
Safira seperti biasa ikut sarapan bersama yang lain, ia juga tetap memakai seragam sekolahnya meskipun hari ini ia tidak diperbolehkan datang,ia tidak mau keluarga nya yang lain tau.
"panggil kakak dan kakak ipar mu fir", mama Rosa menyuruh Safira memanggil Alvian dan Safira.
"Iya ma", saat ia hendak bangkit dari kursinya muncul Nafisah, ia kembali duduk.
"Ini kakak, panjang umur dianya." Safira berucap.
"Sayang, yuk sarapan, mana Alvian?" tanya mama rosa.
"Mas Al masih lemas ma,muntah muntah lagi, ini Naf mau buatkan teh hangat dan air lemon." ucap Safira.
"Masih mabok juga tu anak?, lama juga yah dia maboknya." timpal papa tertawa kecil, ia merasa lucu juga kasihan pada putra sulungnya itu, seorang Alvian yang kuat,jarang sakit dana sekarang harus mabok dan ngidam karena istrinya hamil.
Yang lain juga ikut tertawa kecil, mereka menertawakan Alvian yang dingin dan datar bisa mabok.
"Jangan ditertawakan anak mama itu, kasihan kan Al nya." lerai mama namun ia juga amsih tersenyum.
"Moga saja dia gak mabok seperti papa dulu" sambung papa.
"Papa dulu juga mabok pa?" tanya mama rosa pada kakek Atmaja.
"Hehee..iya, waktu mamamu mengandung suamimu ini, papa mabok sampai tujuh bulan tau gak, bahkan bolak balik kerumah sakit opname, karena terlalu lemah terus terusan muntah. Mama mu sampai menangis terisak melihat keadaan papa." Kakek Atmaja bercerita membuat mereka yang ada disana menganga mendengarnya.
"Ya ampun pa, sampai segitunya? ya Allah kasian banget pasti papa." mama rosa merasa prihatin mendengarnya.
"Iya, itu sebabnya mama mu gak mau hamil lagi, katanya kasihan liat papa, sampai tujuh bulan lho, bukan waktu yang singkat."
"Tapi kalo kak Naf biar saja hamil lagi kak, biar rasa juga tu kak Al." Safira tertawa terbahak mengejek kakaknya.
"Huss...Fira,kamu ini." lerai mama rosa, namun ia makin terbahak. Nafisah yang mendengarnya pun hanya tersenyum lebar menanggapi. Kemudian ia membawa teh dan air lemon kedalam kamarnya.
***
Fira tetap berangkat dari rumahnya, tapi bukannya kesekolah, melainkan ke markas mereka biasa ngumpul. Pondok kecil dekat taman yang luas dekat komplek perumahan Tomi. Ia memandangi sekitar taman melihat banyaknya bunga matahari disekitar.
"Gak cuma mawar yang indah ya, ternyata bunga matahari ini tak kala indah". Monolognya sambil memetik bunga matahari. "Kira kira kak Naf uda pergi belom yah?" Monolognya lagi.
"Ehem.." suara deheman mengalihkan Safira,ia melihat dimana arah suara itu, saat ia melihat ia kaget melihat seseorang yang sedang berjalan menghampirinya.
"Sedang apa lho disini?" tanya Safira jutek.
"Seharusnya gue yang nanya Beb, ngapain kamu disini? bukannya sekolah."
"Beb beb beb beb apaan sih, geli gue."
__ADS_1
"Hehe..jutek amat," bukannya marah karena Safira ketus ia malah mencubit pipi Safira gemas.
"Hey, don't touch" Safira menarik kepalanya menjauh. "kok lho bisa disini?"
"Tadi gue pas lagi jalan ngeliat lho jalan kearah sini, yah gue ikutin aja. Kenapa? lho bolos lagi?" tanya Endru menautkan alisnya.
"Gue gak bolos, gue diskors." jawabnya manyun.
"Kok bisa? lho buat ulah lagi? ketahuan manjat tembok?" Endru tau pasti kekasihnya buat ulah lagi.
"Ini semua gara gara elho." Nafisah memukul lengan Endru.
"Sakit beb." ia menggosok lengannya, memang terasa sakit pukulan Safira, tenaganya sungguh luar biasa. "tapi kok gara gara gue?" sambungnya lagi.
"Iya, gara cewek yang suka sama lho cemburu sama gue, hingga dia labrak gue, yaaa jadilah perkelahian ini." Safira menjelaskan dengan menggebu, ia juga menceritakan bagaimana ia menjambak rambut Delia sampai rambutnya rontok.
"Hahaha..." Endru tertawa terbahak me dengar cerita Safira. "Jadi gue direbutin dua cewek ni." tanya nya lagi dan tertawa lagi.
"Siapa juga yang ngerebutin lho, kalo dia mau sama lho ya ambil Sono, gak peduli juga gue." kesalnya.
Mereka berdua duduk ditengah tengah jejeran bunga matahari, bercerita dan bercanda, Endru mencoba menghibur Safira, membuat Safira merasa senang dengan cerita cerita dan hiburan hiburan kocak Endru.
"Ternyata lho lucu juga yah." Safira memandang Endru tersenyum.
"yeeeehhh...kepedean lho." Safira melempar Endru dengan bunga matahari.
***
Disisi lain Nafisah sedang bersiap ingin pergi kesekolah Safira, ia merasa ragu hendak pergi tanpa izin suaminya, tapi ia juga sudah janji pada Fira untuk tidak memberi tahu Alvian maupun yang lain.
"Kenapa sayang?" tanya Alvian heran melihat istrinya seperti gelisah.
"Emm..mas, mas jangan marah ya", ucapnya terbata. Alvian tambah heran dan yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Apa?" tanya nya lagi.
"Tapi mas janji ya jangan marah".
Alvian mengangguk, kemudian Nafisah menceritakan semua yang terjadi semalam dengan Safira, dan Safira memintanya untuk kesekolah ya. Alvian mengusap kasar wajahnya dan menarik nafas berat, ia sungguh tak menyangka adiknya ini selalu bermasalah disekolah nya.
"Fira..Fira". gumamnya lirih.
Dengan bujukan Nafisah, Alvian mau pergi kesekolah Safira, Alvian dan Nafisah pergi kesekolah dan menemui kepala sekolahnya. Mereka mendengar semua kelakuan Safira selama disekolah, sering bolos, cabut, berkelahi dan lain sebagainya.Dan dengan permohonan Alvian Safira bisa kembali sekolah esok hari, dan jika ia membuat ulah lagi,pihak sekolah tidak segan untuk mengeluarkannya dari sekolah.
"Mas jangan marah dengan Safira ya, kasihan dianya." Nafisah mengelus lengan Alvian menenangkan Alvian yang terbakar emosi me dengar kelakuan Safira.
__ADS_1
"Entahlah sayang." jawab Alvian lesuh. Kemudian Alvian menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobil hendak pulang. Niatnya tadi ia hendak kekantor setelah dari sekolah Safira, namun mood nya berubah, ia ingin istirahat saja dirumah.
***
Safira dan endru pergi makan siang disebuah restoran, ia tetap merasa happy tanpa merasa terbebani dengan semua masalah yang menimpanya. Tanpa rasa takut dan bersalah ia makan diluar dengan masih memakai seragam sekolah nya. Semua mata yang melihatnya pasti mengira kalo dia anak nakal yang bolos dari sekolah.
Ia terkekeh terbahak mendengar setiap lawakan garing Endru. Menurutnya lawakan Endru garing namun ia tidak bisa tidak tertawa. Tanpa ia sadari ada beberapa pasang mata yang memandanginya.
"itu Safira kan?" tanya Azka pada papa Al memastikan.
Sang papa langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomer Safira, tak butuh waktu lama, Safira langsung mengangkat panggilan papa nya sembari meletakkan telunjuk ke bibir sebagai isyarat menyuruh endru diam.
"Kamu lagi diamana fir?"
"Fira lagi disekolah ni pa, ada apa pa?"
"Gak apa." papa nya langsung mematikan panggilannya.
"Ayo ka, kita pulang." ucap papa nya sembari berjalan menuju Safira.
Safira terhenyak seketika saat matanya tak sengaja menangkap sosok sang papa berjalan menuju arah nya.
"OMG, mampus gue!" ucap nya dalam hati sembari meneguk Saliva nya merasa takut.
"Fir, ada apa? kok muka lho kek ketakutan gitu?" tanya Endru heran.
Muka Safira langsung pucat pasi saat papa nya Sampai dihadapannya.
"Pulang sekarang." ucap papa nya datar dan dingin, tanpa menunggu jawaban Safira sang papa langsung berjalan meninggalkan nya.
"Mampus gue, tamat lah riwayat kamu fiiiirr..."
Gumam nya menepuk jidatnya.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰🥰
Like, coment dan vote nya 🥰
__ADS_1