Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
58


__ADS_3

"lho tadi diantar kak Endru fir?" tanya sila sambil mengunyah baksonya. Fira, sila dan Tomi saat ini sedang duduk menikmati bakso dikantin sekolah.


"Gue diantar pak Ujang, papa gak ngebiarin gue tenang kali ini, gue harus diantar dan dijemput oleh pak ujang, setelahnya gak boleh lagi keluar." Fira menyayangkan nasib nya, gak bisa lagi ngumpul ngumpul bareng temannya apalagi mau balapan.


"Hmmm...nasib lho deh punya papa kiler", Tomi menimpali.


"Papa Fira bukan kiler tom, dia hanya menjaga putrinya agar tidak terjerumus pergaulan bebas, dia tidak mau putrinya rusak." timpal sila bijak.


"Wiiihhh..tumben lho bijak sil!" Fira membenarkan apa yang dikatakan sila. "Memang sih, papa gue itu sebenarnya sangat sayang sama gue,dia gak mau putri semata wayang nya ini sesat oleh teman teman somplak kek kalian." sambung nya tertawa.


"Enak aja, kita somplak juga ketularan elo kali fir, awalnya gue kan anak baik." sila tak terima.


"Iya bener tu yang sila bilang."


"Enak aja lho pada." Fira memukul bahu sila dan Tomi sambil tertawa, mereka bertiga tertawa terbahak membuat penghuni kantin memandang mereka aneh.


"Tapi fir, besok kita balapannya gimana? pusing gue mikirinnya." Tomi menggusar rambutnya, ia tidak tahu harus apa, kalau ia yang melawan pastikan ia bakalan kalah, dan mereka akan melaksanakan taruhannya sesuai kesepakatan.


"Gue pasrah aja deh, mau gimana lagi!" sila menggidikkan bahunya.


"Gue punya rencana", ucap Fira dan langsung sila dan Tomi menatap Fira penasaran. "Besok malam lho jemput gue, gue usahakan akan keluar rumah diam diam."


"Wah, yang bener lho fir, gimana caranya?" timpal Tomi.


"Kalian tunggu gue dipagar belakang,gue akan keluar dari sana."


"Pagar belakang lho kan tinggi fir, lho gila mau lompat pagar setinggi itu."


"Kalian tenang saja, itu mah kecil buat gue." Fira menjentikkan jarinya.

__ADS_1


"Kalo ketahuan papa lho gimana fir? bisa di sembelih lho."


"Gak akan, papa gue lagi keluar kota bareng mama."


Mereka bertiga terus berdiskusi soal balapan besok dan berhenti kala mendengar bel pelajaran sudah berbunyi. Mereka kembali kelasnya dan mengikuti pembelajaran.


**


Usai makan siang lebih tepatnya makan sore Alvian dan Azka kembali kekantor. Mereka melewatkan makan siang karena banyak nya kerjaan dan ditambah ada pertemuan dengan para client.


"Ahh..lelahnya" Alvian duduk disofa yang ada diruangan ya sambil meregangkan ototnya agar sedikit lebih lega, Azka juga menyusul duduk dihadapan Alvian dengan jarak meja sebagai pembatasnya.


"Bagaimana keadaan Nafisah dan kandungannya?" tanya Azka.


"Alhamdulillah sangat baik, hari ini dia bahkan sudah mengajar lagi."


"Uda gak mabok lagi kan?"


"Gimana perasaan lho sebentar lagi mau jadi papa?"


Alvian hanya tersenyum, ia tidak bisa menjabarkan betapa ia sangat bahagia. Bahagia melihat istri dan calon anaknya sehat, apalagi kemarin ia melihat bayi nya dan mendengar detak jantung nya, ia sangat tidak sabar menunggu hari kelahiran anaknya.


"Lho waktu istri lho hamil, apa yang dirasakan istri lho ka? ntah ngidam atau apa lah gitu.?" bukannya menjawab Alvian malah bertanya balik.


"Istri gue hamil anteng aja kok, dia seperti biasa tidak seperti wanita hamil lainnya, gak ada morning sicknes, kalau ngidam ada sih, sebelum didapat apa yang dia mau dia bakalan jutek sama gue, bahkan pernah nangis."


"Benarkah?" Azka mengangguk membenarkan.


"Untung istri gue gak ada ngidam" ucap Alvian bangga. Ia gak kebayang saja jika istrinya ngidam, apalagi yang aneh aneh, tak mungkin jika gak dituruti ngidam wanita hamil,pikirnya.

__ADS_1


"Mungkin belum saja, nanti lho bakal merasakan, muda mudahan Nafisah nanti ngidamnya yang aneh aneh biar pusing lho." Azka tertawa mengejek Alvian.


"Eits, jangan ngedoain juga lu dodol." Alvian melempar Azka dengan kertas. Azka tertawa semakin kencang dan tawa nya kemudian redup dan terhenti saat ponselnya berdering.


Ia mengambil ponsel nya di saku celananya dan mengangkat panggilannya. Matanya seketika membola mendengar kabar dari seberang telpon.


"Ada apa?" tanya Alvian yang melihat perubahan di wajah Azka.


"Aluna kabur".


"Apa?" Alvian sangat kaget mendengarnya sekaligus marah,kenapa bisa Aluna melarikan diri.


"Iya, dia kabur dari semalam, mereka tidak melapor karena mereka pikir bisa menemukannya kembali." Jelas Azka.


Azka kembali menelpon anak buahnya dan mengerahkan semua untuk mencari Aluna kembali.


Saat lagi serius bicara dengan Azka, ponsel Alvian berdering, melihat nama pak Ujang memanggil segera ia angkat panggilan itu.


"Yah pak Ujang"


"Apa?"


Alvian langsung mematikan panggilannya dan bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" Azka bertanya.


"Nafisah diculik" jawabnya sembari berjalan mengambil kunci mobil di mejanya, dan segera ia berlari keluar. Azka yang juga kaget ikut berlari menyusul Alvian.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2