
Endru menarik tangan Safira menuju motornya.
"Safira pulang bareng gue, kalian pulanglah" Endru memberikan helm pada Safira.
"What?" kaget Tomi dan sila.
"Fir, maksudnya?" tanya sila.
"Gak apa, kalian pulanglah duluan, gue bareng Enduro si pelumas motor aja." Ucap ya sembari memakai helm dan naik kemotor Endru.
Tomi dan sila saling pandang tak mengerti. "Apa yang dikatain tu orang pada Fira?" tanya Tomi penasaran.
"Tauuu.... Besok aja kita tanya Fira nya, sekarang ayo pulang."
**
"Apa maksud lho minta gue jadi pacar lho?" teriak Fira dekat telinga Endru karena deru angin.
"Maksud? karena gue suka lho la."
"Suka? hehehe...Bulshitt."
"Btw hebat juga lho ngancurin motor gua ya!," Endru tertawa mengingat motornya yang dimutilasi oleh Fira hingga tak berbentuk.
"Itu peringatan buat lho, jangan main main sama gue."
" Dengan senang hati gue terima."
"Resek lho." Fira memukul bahu endru.
"Pegangan dong fir, ntar kamu jatoh."
"Pegang pegang, enak aja lho" senggut Fira.
Endru menyunggingkan bibirnya tersenyum, ia menarik gas motornya hingga membuat Safira kaget sembari memegang pundak Endru.
"Lho mau bunuh gue?"
"Makanya pegangan"
Bukannya Fira pegangan Mala memberi cubitan pada pinggang Endru.
"Aduh fir, aduh, sakittt.." keluh Endru.
"Makanya jangan ngebut, pelan gak lho."
"iya, iya", motor Endru sedikit goyang akibat ulah Fira, belum sempat memelankan motor namun.
"Aaaaaaa..." teriak seseorang.
Endru kaget langsung ngerem mendadak hingga Safira terjengkit keatas.
Ciiiiit....
"Astaghfirullah, nabrak orang kan lho." Safira dan endru langsung turun dari motor menghampiri wanita itu, wanita itu tersungkur diaspal, untung saja Endru hanya menyenggol tas wanita itu.
"Mbak, Mbak gak papa kan?" Fira berjongkok dihadapan wanita itu.
Deg...
Jantung nya berdetak kuat saat melihat wajah dibalik cadar wanita itu yang sempat terbuka.
"Gak papa dek." ucapnya sembari cepat memasang niqabnya takut terlihat Endru.
"K..kak Naf." panggilnya namun tak direspon.
"Mbak, maafi saya ya, saya benar benar gak sengaja." ucap Endru.
"Iya gak papa dek, lagian mbak gak ada yang luka kok, lain kali hati hati naik motor, jangan ngebut."
"Iya mbak, sekali lagi saya minta maaf." ucap Endru sesal. Safira hanya terdiam mematung menatap wanita yang ada didepannya.
"Ini benaran kak Naf gak sih? kok dia gak ngenalin gue." batinnya.
__ADS_1
"Mbak mau kemana nih? biar kita antar." Endru menawarkan.
"Gak perlu repot dek, mbak mau kebutik itu," tunjuk nya kebutik pakaian. "ya sudah, mbak tinggal dulu yah." Nafisah jalan agak jingklek karena kakinya yang sakit, entah terkilir atau apalah.
"Hey, kenapa bengong?" tanya Endru.
"Gak kok, siapa bengong, gue cuma liat tu mbaknya sampai dengan selamat."
"Itu karena lho cubitin gue"
"Karena lho ngebut ngebut dijalan, syukur aja tu mbaknya gak papa."
"Yok naik." Endru menghidupkan mesin motornya.
"Jangan ngebut lagi lho, kalo lho ngebut gue bakal loncat"
"iya bawel." Endru melajukan motornya kembali namun ia tidak berani lagi ngebut, takut nabrak karena ulah Fira, motornya terus melaju hingga memasuki komplek rumah Fira.
"Stop, stop, stop" Fira memukul bahu Endru.
"Kenapa?"
"Gue turun sini."
" kenapa gak sampe rumahmu?"
"Gila lho nganterin Ampe rumah? Bisa dibunuh gue sama papa jika tahu gue diantar cowok."
"Bisa takut juga lho, kirain kebal." Endru tertawa.
"Resek lho, sudah sana pulang lho." usir nya.
Fira hanya berjalan sedikit agar sampai rumah, ia memasuki pagar rumahnya. Keningnya mengkerut melihat mobil kakaknya.
"Kakak udah pulang? kebetulan banget, gue mau kasih kabar kekakak." gumamnya sembari berjalan memasuki rumah.
"Assalamualaikum..." ucapnya memasuki rumah.
"Mah, kakak mana?"
"Ada dikamarnya."
Fira langsung berlari menaiki tangga dan masuk kamar Alvian.
"Kak" nafasnya terengah karena berlari menaiki tangga.
"Hmm.."
"Ada kabar bagus buat kakak?" Safira me gambil posisi duduk dikursi panjang dekat tv.
"Apa?
"tapi kakak harus tambah uang jajan ku yah!"
"Ck.. gak ada, keluar sana."
"Yakin kakak gak mau dengar?"
"Gak"
"Ini soal kak Nafisah."bibirnya tersenyum miring melihat Alvian langsung menoleh.
"Cepet katakan?"
"Gak, kakak tambah dulu uang jajanku."
"Iya, iya, Alvian langsung mengambil ponselnya dan mengetik beberapa digit nomor
Tling, notif ponsel Fira berbunyi, ia melihat ponselnya masuk laporan pengiriman. Matanya berbinar melihat nya.
"Cepet katakan?" ucapnya menanti kabar yang akan diberi Safira.
"Tadi Fira pas pulang sekolah gak sengaja nyenggol seorang wanita, dan pas Fira mau tolongin ternyata orang itu kak Nafisah,
__ADS_1
Deg... jantung Alvian langsung berdebar mendengar nama Nafisah.
"Eh, lebih tepatnya mirip Kaka Nafisah." sambung Fira.
"Benarkah? dimana kamu liat?"
"Gak yakin juga sih kak, karena dia gak ngenalin Fira, mungkin saja cuma mirip."
"Dimana? dimana kamu melihatnya?" Alvian sangat semangat.
Safira memberi tahu nama butik yang dimasuki oleh Nafisah, Alvian langsung menyambar kunci mobilnya dan beranjak ingin pergi.
"Makasih dek" Alvian mengacak rambut Fira dan langsung keluar kamar.
"Mau kemana Al?" teriak mama rosa melihat Alvian berlari menuruni tangga.
"Ketemu Nafisah ma, assalamualaikum 🙏" ucapnya berlari keluar rumah.
"Jemput Nafisah?" gumam mama rosa.
"Alvian melajukan mobilnya menuju butik yang Safira sampaikan dan kini ia memarkirkan mobilnya didepan butik. Ia memasuki butik itu dan menyisir setiap sudut mencari Nafisah namun tidak menemukan, hanya ada karyawan butik itu.
"Ada yang bisa dibantu pak? tanya seorang pelayan.
"Eh, iya saya mau liat liat dulu." ucapnya sembari mata nya terus meneliti dan menelisik setiap sudut.
"Dimana kamu Naf" gumamnya dalam hati.
"Mbak via, saya tinggal dulu yah, besok saya datang lagi."
Deg..
suara itu membuat jantung Alvian bertabuh sangat cepat, ia menoleh, matanya berkaca kaca melihat cahaha. Ia melihat mata itu, mata yang sangat ia kenal dan rindukan.
"Iya mbak." ucap via.
"Tunggu Naf", Alvian menghalangi cahaya.
Cahaya melirik kekiri dan kekanan merasa bingung.
"Maaf mas, mas manggil saya? tanyanya menunjuk diri sendiri.
"Na..naf.nafisah.. Ucapnya terbata.
"Nafisah? maaf mas, nama saya cahaya, bukan Nafisah."
"Cahaya?" beo Alvian.
"Iya, maaf ya mas, saya harus pergi." ucapnya sembari membuka pintu.
Alvian hanya menatap kepergian cahaya.
"Maaf mbak, tadi itu siapa yah?" tanya nya pada karyawan bernama via.
"Itu mbak cahaya Pak, anak buk Sarah pemilik butik ini." jelasnya.
"Makasih ya mbak" Alvian langsung pergi meninggalkan butik itu.
"Cahaya?, tapi kenapa hati ku mengatakan dia adalah Nafisah ku. Matanya, suaranya, kalau Nafisah kenapa ia tidak mengenaliku? aaaahh" Alvian memukul stir kesal.
"Aku akan cari tau, iya." Alvian menganggukkan kepala sembari menjalankan mobilnya.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya🥰
like, coment dan vote nya ya 🥰🥰
Support kalian sangat aku butuhkan, makasih yang uda setia membaca cerita ku yang masih semberaut😊
__ADS_1