Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
55


__ADS_3

Setelah semalaman menginap dirumah bunda Sarah, pagi nya Alvian mengajak Nafisah kekantornya. Alvian memeluk pinggang Nafisah sambil berjalan menuju ruangannya, sepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian para karyawan. Para karyawan sangat kaget melihat bis mereka bisa senyum dannbersikap hangat pada sang istri, padahal jika sama orang lain Alvian jarang tersenyum,yang ada hanya aura kejam dan datar dari sosok Alvian.


"Wah si boss, bisa senyum lebar gitu."


"Mereka pasangan serasi yah!"


"Seneng banget deh bos bisa mendapat istri Soleha begitu."


"Ternyata si boss sangat tampan jika dia tersenyum begitu."


"Akhirnya bos mendapatkan pawang nya."


Begitulah suara suara bisik bisik para karyawan menceritakan Alvian dan Nafisah.


Tanpa memperdulikan omongan para karyawannya Alvian terus berjalan sambil memeluk pinggang Nafisah posesif. Tidak membiarkan Nafisah jauh barang sejengkal pun darinya.


"Masuk sayang" Alvian membuka pintu ruangan yang bertuliskan CEO ROOM dipintu.


Nafisah melihat sekeliling ruangan Alvian, ruangan yang sangat luas dan indah menurut Nafisah.


"Duduklah, mas akan ambilkan minum". Alvian langsung menelpon pihak pantry untuk mengantarkan dua gelas minum dan beberapa cemilan untuk sang istri.


Nafisah masih memperhatikan sekeliling, ia melihat sebuah figura dia atas meja kerja Alvian, ia mengambil Figura itu dan tersenyum melihat gambar nya dan Alvian disitu. Terlihat jelas kebahagiaan Dimata nya didalam foto tersebut.


"Liat apa sayang?" Alvian memeluk Nafisah dari belakang serta menempelkan dagunya di bahu Nafisah.


"Ini mas, kapan foto ini diambil?" Tanya nya yang masih menatap foto itu.


"Itu foto kita saat pulang dari panti Bunda kasih", jawabnya sambil tangannya tidak diam menggerliya bagian depan Nafisah.


"Panti Bunda kasih?" beo Nafisah.


"Ia, kamu dulu sering minta temani ke panti itu, Saat mas ajak jalan jalan, kamu nya Mala mau jalan jalan ke panti." kekeh Alvian. Ia mengingat begitu menggemaskannya Nafisah, diajak jalan jalan ia memilih jalannya hanya kepanti.


"Apa mereka tahu tentang kecelakaan Naf?"

__ADS_1


"Tau, dan mereka sangat sedih mendengar kabar kecelakaan mu. Apalagi Dewi, dia sangat kehilangan kamu."


"Apa Naf sangat dekat dengan anak panti mas?" tanya nya penasaran.


"Sangat sayang, kamu sudah sebagai ibu dan kakak bagi mereka, kamu sangat peduli dan sayang dengan mereka. Mas sangat bangga mempunyai istri seperti kamu yang berhati malaikat." ucapnya sambil tangannya masuk kebaju Nafisah.


"Mas,, jangan gini, geli tau." Nafisah sangat terganggu dengan tangan Alvian yang merayap kemana mana.


"Mas kangen yang". Ucap nya dengan suara yang sudah serak.


"Ini kantor mas" Nafisah mencoba melepaskan tangan Alvian namun tenaga nya tak bisa mengalahkan Alvian.


"Sayang.._" ucapannya terpotong mendengar suara ketukan pintu. Nafisah melepaskan tangan Alvian dan merapikan pakaiannya yang lecek karena ulah Alvian.


"Masuk."


Masuk seorang OB membawa nampan air dan beberapa Snack cemilan dan meletakkannya diatas meja Alvian, setelah itu keluar lagi.


"Banyak banget mas!" Nafisah kaget melihat banyaknya makanan yang dipesan oleh suaminya.


"Makanlah yang banyak sayang, agar anak kita nanti gemoy seperti mommy nya." Alvian menarik tangan Nafisah agar duduk diatas pangkuannya.


"Mas, Naf duduk sana aja" tunjuknya pada kursi panjang disudut ruangan Alvian.


"Sini saja." Tangannya melingkar diperut Nafisah.


Tok tok tok.... Suara pintu diketuk lagi dari luar, nafisa reflek bangkit dan menjauh dari Alvian. Tanpa menunggu persetujuan Alvian pintu langsung dibuka, dan muncul Azka sambil nyengir.


"Ck..mengganggu saja." Gerutu alvian kesal.


"Ups maaf, gue kira gak ada tamu." ucapnya nyengir melihat kegugupan Nafisah. Saat ia membuka pintu ia melihat Nafisah bergesa bangkit dari pangkuan Alvian membuatnya mengulum senyum.


"Hy Naf, bagaimana kabar mu?" sapa Azka tersenyum.


"Alhamdulillah baik." jawab Nafisah kemudian ia melangkah dan duduk dikursi panjang sudut ruangan Alvian.

__ADS_1


"Sorry gue gak maksud ganggu, Ini." ucapnya sambil memberikan beberapa berkas pada Alvian.


Alvian mengambil dan membaca berkas itu."Ya sudah, gue tinggal dulu, kalian bisa lanjutkan yang tadi." ucap Azka tertawa sembari melangkah pergi keluar ruangan Alvian.


Setelah Azka pergi, Alvian berjalan mendekati Nafisah dan duduk disamping Nafisah. "Sini mas bukakan" ucapnya mengambil bungkus Snack ditangan Nafisah, ia membuka nya dan menyuapi Nafisah.


"Naf bisa sendiri mas, mas kerja aja."


"Gak apa sayang, mas bisa nanti kerjanya."


"Lebih baik lebih cepat kan mas, Naf ingin segera pulang, ingin berbaring."


"Kamu capek yang?"


"Sedikit."


Semenjak hamil Nafisah memang selalu merasa capek dan lelah, ia selalu berbaring dan tidur.


"Kamu istirahat didalam saja yang." Alvian membawa istrinya kedalam sebuah kamar rahasia yang ada diruangan Alvian.


"Jadi ada kamar disini mas?" tanya Nafisah tak percaya, ternyata ada sebuah kamar di ruangan kerja suaminya. Kamar yang tak begitu luas namun sangat indah dan rapi, sangat nyaman untuk ditinggali.


"Ia, mas sengaja buat kamar ini agar mas dan kamu bisa istirahat didalam dan bisa.._ " Alvian mengecup tangan Nafisah.


"Bi..bisa apa mas?" Tanya nya gugup, ia merasa ada sesuatu pada suaminya. Dan benar dugaannya, suami nya itu tak bisa menghentikan aksi mesumnya jika begini. Nafisah hanya pasrah digerayangi suaminya, hingga mereka kembali menjalankan ibadah pasangan halal di kantor Alvian.


"Al..Al... " Azka memasuki ruangan Alvian namun tidak menemukan Alvian maupun Nafisah, Hanya ada beberapa bungkus Snack yang berserak dimeja dan dilantai. Pandangannya kemudian tertuju pada dinding rak buku Alvian, senyum bibirnya pun merekah melihat dinding itu.


"Dasar, bukannya kerja, Ia tahu pasti Alvian sedang sibuk memadu kasih dengan Nafisah dikamar itu. Dengan tertawa kecil ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu.


"Gue jadi ingin cepat pulang nih, jumpain istri." Azka tertawa kecil.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2