


"Kembalilah nak, Keluargamu menunggumu. Kasihan mereka yang terus bersedih. Mereka telah lama menanti mu"


"T..tapi Bun, bagaimana dengan bunda?"


Bunda Sarah tersenyum. "Kamu tetap putri bunda, bunda akan tetap jadi bundamu walaupun nanti ingatan kamu sudah kembali, kamu tetaplah putri bunda.


Nafisah kembali memeluk bunda Sarah. Hatinya menjadi lega setelah berbicara dengan bunda Sarah.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya yah🥰 agar aku jadi semangat buat nulis🙏😊🥰


__ADS_2