
Nafisah terbangun dari tidurnya saat azan subuh berkumandang, ia bergegas kekamar mandi membersihkan diri dan berwudhu', setelah itu ia lanjut melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim sholat subuh,dan dilanjutkan dengan membaca Alquran.
Setelah selesai ia turun kedapur untuk membantu bik siah dan mama rosa membuat sarapan.
"Sayang, kok turun? Istirahat saja lagi, nanti mama panggil buat sarapan." ucap mama rosa.
Nafisah benar benar merasa tidak enak hati jika ia terus dikamar dan tidak membantu.
"Gak apa ma, biar aku bangun yah!" pintanya.
Mama rosa tersenyum dan membiarkan Nafisah membantunya dan bik siah, mereka bertiga menyiapkan sarapan pagi sembari dengan obrolan ringan dan sesekali tertawa oleh candaan mereka.
"Akhirnya selesai!" Mama rosa mengusapkan kedua telapak tangannya selesai meletakkan makanan dimeja makan.
"Sayang, kamu panggil suami kamu yah!"
Nafisah menoleh, ia masih merasa canggung mendengar kata suami.
"I..iya ma." Ia langsung pergi menaiki tangga menuju kamar Alvian. Sesuai permintaannya kemarin, Ia dan Alvian tinggal dikamar yang berbeda, Nafisah menempati kamar mereka sedangkan Alvian dikamar tamu.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum"
Nafisah mengetuk pintu kamar Alvian tapi tidak ada jawaban, Ia menarik handle pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci. Ia membuka sedikit pintu dan mengintip sembari memanggil Alvian tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia beranikan diri masuk dan ia menilik sekeliling kamar tapi tetap tidak ada Alvian.
"Kemana perginya dia?" Tanya nya dalam hati.
Terdengar sayup sayup suara didalam kamar mandi, tapi suara itu tidak jelas karena pintu kamar mandi tertutup.
"Ternyata dia dikamar mandi. Tapi dia sedang apa? kalo didengar seperti suara orang muntah!" Monolognya dalam hati. Baru saja selesai ia bicara, pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan alvian keluar kamar mandi, namun Alvian dalam keadaan lemah, jalannya sempoyongan.
"Sayang". Alvian berjalan mendekati Nafisah.
"Eh, ma..maaf mas,masuk kamar mas tanpa izin. A..aku disuruh mama jemput mas buat sarapan." ucapnya ragu, ia menunduk tidak berani menatap alvian.
" Mas tidak bisa turun sayang, badan mas sangat lemas." ucapnya sembari berbaring ketempat tidur. Nafisah langsung menoleh.
"Mas kenapa? Mas sakit?" tanya nya yang tampak khawatir, entah kenapa hatinya merasa sangat khawatir melihat Alvian yang berbaring lemah.
__ADS_1
"Mas tidak sakit sayang, mas hanya mengalami morning sicknes." jawabnya tersenyum, walaupun wajahnya sedikit pucat, namun senyumnya Alvian sangat manis dimata Nafisah.
"Manis banget", ucapnya dalam hati. "Astaghfirullah, apa yang aku fikirkan". Nafisah menggeleng menghilangkan pikiran nya yang terpesona oleh Alvian.
"Sayang, bisakah_" ucapannya terhenti karena merasa perutnya bergejolak, dengan langkah yang gontai ia pergi kekamar mandi menumpahkan semua isi perutnya.
'Huek...huek... Alvian hanya memuntahkan cairan kuning karena sudah terkuras isi perutnya saat muntah muntah tadi.
Nafisah menyusul Alvian kekamar mandi, ia merasa kasihan melihat Alvian yang terus menerus muntah. Ia hendak menggosok punggung Alvian namun ia urungkan.
Merasa sudah tidak ada yang dimuntahkannya lagi, Alvian berjalan keluar kamar mandi dan membaringkan tubuhnya lagi ketempat tidur.
"Naf ambilkan air hangat ya mas" tanyanya dan Alvian hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan cepat ia pergi kedapur untuk mengambil air hangat.
"Mana suamimu sayang?" tanya mama rosa saat Nafisah sampai kedapur.
as Al nya masih dikamar ma, ia muntah muntah dari tadi " jelasnya. Ia mengambil air hangat dan beberapa lembar roti yang sudah ia olesi selai, ia taruh di piring.
"Al mana nak?" tanya kakek yang baru saja datang.
"Kakek! Mas Al nya dikamar kek, tidak enak badan. ini aku bawakan sarapan untuknya."
"Iya kek. Apa sebelumnya mas Al juga muntah muntah begitu ma?" tanya Nafisah heran saat kakek bertanya.
"Iya nak! Al mengalami morning sicknes."
"morning sicknes? bukankah morning sicknes dialami wanita hamil ya ma?" tanya nya bingung.
"Kak Al memang lagi hamil kak", celetuk Safira menyambung. Nafisah merasa bingung tidak paham.
"Alvian mengalami kehamilan simpatik nak, dimana seorang suami yang mengalami morning sicknes saat istri sedang hamil." jelas mama rosa.
"Naf keatas dulu ya ma, pa, kek! pamit Nafisah dan pergi meninggalkan mereka diruang makan. Ia masuk kekamar dan melihat Alvian masih berbaring memejamkan matanya. Wajahnya nampak pucat menambah rasa sedih dihati Nafisah.
"Mas! minum dulu." Nafisah meletakkan nampan diatas nakas.
Alvian membuka matanya dan bangun bersandar di headboard tempat tidur, dan meneguk air hangat itu hingga setengah.
"Sayang, mas mas mau disuapin ya!" pintanya tersenyum.
__ADS_1
"Ha? Nafisah kaget mendengar permintaan Alvian, awalnya ia menolak namun Alvian merengek seperti anak kecil, akhirnya Nafisah bersedia menyuapi Alvian.
Alvian memakan roti setiap yang masuk kedalam mulutnya. Ia memakannya sambil menatap mata Nafisah, hingga tanpa terasa roti itu habis dimakan Alvian.
Nafisah merasa malu diliatin terus oleh Alvian, darahnya berdesir setiap ia menyuapkan roti kedalam mulut Alvian. jantungnya sedari tadi berdetak kencang tak karuan.
Nafisah hendak berdiri membawa nampan kedapur namun lengannya ditahan oleh Alvian hingga ia kembali duduk didekat Alvian.
"Sayang, bolehkah mas menyentuh perutmu?"
"Ha?" Tanya nya tidak paham.
"Mas mau menyapa anak mas", ucap Alvian sendu.
Nafisah hanya diam tidak menjawab membuat Alvian tersenyum perih. Ia paksakan tersenyum dihadapan Nafisah. "Gak apa, mas tidak akan menyentuh jika kamu tidak mengizinkan." ucapnya karena Nafisah tidak menjawab.
"Eh, si..silahkan, jika mas mau menyapa anak mas." ucapnya terbata menunduk tanpa melihat Alvian.
"Be.benarkah?" tanya Alvian ingin mastikan apa yang ia dengar.
Nafisah hanya mengangguk. Melihat Nafisah mengangguk, dengan hati gembira ia mengulurkan tangannya menyentuh perut Nafisah yang sudah terasa membuncit. Hatinya bergetar saat menyentuh perut Nafisah. Ini pertama kali ia merasakan kehadiran darah dagingnya di perut istrinya. Air matanya menetes tanpa perintah, air mata bahagia karena ia dapat merasakan kehadirannya.
Nafisah menggigit bibir bawahnya, darahnya berdesir kala Alvian menyentuh perutnya, hatinya sungguh tersentuh, ada rasa kebahagiaan yang muncul saat tangan Alvian menyentuh dan mengelus perutnya.
"Sayang, ini papa sayang, kamu bisa merasakannya kan? sehat sehat disana ya nak, papa sangat menyangimu." ucap Alvian tersenyum bahagia, kemudian ia mendekatkan wajahnya dan mencium perut Nafisah. Ia mencium dengan penuh rasa sayang.
Nafisah memejamkan matanya saat Alvian mencium perutnya. "Ya Allah, kembalikanlah kebahagiaannya ya Allah" dia Nafisah dalam hati. Ia ingin melihat Alvian terus tersenyum dan bahagia seperti saat ini.
.
.
Bersambung.
Nantikan kelanjutannya ya😊
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya kakak🥰🥰
Like, coment dan vote nya🥰 dukungan kalian sangat membantu agar aku bisa bersemangat dalam menulis.
__ADS_1