
Cuaca sejuk disinari mentari pagi menemani cahaya menyiram tanaman dihalaman depan, ia sangat bosan jika tidak ada yang harus dilakukan, semuanya sudah dilakukan oleh maid dirumah bunda Sarah.
"Non, biar bapak saja yang siram, ini teh tugas bapak atuh non" ucap mang Asep sungkan.
"Gak apa pak, biar aku aja, bosan pak, masa tidur tiduran aja, nanti yang ada akunya diabetes karena gak ada gerak gerak." ucapnya tertawa.
"Nona teh bisa aja, ya Uda atuh, Mamang mau potong rumput saja."
Sedang asyik dan fokus menyiram tanaman cahaya dikejutkan oleh seseorang yang menegurnya hingga ia refleks menyiram orang itu.
Byurrr
"Aa..aaa..aaa.. Stop, stop stop cahaya" Salman meminta.
Mendengar namanya dipanggil,cahaya buru buru mematikan keran air.
"Pak Salman! maaf pak, maaf." sesalnya melihat Salman basah kuyup.
"Gak apa, saya minta maaf karena mengagetkanmu." Salman mengusap wajahnya yang basah.
"Sayang, ada apa nak?" bunda Sarah keluar mendengar suara ribut. "Pak Salman?" kagetnya melihat Salman basah kuyup. "Pak Salman, ini!" ucapannya terhenti heran.
"Maaf bunda, aku gak sengaja nyiram pak Salman karena kaget." Sesal cahaya.
"Mari masuk pak, keringkan dulu didalam." Ajak bunda Sarah, salaman dan cahaya mengekori dari belakang.
Bik sadah datang memberikan handuk pada Salman,ia mengeringkan rambutnya.
"Pak, ini baju ayahnya cahaya, saya gak tahu muat atau gak!" bunda Sarah memberikan satu stel pakaian pada Salman. "Ganti saja didalam kamar itu pak" tunjuk Sarah.
"Makasih buk Sarah." Salman menerima pakaiannya dan menuju kamar yang ditunjuk untuk mengganti pakaian.
Tak lama Salman keluar dengan sudah rapi dengan mengenakan pakaian suami bunda Sarah, Pakaian itu sangat pas dengan salman.
"Ternyata sangat cocok dengan pak Salman". Ucap bunda Sarah tersenyum. Cahaya hanya diam menunduk,sesekali ia juga melirik Salman.
"Eh, makasih buk"
"Pak Salman sudah sarapan? bagaimana kalo kita sarapan bareng!" Ajak bunda Rosa.
"Kebetulan sekali buk, saya belum sarapan, sangat senang bisa sarapan ibuk dan cahaya bareng." ucapnya tertawa kecil melirik cahaya.
"Hahahah..." bunda Sarah tertawa melihat Salman dan cahaya bergantian.
Mereka sarapan bersama diselingi canda dari Salman, Salman pria yang humoris, siapa pun pasti akan tertawa dan terhibur olehnya. Begitupun cahaya, ia tertawa kecil dengan candaan Salman.
"Ternyata pak Salman pria yang humoris, pasti yang jadi istrinya nanti bahagia terus" ucap bunda Sarah.
"Ah, buk Sarah bisa saja."
"Btw Uda punya calonnya belum?" tanya bunda Sarah melihat Salman sembari mengunyah sarapannya.
"Belum buk Sarah, " ucapnya menatap cahaya. Bunda Sarah paham atas tatapan Salman hanya tersenyum, andai saja cahaya anaknya pasti dengan senang ia menjodohkan dengan Salman, namun cahaya bukanlah putrinya,dan cahaya juga hilang ingatan sehingga tidak tahu bagaimana,mungkin saja keluarganya sedang mencarinya.
Selesai sarapan Salman langsung pergi kekantornya. Ia tersenyum sendiri mengingat cahaya.
__ADS_1
"Melihat cahaya kok gue jadi ingat Nafisah ya. Bagaimana kabarnya sekarang? huff..Alvian sungguh posesif, cemburunya sangat over." Gumamnya tertawa. "Tapi gue senang, Nafisah mendapatkan suami yang sangat cinta dengannya."
**
Huek..huek...
Pagi ini Alvian kembali memuntahkan semua isi perutnya, setiap pagi ia harus mengalami morning sicknes seperti seorang wanita. Tubuhnya sangat lemas jika ia muntah muntah Begini,namun ia senang bisa menggantikan istrinya, ia pasti sangat sakit jika melihat Nafisah yang mengalaminya.
Walau dengan tubuh lemas ia paksakan untuk tetap kekantor, ada banyak karyawan yang bergantung diperusahaannya, jika ia larut pada kesedihan dan keluhannya maka sangat berpengaruh pada perusahaannya.
Ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Azka yang sangat setia membantu nya.
"Yakin kamu bisa Al? lebih baik kamu istirahat saja dirumah, biar gue yang nangani, dan nanti gue bawa semua berkasnya kerumah lho." ucap Azka prihatin melihat Alvian.
"Terima kasih Ka, gue sangat berhutang denganmu."
"Jangan seperti itu, kayak sama siapa aja." Azka memukul lengan Alvian.
"Hey, itu sangat sakit." teriak Alvian.
"Hahah.." Azka tertawa "oh ya, gue Uda selidiki wanita bercadar yang lho bilang bertemu dekat mini market itu, didekat situ ada komplek perumahan, dan cewe bercadar itu tinggal dikomplek itu." Azka beritahu.
"Apa lho tahu rumah nomer berapa dia tinggal?"
"Belum, kita masih menyelidiki nya."
Alvian mengangguk, "Cari tahu secepatnya." ucapnya sembari menutup mulutnya yang terasa mual kembali.
"Ck..lebih baik lho pulang deh, gue gak mau ngurusi pria bunting kaya lho." Azka terkekeh.
"Hahahah..." Azka terbahak.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, Safira and the geng keluar kelas dan menuju parkiran. Mereka menaiki kendaraannya masing masing dan Safira goncengan dengan sila.
"Fir, jangan lupa nanti malam kita kemarkas." Tomi mengingatkan.
"Tau ah, gak janji. Lho tau kan gimana papa gue." Safira menautkan alisnya.
"Jangan sampai tahu dong. Lho kan bisa kabur lagi lewat pager."
"Sekali sekali sih iya gak ketahuan, nah kalo keseringan? bisa digantung gue kalo ketahuan papa, gak cuma gue kalian pun akan kena." Ucap Safira.
Sila bergidik membayangkan, memang benar, papa Safira sangat tegas dan killer, pernah mereka juga kena hukum bersama Safira menguras air kolam karena bolos sekolah. Apalagi kalo papanya tahu mereka bawa Safira balapan? bisa digantung mereka.
"Yaudah cuzz pulang." Tomi menstarter motornya dan melaju duluan dan disusul sila dan Safira. Sampai didepan pagar sekolah mereka berhenti karena melihat Endru ada didepan.
"Ngapain lho kemari? Mau ngajakin balap lagi?" Safira menyunggingkan bibirnya.
"Jutek amat sih cewek gue." Endru tertawa kecil.
"Ha?" heran mereka kompak.
"iya, mulai sekarang lho cewek gue." Ucap Endru yakin.
__ADS_1
"What?" mereka lagi lagi kaget.
"Wah parah ni orang, otaknya jadi sengklek pas kalah balap motor kemarin." ucap Tomi.
"Gue mau jemput lho, pulang bareng gue." Endru turun dari motornya dan berjalan menghampiri Safira.
"Ayo sil gak usah peduliin ni orang." Ajak safira
"Tunggu bentar, gue mau bicara bentar dengan Fira". Endru menarik Safira turun dari motor.
"Wooy" Tomi hendak turun dari motor namun terhenti melihat isyarat dari Fira.
"Lepas." Safira menepis tangan Endru. "Apa yang ingin lho omongin? cepat. gue gak ada waktu." sambungnya sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Gue tau apa yang lho lakuin pada motor gue." ucap Endru santai.
Deg..
Safira kaget akan ucapan Endru. "Maksud lho? lho nuduh gue ngerusakin motor lho?"
"hehe.." Endru menyunggingkan bibirnya. "Gue belum bilang motor gue lho rusakin."
"E..e.. jangan ngasal lho."
"Hehehe...wajahmu pucat sayang." Endru hendak menyentuh wajah Safira namun tangannya ditepis Safira.
"Apaan sih lho, jadi apa yang lho mau? ganti rugi? ogah. ltu hukuman buat lho yang Uda buat gue telat sekolah." jawabnya santai menyimpan tangannya didada.
"Gue cuma mau lho jadi pacar gue."
"What? ngigo lho ya!" Safira memutar badannya hendak meninggalkan Endru namun terhenti mendengar ucapannya.
"Bagaimana kalo papamu tahu ya!"
seketika Safira mematung. Endru berdiri dibelakang Safira dan berbisik di telinganya. "Gue akan lupakan semua jika kamu mau jadi cewek gue." bisik Endru.
Safira hanya diam, ia bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana?" Tanya Endru lagi.
"Oke, fine." jawabnya, ia terpaksa terima kalo tidak habislah ia oleh papa nya, ia tidak mau dikirim ke pesantren oleh papanya.
"Gitu dong, ayo pulang barang gue." Endru menarik tangan Safira menuju motornya.
"Safira pulang bareng gue, kalian pulanglah" Endru memberikan helm pada Safira.
"What?" kaget Tomi dan sila.
"Fir, maksudnya?" tanya sila.
"Gak apa, kalian pulanglah duluan, gue bareng Enduro si pelumas motor aja." Ucap ya sembari memakai helm dan naik kemotor Endru.
.
.
__ADS_1
Bersambung.