
Nafisah menggigit bibir bawahnya, darahnya berdesir kala Alvian menyentuh perutnya, hatinya sungguh tersentuh, ada rasa kebahagiaan yang muncul saat tangan Alvian menyentuh dan mengelus perutnya.
"Sayang, ini papa sayang, kamu bisa merasakannya kan? sehat sehat disana ya nak, papa sangat menyangimu." ucap Alvian tersenyum bahagia, kemudian ia mendekatkan wajahnya dan mencium perut Nafisah. Ia mencium dengan penuh rasa sayang.
Nafisah memejamkan matanya saat Alvian mencium perutnya. "Ya Allah, kembalikanlah kebahagiaannya ya Allah" doa Nafisah dalam hati. Ia ingin melihat Alvian terus tersenyum dan bahagia seperti saat ini.
"em.mas!" Nafisah nampak ragu untuk bicara
Alvian mendongakkan wajahnya dan menjauh dari perut Nafisah.
"Hem,,Ada apa yang?" tanya nya melihat Nafisah enggan bicara.
"Emmm...Boleh aku kerumah bunda Sarah?" Nafisah menggigit bibirnya taku kalau Alvian tidak akan mengizinkannya pergi, namun ia salah. Alvian justru tersenyum dan mengangguk.
"Benarkah?"
"He'em, tapi ada syaratnya."
"Syarat? apa?" tanya Nafisah penasaran.
"Syaratnya, jika kamu bersama mas, jangan mengenakan cadar."
Nafisah menautkan alisnya mendengar syarat Alvian.
"Dan satu lagi!, kemana pun kamu pergi mas yang akan antarkan."
"Mas, a..apa bisa syarat yang pertama diganti?" pintanya.
"Kenapa? sayang, kita ini suami istri. Meskipun kamu amnesia,tapi kamu tetaplah istri mas, istri yang sangat mas cintai. Gak apa kalo kamu menolak kontak fisik tapi biarkanlah mas melihat wajahmu. Mas akan tenang dan damai jika melihat wajahmu."
Nafisah terenyuh mendengar Alvian, entah kenapa hati dan otak nya saat ini tidak sinkron, hatinya menginginkan selalu dekat dengan Alvian, namun otaknya selalu menyangkal.
"B..ba..baiklah mas." Nafisah akhirnya memilih mendengar kata hatinya, ia bersedia melepaskan hijabnya jika hanya bersama Alvian.
"Terima kasih sayang, I love you."
Deg
Jantung Nafisah sungguh tidak normal kali ini, jantungnya berpompa sangat kencang saat mendengar ungkapan cinta Alvian, hatinya seperti dihinggapi banyak kupu kupu yang berwarna, entah kenapa Kata itu seperti kata yang sangat ia nantikan.
"Mulai sekarang, mas akan selalu menyatakan cinta mas kekamu, mas gak mau gengsi lagi atas perasaan cinta mas." Ucapnya dalam hati, matanya berkaca kaca mengingat betapa Nafisah ingin mendengar ungkapan cinta nya, dan sekarang ia ungkapkan cinta itu tapi Nafisah tidak mengingatnya, apa Nafisah akan senang mendengar nya atau tidak, tapi ia akan tetap menyatakan cinta pada Nafisah.
**
"Apa kamu yakin mas mau antar aku?" tanya Nafisah ragu melihat Alvian lemas seperti itu. Ia sudah menyarankan Alvian agar ia pergi sendiri saja, ia tidak tega melihat Alvian yang lemas seperti itu mengantarnya, namun Alvian tetap kekeh mau mengantar Nafisah.
"Mas bisa, ini cuma morning sicknes yang, biasanya siang juga baik kok." Ucapnya sembari menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Sayang, kita mampir kekantor mas bentar gak apa yah?" Ada yang harus ia tanda tangani.
"He? I..iya mas."
Alvian melajukan mobilnya hingga kini mereka sudah sampai di kantornya. Alvian berjalan memasuki kantor dan diikuti oleh Nafisah berjalan bersisian dengannya.
Banyak sapaan dari karyawan menyambut bos mereka, namun Alvian hanya menyahut datar tanpa tersenyum sedikitpun.
"I..I..itu, gak mungkin! bagaimana bisa ia selamat?" gumamnya melihat Alvian dan Nafisah masuk ruangan CEO dan itu sangat jelas terdengar oleh Azka.
"Apa katamu tadi?" todong Azka.
"Saya gak bicara apapun pak, cuma mengatakan pak Alvian sangat serasi dengan istrinya." ucap Aluna berbohong.
"Saya sangat jelas mendengarnya tadi. Apa kecelakaan itu ada sangkut paut nya dengan Aluna?" Monolognya dalam hati. Ia menatap Aluna tajam. Ia menjadi curiga jika kecelakaan Nafisah Aluna terlibat didalamnya.
"Gue akan cari tau, jika kamu terlibat maka habislah kau Aluna." sambungnya menatap Aluna tajam dan ia pun menyusul Alvian.
**
"Bunda senang banget kamu datang nak". Bunda Sarah memeluk Nafisah, ia sangat senang Nafisah mau lagi datang kerumahnya, ia sangat menyayangi nafisa,dan menganggapnya putri kandungnya sendiri.
Alvian melihat kedekatan bunda Sarah dan Nafisah tersenyum bahagia, selama ini istrinya itu sangat merindukan sosok seorang ibu, dengan bunda Sarah lah ia melihat itu, bahkan dengan mama nya pun tidak semanja itu.
"Nak Al, kamu terlihat pucat, kamu sakit?" tanya bunda Sarah melihat wajah Alvian sedikit pucat.
"Masa? pucat gitu kok!" bunda Sarah menatap Nafisah menuntut kejelasan.
"Mas Al lagi mabok Bun!" jawab Nafisah namun bunda Rosa tak paham maksudnya.
"Mabok?" beo nya.
"Mas Al mengalami morning shicknes Bun", terang nya lagi dan baru bunda Sarah paham.
"Oooohhh... Bucin banget pasti nak Al nya ya, sampai rela dia yang mengalami morning sicknes" bunda Sarah terkekeh.
Nafisah malu dan wajahnya merona mendengar ucapan bunda Sarah, jika saja ia melepas niqabnya pasti mereka akan menggodanya melihat wajahnya yang merona.
"Sebaiknya nak Al istirahat saja dikamar, cepet nak bawa suami mu kekamar mu." saran bunda Sarah, Nafisah mengangguk dan membawa Alvian istirahat kedalam kamarnya selama tinggal disini.
**
Ting tong... bel rumah bunda Sarah berbunyi, bikbsadah membukakan pintu dan mempersilahkan tamu itu masuk.
"Kemana bunda Sarah bik?" tanya nya
"Buk Sarah lagi kekantor pak", jawabnya
__ADS_1
"Cahaya? saya ingin bertemu dengannya."
"Akan saya panggilkan non cahaya ya pak, diminum dulu teh nya."
Bik sadah menaiki tangga menuju kamar Nafisah,ia mengetuk pintu dan setelah memberi tahu Nafisah ia kembali lagi kebawah.
Tak selang berapa lama Nafisah turun dan menemui tamu bunda Sarah.Karena Alvian sedang tertidur jadi ia turun seorang diri.
"Pak Salman, assalamualaikum" sapa nya memberi salam.
"Waalaikumsalam cahaya, bagaimana kabarmu dan kandunganmu?"
"Alhamdulillah baik pak"
"Maaf pak, bunda nya lagi kekantor, jika bapak mau bisa langsung kekantor bunda."
"saya ingin bertemu dengan mu cahaya." ucapannya membuat Nafisah mengerutkan dahi nya, bingung. "Saya ingin lebih dekat denganmu cahaya, bolehkah saya dekat denganmu dan menjadi imam mu?" tanya nya to the poin, ia tak mau berlama lama memendam perasaan nya.
Nafisah semakin bingung dengan ucapan Salman.
"Maksud pak Salman apa ya?" tanya nya Al mengerti.
"Sa, saya menyukai mu cahaya, saya bermaksud ingin menjadi pendamping mu menggantikan suami mu dan menjadi ayah dari anakmu." jawabnya mantap.
"A..apa?" Nafisah sangat syok mendengar ungkapan Salman. Bagaimana mungkin Salman menginginkan wanita yang bersuami dan ingin menggantikan suaminya.Sungguh tidak masuk akal.
"Iya cahaya, setelah masa Iddah mu saya bermaksud menikahimu setelah anak kamu lahir. saya akan menggantikan suami mu yang sudah meninggal."
"Apa?" Nafisah tambah syok mendengarnya, masa Iddah? meninggal? suaminya bahkan masih hidup dan sehat, bagaimana mungkin Salman menginginkannya. Nafisah masih diam karena syok.
"Siapa sayang?" Suara Alvian mengalihkan pandangan Salman. Mata Salman membola melihat Alvian ada dirumah bunda Sarah.
"Kau?"
"Alvian".
Ucap mereka kompak.
.
.
Bersambung.
Apakah yang akan dilakukan Alvian terhadap Salman? Nantikan kelanjutannya ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya🥰 like coment dan vote nya🥰🥰
__ADS_1
.