Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
S1


__ADS_3

Brum..brum..brum... Suara motor menghampiri di arena balap. Semua mata menatap ke arah suara motor.


"Fira," ucap Tomi dan endru kompak.


"Akhirnya lho datang fir," Tomi memukul bahu Fira girang. Mereka sempat khawatir jika Fira tidak datang maka habislah mereka di tangan lawan.


"Datang juga lho?" ucap pria yang akan menjadi lawan Fira.


"Gue pasti datang lah, mana mungkin gue biarin kambing congek kayak lu menang." tawa Fira.


"Hehehe...kita lihat saja, siapa yang akan menang."


"Sono lu balik lagi" perintah Fira pada Endru.


"Ya elah beb, gue mau ikut lho." Endru langsung naik ke motor Safira.


"Apaan sih Lo, turun gak lho." teriak Fira kesal, namun Endru masih santai duduk dibelakang Fira.


Satu


Dua


Tigaaa....


"Gak ada waktu lagi cepat tarik gas nya." perintah Endru. Fira melihat lawannya sudah melaju duluan, jika ia masih ngotot nyuruh Endru turun maka dia akan tertinggal jauh dari lawannya, dengan terpaksa dia membiarkan Endru ikut, kemudian ia melajukan motornya membelah jalanan dan dia berhasil menyusul lawannya.


"Yuhuuuu... kita pasti menang." Teriak Endru sambil mengejek lawan yang sudah tertinggal oleh Safira.


"Hebat banget cewek gue." ucap Endru lagi sambil melingkarkan tangannya diperut Fira.


"Lepasin tangan lho oli."


"Kalo gue gak pelukan nanti yang ada gue jatuh."


"Masa bodoh. Cepat lepaskan tangan lho." Safira melambatkan motornya untuk melepaskan tangan Endru.


Brummmm... Motor lawan menyalip Safira. "tuh kan beb kita disalip."


"Lepasin gak tangan lho, kalo gak lo turun aja disini."

__ADS_1


"Okeh oke, gue lepas", Endru melepaskan tangannya dari perut Fira, kemudian Fira kembali melajukan motornya hingga ia kembali mendahului lawannya. Ia terus melaju dan sebentar lagi akan sampai di garis finish. Semua orang sudah riuh menyambut kemenangan Fira namun saat beberapa meter lagi sampai finish terdengar suara tembakan ke udara, mobil polisi menghadang tepat di garis finish membuat Safira mengerem mendadak.


Ciiiiiit..... Suara gesekan ban diaspal.


Safira dan endru tidak dapat lagi mengelak, mereka langsung diboyong kekantor polisi, tidak hanya mereka, semua orang yang ada di lokasi langsung diboyong kekantor polisi.


"Kalian ini pelajar kok kerjanya balapan liar." ucap seorang polisi, tak habis pikir dengan para pelajar itu, bahkan seorang wanita yang ikut balapan liar.


Saat ini dikantor hanya tinggal Endru, Safira, Tomi dan sila. Yang lain sudah kembali karena keluarganya datang, sedangkan mereka tidak berani mau menghubungi keluarganya.


"Cepat, berapa nomor keluarga kalian agar mereka bisa datang menjamin kalian."


Orang tua saya tidak ada disini pak." ucap Safira. Berbagai alasan mereka berikan hingga membuat polisi itu pusing.Sekali lagi polisi itu bertanya dan sedikit memberi ancaman jika keluarga mereka tidak datang maka mereka akan tidur di sel, sontak saja membuat mereka takut, Tomi terpaksa memberikan sebuah nomor telepon pada polisi.


Sekitar tiga puluh menit datang seseorang yang membuat Fira menganga, ia tidak menyangka sang kakak datang, rasa takut juga malu memenuhi hatinya.


"Kakak?" ucapnya kaget, wajahnya berubah menjadi pias.


"Kok kakak lho bisa tau fir?" bisik sila pada Fira.


"Gue gak tau, darimana kakak gue tahu." Fira menaikkan bahunya, kemudian ia dan sila menoleh ke arah Tomi yang nyengir sambil mengangkat tangannya dengan jari membentuk huruf v.


"Sorry fir, gue terpaksa kasih nomor kak al, gue gak mau kita tidur di sel.


"Dasar lho kutu", sila menoyor kepala Tomi geram.


"Hey, kepala gue difitrahin sama bonyok gue, jangan asal toyor aja lho." Tomi tidak terima kepalanya jadi lampiasan Sila.


"Mana ada kepala difitrahin, memang lho kutu." balas sila sengit.


"Udah stop bisa diam gak kalian!" sarkas Fira geram dengan dua sahabatnya yang terus berantem.


Hahahah..m Endru tertawa melihat Tomi fan sila ciut mendengar bentakan Fira. "Kalian seperti Tom and Jerry saja. Gue doain kalian jodoh". Goda Endru sambil menangkupkan kedua tangannya berdoa.


"Ih amit-amit gue jodoh sama kutu." Sila bergidik.


"Eh, sapa juga yang mau sama mak lampir kayak lho." balas Tomi.


"Bisa diam gak sih." Sarkas Fira lagi membuat Tomi dan sila langsung diam. Sekali lagi Endru tertawa menyaksikan adegan lucu menurutnya.

__ADS_1


 Fira kembali melihat ruangan yang bersekat kaca transparan dimana sang kakak dan polisi sedang berbicara. Jantungnya deg-deg an entah apa yang dibicarakan oleh kakaknya dan polisi tersebut. Ia menoleh kepada Endru yang hanya diam, ia menatap Endru dengan sengit seolah ingin memangsanya saat itu juga. "Dasar gak guna." Oloknya pada Endru.


"Ayo pulang" Ucap Alvian dan langsung pergi, Fira dan yang lain menyusul dari belakang. "Kalian barenga kakak atau gimana?" tanya Alvian yang sudah berdiri disamping mobilnya.


"Ka..kami naik taksi aja kak." jawab sila sungkan. Alvian mengangguk, "Makasih ya kak dan kami minta maaf" timpal Tomi serta sila mengangguk membenarkan ucapan Tomi.


"Baiklah," balas Alvian kemudian membukakan pintu mobil untuk Fira. "Masuklah" titahnya pada Fira yang masih menunduk takut. Fira masuk tanpa berkata apa pun.


Alvian menoleh pada Endru dengan tatapan marah. "Kamu" tunjuk Alvian pada Endru, "Bukankah saya mengizinkan kamu berteman dengan Fira untuk menjaganya, bukan malah mendukungnya seperti ini. Mulai sekarang jangan deketin Fira lagi." tekan Alvian kemudian langsung beranjak memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kediaman Atmaja.


Didalam mobil Fira maupun Alvian hanya diam tak ada yang membuka suara hingga kini mereka sudah sampai dirumah.


Safira membolakan matanya saat menangkap mama dan papa nya sedang berada diruang tengah menunggunya. Jantungnya kian berpompa sangat kencang.


"Mampus gue, mama papa kok Uda pulang? Mereka pasti juga mengetahuinya. Mampus lho firaa... " jeritnya dalam hati. Kemudian ia duduk didepan papanya yang bersekat meja. Ia menelan saliva gugup dan takut melihat wajah sang papa menahan amarah.


Brak... Papa menggebrak meja membuat Fira memejamkan mata kaget.


"Kamu bener-bener keterlaluan Fira, harus bagaimana lagi papa memperingatkannmu ha?" Sarkas papa dengan penuh amarah. Mama dan yang kain hanya diam tidak mau menyela,mereka akan membiarkan papa mengambil keputusan.


"Papa tidak bisa mentolerir kamu lagi Fira, kamu akan papa masukkan pesantren." Ucapnya dengan tegas.


Duar... Bagai disambar petir Fira mendengar pesantren. Ia sangat tidak mau jika harus masuk pesantren, karena disana pasti ia terkekang dan semua harus diatur, ia sama sekali tidak suka diatur.


Fira langsung mendongak menatap papa nya. "A..apa pa? Pe.. pesantren?" tanyanya memastikan namun papa hanya diam.


"Ja..jangan dong pa, Fira janji gak akan balapan lagi pa, tapi jangan masukin Fira pesantren." pintanya memelas.


"Keputusan papa sudah bulat dan tak bisa diubah lagi." ucap papa kemudian pergi meninggalkan Fira yang masih memohon.


"Pa" teriak Fira pada papa yang sudah menaiki tangga menuju kamar nya. Fira menoleh ke mama dan mama pun menggeleng tanda ia tidak bisa membantu. "Itu sudah keputusan papa dan mama Fira." balas mama kemudian pergi menyusul papa.


Fira kembali monoleh pada sang kakak juga kakak iparnya berharap mereka bisa membantunya. Alvian yang paham maksud Fira berucap, "Kakak tidak bisa bantu Fira, kamu harus menerima konsekuensi perbuatanmu." ucapnya kemudian menarik sang istri untuk kembali kekamar.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Kita lanjutkan kisah Safira dan Gus zayyan disini yah😊 jadi stay tun terus🥰🥰


__ADS_2