
Waktu terus berlalu, hari berganti hari,Minggu berganti Minggu dan bulan berganti bulan. Saat ini usia kandungan Nafisah sudah memasuki sembilan bulan. Ia sudah tidak merasakan ngidam dan Alvian sangat lega, karena saat Nafisah ngidam membuat hatinya gelisah dan takut, bagaimana tidak, istrinya selalu minta hal yang aneh, bahkan ia pernah disuruh manjat pohon kelapa untuk mengambil kelapa muda dan itu juga harus dia yang lakukan.
Bisa dibayangkan Alvian harus keliling mencari rumah orang yang ada pohon kelapanya, dan ia harus memanjat pohon kelapa yang tinggi itu. Jika saja ia sampai jatuh, tamat lah hidupnya. Alvian bergidik mengingat itu.
"Sayang, hari ini jadwal cek kandungan kerumah sakit kan?" tanya Alvian sambil memakai pakaiannya yang sebelumnya sudah dipilihkan oleh Nafisah.
"Iya mas, dan jadwalnya pukul dua nanti siang." Nafisah mengancingkan kancing kemeja Alvian dan memakaikannya dasi.
"Nanti mas jemput,"
Kemudian mereka keluar dan menuju ruang makan untuk sarapan bersama, disana sudah ada mama,papa dan kakek. Sudah beberapa bulan ini kakek menetap tinggal bersama mereka, dia ingin melihat kelahiran sang cicit nya nanti.
Nafisah sudah sangat sulit bergerak maupun berjalan dengan perut nya yang besar, Alvian menuntun jalan Nafisah dengan sangat hati hati, ia tidak mau sampai istrinya terjatuh. Ia menarik kursi untuk Nafisah duduk.
"Ayo nak, sarapan." Mama rosa mengambilkan nasi dan lauk untuk Nafisah, karena Nafisah memang suka makanan berat saat sarapan sedangkan Alvian hanya mengambil tiga buah roti dan mengoleskannya dengan selai.
"Bagaimana keadaan Safira?" tanya kakek.
"Alhamdulillah baik pa" jawab mama rosa.
"Apa dia tidak bikin ulah lagi?" tanya kakek lagi.
"Sejauh ini sih gak ada kek, dan mudah mudahan ia jadi lebih baik dan berubah seiringnya waktu." jawab Alvian, memang sudah beberapa bulan ini ia tidak mendapat laporan akan keusilan Fira. Dan saat ia berkunjung menjenguk adiknya kemarin itu juga ia tidak mendapat teguran dari para ustadz dan ustazah disana.
**
Tepat pukul dua siang Alvian pulang kerumah untuk membawa Nafisah kerumah sakit, setelah itu nanti baru ia kembali lagi kekantor. Menyangkut banyaknya pekerjaan kantor,ia ingin segera menyelesaikannya agar nanti ia lega bisa menunggu waktu kelahiran sang anak, ia tidak ingin melewatkan moment disaat kelahiran sang buah hati.
"Sayang," Alvian memanggil Nafisah saat sampai kerumah.
"Mas, assalamualaikum" Nafisah meraih tangan Alvian dan menciumnya, dan dibalas Alvian mencium kening Nafisah.
__ADS_1
"Sudah siap?" Nafisah mengangguk. "Ayo", Alvian memeluk pinggang Nafisah sembari berjalan.
"Kalian mau kerumah sakit?" tanya mama tiba tiba muncul dari dapur.
"Iya mah", Alvian menjawab.
"Mama mau ikut, tunggu sebentar mama ambil tas dudlu." mama rosa langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya. Tak perlu waktu lama mama kemudian turun lagi dengan sudah berganti pakaian.
"Ayo." ajaknya semangat. Ia sangat semangat untuk melihat keadaan sang cucu. Penerus keluarga atmaja. Sampai dirumah sakit Alvian mengambil nomer antrian dan mereka menunggu nomer mereka dipanggil, Hari ini tidak rame ibu hamil yang periksa kandungan membuat Nafisah tak perlu lama menunggu.
Lima belas menit kemudian nama Nafisah pun dipanggil oleh perawat, Alvian dan mama rosa mendampingi Nafisah memasuki ruang dokter kandungan itu.
"Selamat sore Bu Nafisah" sapa dokter dengan ramah.
"Sore dok" jawab mereka kompak dan duduk didepan dokter dengan pembatas meja.
"Apa ada keluhan saat ini Bu?"
"Iya buk, memasuki trimester tiga ini memang tubuh sering lelah, bahkan tidur pun gelisah tidak nyaman dan juga sering buang air kecil itu karena bayi sudah memasuki panggul dan siap mencari jalan nya. Sekarang kita periksa dulu yah." ucap dokter menyuruh naik ke brankar tempat periksa.
Nafisah dibantu Alvian untuk berbaring. Sang perawat mengangkat gamis Nafisah sampai atas perut kemudian mengoleskan dengan gel.
"Kita periksa ya Bu" dokter menggeser alat nya kekiri dan kekanan sambil melihat layar didepannya."Alhamdulillah sangat baik ya, ketubannya bagus, detak jantungnya juga normal, dan posisinya juga sudah bagus." jelas dokter.
Alvian dan mama rosa sangat senang, hatinya bergetar melihat layar itu yang memperlihat kan anaknya sedang bergerak gerak.
"Prediksi Hpl nya ini dua Minggu lagi yah Bu,persiapkan semuanya, Ibu harus cukup istirahat dan banyak makan agar bertenaga saat mengejan nanti." ucap dokter sambil membersih gel diperut Nafisah. Kemudian ia meresepkan vitamin untuk Nafisah.
**
Disisi lain Safira sedang berada di mall,pusat perbelanjaan. Ia yang sepulang sekolah tidak langsung pulang kepesantren melainkan hangout dulu bersama sila sedangkan Tomi tidak bisa ikut.
__ADS_1
Ia bosan sudah beberapa bulan ini tidak jalan jalan bareng temannya, dan hari ini ia beranikan diri pergi jalan sebelum pulang, toh hanya sebentarnya, ustazah pengasuh pasti akan mengizinkannya pikirnya.
"Cepat sila, lama banget sih jalan kek Ciput." ucapnya berjalan sembari melihat kebelakang, tanpa ia sadari ia menabrak seseorang.
Bruk..
"Au.."ucap Safira kaget. "Kalau jalan pake mata dong." ucap Safira kesal.
"Hey, yang seharusnya bicara seperti itu saya, kamu tuh jalan matanya dipake, jangan jalan pake dengkul." balas seorang pria.
Maaf pak, dia pasti gak sengaja", sila datang dan hendak menarik Fira menjauh, namun fira enggan beranjak,Fira menatap geram pria itu."Om yang harus nya minggir, kenapa juga berhenti ditengah jalan." nyolotnya tak mau kalah.
"What? lu bilang apa? om?"
"Iya ,OM." Safira menekankan kata Om.
"lu pikir gue Uda setua itu dipanggil om." jawabnya tidak terima. "Dan.._" dia meneliti penampilan Fira dan sila dari ujung kaki hingga kepala.
"Kalian pelajar? dan sedang apa kalian disini? Pasti kalian bolos! ini nih , contoh buruk yang tak patut dicontoh, bagaimana negara ini bisa maju jika penerus bangsa nya seperti kalian."
"Hey om, Kalau ngomong tu mikir dulu, ini tuh Uda jam pulang sekolah."
"Bisa aja kan kalian bolos dan sudah dari tadi kalian ngeluyur."
"Ah, malas gue ngomong sama om om kolot, bikin emosi jiwa. Yok sil." ucapnya menarik sila beranjak meninggalkan pria itu.
"Dasar bocah." umpat pria itu memandang punggung Fira dan sila yang berjalan semakin menjauh.
.
.
__ADS_1
Bersambung.