
Sekitar lima belas menit Alvian sampai dikantor polisi, dan betapa kagetnya ia melihat Safira dan teman temannya disana.
"Fira"
"Kak Al!" kaget Safira melihat sang kakak ada disini. "Kok kakak bisa disini?" tanya nya penasaran, padahal ia tidak memberitahu kakaknya, matanya lansung menatap Tomi,
"Heheh...maaf fir, gue gak tau mau hubungi siapa, mau nelpon papa gue takut." terang Tomi membuat Fira menghela nafas kesal.
"Apa yang terjadi pak?" tanya Alvian pada polisi itu, polisipun menceritakan semua yang terjadi kalau mereka kena razia sedang balapan liar.
Alvian menatap Fira geram, ia sangat marah pada adiknya ini. Setelah menjamin Fira beserta teman temannya Alvian membawa Fira pulang, dan sebelumnya Alvian mengantar sila dan Tomi duluan.
Endru? dia pulang sendiri,sebelumnya Alvian sangat marah pada Endru, bukannya menjadi teman yang baik untuk Safira serta menjauhkan Safira dari sifat buruk seoerti ini, Mala dia juga ikut liar nya. Alvian tidak bisa membiarkan ini, dia menegaskan pada Endru untuk tidak lagi mendekati Safira.
"Masuk." titah Alvian dengan suara datar dan dingin.
Tak mau membantah Safira hanya mengikuti perintah kakaknya, dan alangkah kaget nya Safira saat memasuki rumah, sang papa dan mama nya sedang duduk menunggu kepulangannya.
"Papa? mampus gue." ucapnya dalam hati sambil menggigit bibirnya takut. Mata papa begitu tajam menyorot Safira, Fira merasa seperti pasokan oksigen kurang hingga ia susah bernafas melihat papa nya seperti ingin memakannya hidup hidup.
Mendapat kabar kalau Safira ditahan dikantor polisi membuat papa dan mama nya langsung terbang menggunakan jet pribadinya pulang.Ia diminta Alvian untuk menunggu saja dirumah.
Dengan hati yang gemetar Fira duduk didepan papa mama nya yang dibatasi meja. Sedangkan Alvian duduk disamping Nafisah. Hening beberapa saat membuat suasana seperti sedang dalam rumah hantu, bergidik ngeri.
"Papa tidak tau lagi harus bagaimana menyikapi kamu Fira, kamu sungguh membuatku pusing. Kali ini tidak ada toleransi lagi bagimu." Safira yang mendengar hanya menunduk sambil memilin ujung bajunya.
"Kamu akan papa antarkan ke pesantren besok." ucap papa dengan lantang dan tegas.
Deg.. Hati safirah bergemuruh seketika.
"Tapi pa?"
"Tidak ada tapi tapian." ucap papa sembari beranjak meninggalkan mereka semua. Papa pergi dengan hati kecewa dan marah.
"Ma, Fira gak mau masuk pesantren ma." Fira menggoyangkan lengan mama nya mencoba meminta bantuan pada sang mama.
"Maaf Fira, mama gak bisa bantu kali ini. Papa mu benar, kamu harus masuk pesantren agar kelakuan kamu bisa berubah." Mama kemudian pergi menyusul papa.
Safira kemudian beralih memandang Alvian dan nafisah, berharap sang kakak bisa membantunya, namun Alvian berucap sebelum Safira berucap.
"Jangan harap kakak membantumu, Kamu harus bisa bertanggung jawab atas kesalahan kamu sendiri." Alvian kemudian membawa istri nya pergi meninggalkan Safira sendirian diruangan itu.
**
__ADS_1
Papa berdiri di balkon kamarnya menghirup udara malam dengan angin yang menepis kulitnya. Ia begitu khawatir dengan putri nya yang kelakuannya tidak bisa terkontrol.
"Pa" mama mengusap lengan suaminya.
"Ma" Lirinhya sembari berbalik menghadap sang istri. "Papa merasa gagal menjadi ayah yang baik untuk Fira, ayah gagal mendidik putri kita. Selama ini papa selalu sibuk dengan hal papa sendiri, tanpa perduli dengan pendidikan dan akhlak Fira.
"ini bukan salah papa, mama yang salah, seharusnya mama bisa mendidik Fira menjadi anak baik, dan tidak bandel seperti ini". Sesal mama rosa. Papa langsung memeluk mama, mereka merasa bersalah telah salah mendidik Safira.
"Mas," Nafisah menghampiri Alvian yang diam merenung diatas tempat tidur. Mendengar namanya dipanggil menyadarkan ia dari lamunannya.
"Tidak apa sayang, kamu istirahatlah.Hari sudah larut." Alvian menarik selimut dan menyelimuti Nafisah, "Tidurlah" ucapnya sembari mengecup kening Nafisah.
**
Safira menggusar wajahnya kasar, hatinya benar benar kacau saat ini, tidak tau harus apa, ia membolak balikkan badan nya kekanan dan kekiri namun matanya tetap tidak bisa tertidur, ucapan papa yang akan mengantarkannya ke pesantren besok terus saja terngiang di telinganya.
"Gue gak mau masuk pesantren", lirih nya, sedari dulu papa nya memang ingin memasukkannya pesantren, namun dengan bujukan dan rayuan nya ia bisa terbebas dari perintah itu. Tapi sekarang, ia tidak bisa mengelak lagi.
Ting..Ting..Ting..
Notif pesan di ponselnya berbunyi. Ia melihat pesan dari grup temannya yaitu sila dan Tomi.
"Lho uda tidur fir, tom?" pesan sila.
"Gimana nasib Fira yah?" (sila)
"Gue deg degan sil, takutnya sila di eksekusi sama bokap nya." ( Tomi)
"Semua gara gara lho tom, kalo Fira kenapa napa lho harus tanggung jawab, lho nikahin tu Fira." (sila)
"What? emot syok (Tomi)
Fira yang dari tadi hanya membaca pesan teman temannya mengernyitkan kening nya dengan pesan sila.
"Apa hubungannya dengan tanggung jawab dan nikahin gue?" (Fira)
"Syukur lah for, lho masih hidup." (Tomi)
"Lho kira gue dihukum pancung" ( Fira).
"Giaman keadaan lho fir?" ( sila)
"Iya fir, kakak lho gak sampai hukum lho kan?" ( Tomi)
__ADS_1
"Kak Al gak ngehukum gue, tapi papa yang hukum gue." ( Fira)
"What?"(sila), "papa lho Uda pulang?"
Emot kaget (Tomi)
"Udah, mereka langsung pulang me.dengar berita gue ditahan polisi, dan lebih parahnya lagi gue akan dikirim ke pesantren besok." ( Fira)
"What?"
"What?"
**
Matahari sudah mengambil posisi di singgasana nya, namun Safira belum juga nampak keluar dari kamarnya.
"Bangunkan sila ma" perintah papa, yang sudah duduk diruang makan bersama mama, Alvian dan Nafisah, namun Safira belum keluar. Mama rosa pergi kekamar Safira, mama membuka pintu kamar yang tak dikunci dan melihat Safira yang masih anteng dalam tidurnya.
"Safira Safira.." mama menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang tidur tenang tanpa merasa terganggu dengan peringatan papa nya kemarin.
"Safira, sayang, bangun nak!" mama menggoyangkan tubuh Safira.
"Ehmmm..." Safira menggeliat meregangkan otot otot tubuhnya. "Mama" ucapnya sambil menguap.
"Cepat bangun, papa dan yang lain sudah me.unggu diruang makan, ingat jangan buat papa mu marah lagi."
Safira pun bangun membersihkan diri kemudian menyusul keruang makan. Tanpa suara ia duduk dikursi nya dan mengambil sarapannya. Semua tidak ada yang berbicara saat itu, suasana nya sungguh sepi tidak seperti biasa yang rame oleh celotehan Fira dan Alvian. Hari ini semua masih terbawa suasana semalam.
Papa menatap Fira "Siapkan pakaian mu Fira, sore ini papa akan mengantarmu ke ponpes kyai Anwar." ucap papa sembari menyapu mulutnya dengan tisu.
Safira tidak berani menjawab, dia hanya mengangguk diam.
.
.
Bersambung.
Hallo readersππ selamat sore semoga kita semua diberi kesehatan terus dan mood baik membaca yahπ π
Jangan lupa tinggalkan jejak yahπβοΈ
Nantikan kelanjutannya yah, sebentar lagi cerita Nafisah dan alvian akan tamat ni.
__ADS_1
Happy reading ππβοΈ