Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
49


__ADS_3

Huek..Huek..Huek...


Alvian kembali menumpahkan isi perutnya, hanya ada cairan bening yang ia muntah kan karena sudah sedari tadi ia muntah.


Sudah tiga hari ini Nafisah melihat Alvian muntah muntah di pagi hari. Ia sangat kasihan melihat Alvian yang lemah tak berdaya seperti itu.


Setelah selesai menyiapkan pakaian kerja Alvian ia bergegas kedapur membuatkan air lemon untuk Alvian agar muntah nya reda.


"Ini diminum mas, agar enakan!" Nafisah memberikan segelas air lemon pada Alvian.


"Makasih sayang." Ucap Alvian dengan lemah dan meneguk air lemon nya.


"Baju mas Uda aku siapkan, aku permisi dulu!" Nafisah pergi keluar kamar Alvian.


sudah menjadi tugas Nafisah beberapa hari ini menyiapkan pakaian untuk Alvian, bukan Alvian yang memintanya tapi hati nuraninya ingin melakukan itu, dan ia juga senang bisa melakukan itu untuk Alvian.


Setelah berpakaian rapi Alvian turun untuk sarapan.


"Pagi semua" ucap Alvian sembari menarik kursinya dan duduk.


"Pagi nak!" mama rosa menjawab.


"pagi Al", kakek menimpali.


Nafisah mengambilkan sarapan untuk Alvian, " terima kasih sayang." Nafisah hanya tersenyum mengangguk. Dia juga mengambilkan untuk kakek Atmaja.


"Terima kasih nak," ucap kakek.


Mereka sarapan dengan tenang dan lahap, hanya Alvian yang kurang bernafsu makan.


"Kenapa kak? mual lagi?" tanya nya iba melihat sang kakak, ia kasihan melihat kakak nya yang terlihat kurus karena terus mabok.


Mendengar Safira, semua yang berada dimeja makan juga melihat Alvian menanti jawaban Alvian.


"Tidak, cuma gak nafsu aja makan."


"Hehee..lucu ya, kak Naf yang hamil,kak Al yang mabok." Safira tertawa mengejek Alvian. "Tapi adil sih, biar dia juga ngerasa, kalo hamil itu gak enak." sambungnya lagi.

__ADS_1


***


Alvian mengemudikan mobil nya dengan dan Nafisah duduk disampingnya. Hari ini adalah jadwal cek up kandungan nafisah, Alvian sudah mendaftarkan terlebih dahulu agar mereka tidak terlalu lama mengantri.


"Yuk sayang, kita sudah sampai" Alvian mematikan mesin mobilnya dan membuka setbelt nya, ia juga membukakan setbelt Nafisah.


"Apa mas gak papa? mas masih lemas kayaknya, biar aku masuk sendiri saja, mas istirahat saja dimobil." ucap Nafisah panjang lebar membuat Alvian tersenyum. Semenjak Nafisah kembali, ini adalah perkataan Nafisah yang paling panjang, dan Alvian sangat senang.


"Sayang, ini pertama buat mas mengantar dan mengecek keadaan kandungan kamu, mas gak mau melewatkan moment ini, mas akan tetap menemani kamu apapun itu keadaan mas."


"Sayang, Mas sangat mencintaimu"


Nafisah sungguh terharu mendengar nya, matanya berkaca kaca melihat Alvian.


Kini Alvian dan Nafisah menunggu dikursi tunggu, menunggu nomer mereka dipanggil, kebetulan nomer mereka setelah pasien yang barusan keluar. Dan setelah itu pun nomer mereka dipanggil, dan Alvian menuntun Nafisah memasuki ruangan dokter spesialis obsgyn tersebut.


"Selamat siang ibu Nafisah, silahkan duduk." dokter Zara mempersilahkan. Alvian memilih dokter perempuan untuk memeriksa Nafisah, ia tidak mau jika memeriksa Nafisah adalah dokter laki laki.


"Siang dok" jawab mereka kompak.


Dokter menanyakan apa ada keluhan dengan kehamilannya, dan Alvian mengatakan hanya ingin mengecek kandungan istrinya. Dokter Zara menyuruh Nafisah berbaring di brankar dan ia mengoleskan gel diperut Nafisah.


"Alhamdulillah, pak buk, kandungan bu Nafisah sehat, bayinya sehat, ketubannya juga bagus, dan ini sudah tujuh belas Minggu ya." Ucapnya menjelaskan hasil yang dilihat dilayar besar didepan mereka.


Dokter Zara juga mendengarkan detak jantung bayi mereka, Alvian sangat bahagia mendengarnya, mata nya berkaca kaca, tanpa ia sadari ia mengecup kening Nafisah membuat Nafisah meremang, jantung Nafisah sungguh berdegup begitu kencang, Rasa nya begitu bahagia, rasa yang begitu sangat ia rindukan, rasa yang begitu ia harapkan.


"I love you sayang". Alvian kembali mencium kening Nafisah.


Dokter Zara yang melihat interaksi pasutri didepannya tersenyum ikut bahagia.


"Apa kalian ingin melihat jenis kelaminnya?" tanya dokter Zara. Alvian dan Nafisah mengangguk, mereka juga penasaran ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka.


Dokter Zara kembali menggeser alat USG nya namun tidak terlihat, karena bayi nya menutupinya dengan tangannya.


"Hehehe.... ternyata dia malu, lihatlah bayi kalian menutupinya dengan tangannya". jelas dokter Zara tertawa.


Alvian pun ikut tertawa, sedangkan Nafisah hanya tersenyum, " Ternyata bayi kita pemalu sepertimu sayang." bisik Alvian. Nafisah hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


Setelah selesai pemeriksaan mereka berjalan hendak menuju parkiran, jalan mereka terhenti saat ada bunyi dering ponsel alvian.


"Sebentar sayang, mas angkat dulu." Alvian mengangkat ponselnya dan raut wajahnya berubah, ada kemarahan diraut wajahnya.


"Cari dia sampai ketemu, jangan biarkan dia berkeliaran dikota ini." ucapnya dan langsung mematikan ponselnya.


Alvian tidak akan membiarkan Aluna pergi begitu saja setelah apa yang ia perbuat pada istri dan calon anaknya.


Aluna pergi setelah merasa dirinya ketahuan dan terancam. sudah tiga hari ini ia tidak masuk kantor,dan ia telah pergi dari kota ini, Alvian dan Azka sedang mencarinya, ia tidak akan mengampuni Aluna dan akan memberikan hukuman atas apa yang ia perbuat.


"Ada apa mas?" Nafisah tidak tahan untuk tidak bertanya melihat raut kemarahan wajah Alvian.


"Tidak apa sayang, orang yang mencelakaimu lari, dan mas sedang mencarinya."


Nafisah tidak lagi bertanya, ia hanya diam berharap penjahatnya akan segera ditangkap.


"Mas, bagaimana jika aku tidak bisa ingat kembali selamanya? dan aku tidak akan pernah mengingat kembali kisah kita?" tanya Nafisah lirih, ia tidak berani menatap mata Alvian.


Alvian menghentikan mobilnya dipinggir jalan, ia membuka setbelt nya dan menghadap Nafisah.


"Sayang!" alvian menaikkan dagu Nafisah agar ia menatapnya, "Lihat mas!" Sambungnya dan Nafisah menatap lekat mata Alvian.


"Jika pun nanti kamu tidak akan pernah mengingat masa lalu, gak apa, kamu cukup fokus melihat masa sekarang dan masa akan datang. Mas akan berusaha membuat kamu kembali mencintai mas dan membuat kamu bahagia selalu bersama mas." Alvian menatap Nafisah dengan penuh cinta.


"I love you" sambungnya, ia bertekad mulai sekarang ia akan selalu dan terus mengucapkan kata cinta untuk Nafisah istrinya.


Nafisah terharu mendengarnya, ia melihat pancaran cinta dimata Alvian, ia berkas mulai sekarang ia tidak akan menjaga jarak lagi dengan Alvian. Alvian adalah suaminya nya,dan ia sebagai istri sudah sepatutnya memberikan cintanya pada Alvian. Ia akan berlaku selayaknya seorang istri tanpa menjaga jarak lagi.


"Makasih mas".


.


.


Maaf ya say,lama tidak update nya, ada kendala😅😅


Jangan lupa tinggalkan jejak ya semua, like coment dan vote nya🥰🥰 support kalian sangat berharga bagi ku.

__ADS_1


Nantikan kisah selanjutnya yah, karena sebentar lagi kisah Nafisah akan segera tamat lho, jangan sampai ketinggalan kisah selanjutnya🥰🥰


__ADS_2