
"Cahaya?, tapi kenapa hati ku mengatakan dia adalah Nafisah ku. Matanya, suaranya, kalau Nafisah kenapa ia tidak mengenaliku? aaaahh" Alvian memukul stir kesal.
"Aku akan cari tau, iya." Alvian menganggukkan kepala sembari menjalankan mobilnya.
Dirumah keluarga atmaja
Alvian memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, ia keluar mobil dan memasuki pintu utama rumah. "Assalamualaikum pa" Alvian menyalim papa nya.
"Baru saja papa mau hubungi kami Al, ada berita tentang Nafisah."
"Benarkah pa? bagaimana? Alvian sangat antusias
"Warga ada melihat seorang wanita yang hanyut disungai dan mereka membawanya kerumah sakit X"
"Benarkah pa?" Al akan cari tau informasinya dirumah sakit itu. Alvian merogoh sakunya mengambil ponselnya dan menghubungi orang orangnya.
Sudah seminggu pencarian namun Alvian belum menemukan hasil, rumah sakit yang diketahui telah merawat seorang pasien yang hanyut pas hari kecelakaan Nafisah tidak membuahkan hasil, sangat sulit meminta data pribadi pasien dirumah sakit jika orang biasa mencari, namun tidak bagi orang nya Alvian dan Azka, namun seseorang yang diduga Nafisah ternyata bukan. Dia adalah seorang putri dari pengusaha garmen terbesar di Indonesia, Pemilik perusahaan itu sudah meninggal dan digantikan oleh istrinya seorang desainer terkenal.
Ponsel Alvian di nakas dekat tempat tidur terus berbunyi namun tidak diangkat oleh Alvian karena ia terus terusan memuntahkan isi perutnya dikamar mandi.
Huek..Huek..
Alvian menyapu keringat diwajahnya, badannya lemas jika sudah muntah muntah seperti ini. Dengan lemah Ia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan berbaring lagi ditempat tidurnya. Ia meraba ponselnya dan melihat, ada banyak panggilan dari Azka.
"Azka, ada apa yah?" gumamnya dalam hati sembari menelpon kembali nomor Azka. Hanya dengan sekali panggilan Azka langsung menjawab.
"Assalamualaikum Ka, ada apa?" tanya nya langsung.
"Gue ada berita tentang penting tentang Bu sarah pengusaha garmen itu, sebaik ya kita ketemu, gue tunggu di tempat biasa."
"Oke gue kesana." Alvian mematikan ponselnya.
"Ya Allah, mudah mudahan kabar baik.Semofabsaja kami dapat titik terang keberadaan Nafisah." Doanya dalam hati.
__ADS_1
Dengan tubuh yang lemah ia paksakan untuk bertemu Azka, ia meminta pak Asep untuk mengantarnya kerena kondisinya tidak memungkinkan untuk menyetir sendiri.
"Bapak pulang saja, nanti saya bareng azka saja." Ucapnya sebelum keluar mobil.
"Baik pak"
Alvian membuka pintu mobil, keluar dan melangkahkan kakinya dengan lemah menuju dimana Azka berada.
"Lemes banget, habis muntah lagi?" tanya Azka tersenyum melihat Alvian sudah didepannya.
Alvian menarik kursi dan duduk tanpa menjawab pertanyaan Azka.
"Bagaimana? apa berita yang lho dapat?" Tanya nya dengan suara lemah.
"Pffffhhht...." Azka tertawa kecil. "Lebih baik lho makan dulu, agar bertenaga lagi saat lho bertemu Nafisah nanti."
Alvian mengernyitkan dahinya. "Cepat katakan, apa yang lho tau."
"Lho makan dulu,ni gue Uda pesankan buat lho. Habis itu baru gue kasih tau." ucapnya kemudian ia berbisik " ini sangat akurat".
"Sudah, gue gak bisa ngabisin nya." Alvian mendorong piring nya kedepan.
Azka tersenyum melihat Alvian.
"Bu Sarah adalah seorang desainer terkenal dikota ini bahkan seluruh Indonesia, suaminya Deny jayakusumo adalah seorang pengusaha garmen. Mereka hanya memiliki seorang putri bernama Tiara Putri jayakusumo."
Alvian memotong ucapan Azka, "Ya terus informasinya tentang Nafisah apa?" tanyanya kesal.
"Jangan potong ucapan gue bisa gak? belom selesai juga." Jawab Azka tak kalah kesal.
"Oke, lanjutkan. "
"Mereka pernah mengalami kecelakaan tuk h tahun lalu yang menyebabkan Deny dan putrinya meninggal." jelasnya azka membuat Alvian kaget dan melebarkan matanya.
__ADS_1
"Tidak banyak yang tahu tentang kecelakaan itu, dan berita nya juga diredam karena tidak ingin banyak orang yang tahu kalau Deny meninggal, takut perusahaannya goyah, dan Bu Sarah yang melanjutkan bisnis suaminya."
"Jadi, wanita yang disebut sebagai putrinya bukan putrinya?" tanya Alvian yakin.
"Ya, Bu Sarah menemukan wanita itu hanyut disungai kemudian membawanya kerumah sakit,karena tidak ada identitas buk Sarah memberikan identitas putrinya pada pihak rumah sakit. Ada kemungkinan itu adalah Nafisah." Jelasnya panjang lebar.
Deg... Jantung Alvian berdebar seketika mendengar nama Nafisah.
" Dan bagaimana kondisinya dirumah sakit? dan bagaimana dengan kandungannya? .
"Pasca kecelakaan dia mengalami koma selama empat hari, dan kandungannya selamat".
Deg...Hati Alvian sangat perih mendengar Nafisah koma melewati masa masa kritis antara hidup dan mati, tapi ia tidak ada disisinya. Ia juga senang tahu kalo anak dalam kandungan Nafisah selamat.
"Alhamdulillah" Alvian mengusap wajahnya. "Tapi kenapa dia tidak mengenaliku?" tanya nya dalam hati.
"Apa ada yang lho lewatkan?"
"Oh iya satu lagi, Nafisah hilang ingatan."
Duar... Alvian sangat kaget mendengar berita ini.
Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Haru, sedih, bahagia bercampur jadi satu, Ia bahagia karena istri dan calon anaknya selamat, tapi ia juga sedih Nafisah hilang ingatan dan melupakan ia.
"Terima kasih Ka, lho selalu bisa gue andalkan. Gue sangat berhutang sama lho." ucapnya dengan mata berkaca kaca.
"Iya, dan hutang lho mungkin nilainya lebih besar dari harga perusahaan lho." jawab Azka terkekeh.
"Hahahha..." Alvian hanya tertawa mendengarnya.
"Gue senang, akhirnya lho bisa tertawa kembali Al, gue ikhlas ngebantu lho." ucap Azka dalam hati.
"Bagaimana? kita susul Nafisah?" tanya Azka menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Iya, ayo!" Alvian sangat semangat ingin bertemu istri tercinta nya Nafisah.