
"Fir, lho dijemput lagi ni hari?" tanya sila pada Safira sambil berjalan. Mereka bertiga berjalan keluar gerbang sekolah karena bel sekolah sudah selesai.
"Iya."
"Yaaa...gak asyik dong! gak bisa nongki nongki lagi dong!" sila mengeluh, karena sudah tiga hari ini Safira diantar jemput oleh supir keluarga Fira.
"Iya ni fir, kita kangen Uda lama gak nongki happy." timpal Tomi juga mengeluh.
"Ya mau gimana lagi? daripada gue disembelih sama papa, gue gak mau ya mati muda." jawab Safira bergidik.
"Seram amat papa lho fir, masa tega sih bunuh anak sendiri! apa jangan jangan lho bukan anak mereka fir?" ucap Tomi menerawang papa nya Fira yang sangat menakutkan jika sedang marah.
"Enak aja lho, gue putri semata wayang mereka yah, yah wajar bonyok gue disiplin gue." jawabnya Sik bijak.
"Ya secara lho beda banget sama kakak lho yang diam plus dingin itu, lho nya amat begajulan,bar bar, gak ada feminim feminim nya dikit pun."
"Iya, lebih kayak preman pasar" Fira menimpali sambil tertawa dan diikuti Tomi tertawa.
"Enak aja lho ngomong, bar bar gini gue tetap cantik ya, pinter, baik, rajin menabung, juga Soleha."
Sontak mereka bertiga tertawa terbahak.
"Gue duluan yah, gue tunggu dirumah besok" ucap Safira kemudian masuk ke mobil nya.
***
Tring tring tring..
Notif pesan di ponsel Safira berdenting. Safira yang sibuk belajar tidak memperdulikan pesan yang masuk, ia hanya berfikir pasti pesan gak penting dari teman temannya. Hingga sebuah panggilan masuk kembali menghebohkan ponselnya.
Sekali, dua kali panggilan tidak Safira angkat, namun yang ketiga ia mengangkatnya karena sangat bising tak berhenti jika ia tak mengangkatnya.
__ADS_1
Ia mengerutkan dahinya melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Oli? ngapain dia nelfon?" tanya nya pada diri sendiri. Dengan malas ia menekan tombol hijau.
"Hallo beb" sapa Endru disebrang sana.
"Ya hallo, ngapain lho nelpon nelpon gue?" jawab nya sarkas.
"Ya elah beb, masa tanya kenapa? ya kangen lah." jawab Endru santai.
"Ya kangen lah!" ejek Fira menirukan ucapannya dengan bibir mengerucut. " makan tu kangen., ya udah gue matiin, ganggu aja lho gue belajar." Safira hendak mematikan ponselnya namun Endru menghalanginya
"Eitss.. tunggu bentar beb, bukain pintu dong!"
"Ha?" Safira mengernyitka dahinya tidak paham.
"Iya, bukain pintu rumah lho beb, gue didepan ni."
"Gue gak bercanda kali beb," kemudian Endru mengubah panggilannya menjadi Video call, Safira langsung mengangkatnya dan betapa kagetnya ia melihat Endru ada diteras rumahnya.
"What?, gila lho ya, sana pulang. Rumah ini gak menerima tamu" ucap Fira kemudian mematikan ponselnya.
Endru mengetuk pintu dan tak lama pintu dibukakan oleh salah seorang asisten rumah tangga, ia dipersilahkan masuk dan sambil menunggu Safira keluar ia duduk dikursi yang ada diruang tamu.
Mendengar ada tamu Safira diluar alvian keluar untuk menemui nya, Alvian m mengernyit melihat seorang pria yang datang untuk menemui adiknya.
"Aduh, mampus gue, kak Al pasti mengintrogasi gue nanti." gumam Safira yang mengintip dari lantai atas, ia melihat ketegangan di wajah endru menghadapi Alvian.
"Malam kak," Endru menyalami Alvian sopan.
"Malam, duduklah." persilahkan Alvian dan ia juga duduk dihadapan Endru.
__ADS_1
Pembicaraan mereka pun berlangsung tanpa adanya Safira, Alvian memang tidak mau memanggil adiknya untuk menemui teman pria nya ini, ia tidak mau adiknya terlalu bebas berteman dengan pria, kecuali Tomi.
Tomi adalah teman Safira dari SD dan mereka juga sangat mengenal Tomi juga keluarga Tomi.
Setelah berbincang bincang, Endru berdiri dan menyalami Alvian kembali dan melangkahkan kaki nya keluar rumah. entah apa yang dibicarakan mereka, Safira hanya melihat dari atas tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.
Melihat kakaknya nya yang berjalan hendak menaiki tangga, dengan cepat ia berlari dan masuk kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Endru. Tanpa lama Endru langsung mengangkat panggilannya.
"Apa yang lho bicarakan sama kakak gue?" Fira langsung bertanya.
" kenapa?"
"Isss, jawab aja kenapa sih?" kesal Fira.
Belum sempat Endru menjawab Fira langsung mematikan panggilannya karena pintunya diketuk.
"Fir, boleh kakak masuk?" tanya Alvian dari luar. Karena tak ada jawaban dari Fira,ia berfikir Safira sudah tidur, ia pun berbalik dan memasuki kamarnya.
Endru keluar rumah Alvian dengan tersenyum, entah apa yang membuatnya bahagia hingga tersenyum lebar seperti itu, senyumnya berhenti kala melihat seseorang wanita yang terus memperhatikan rumah Alvian. Ia mengernyitkan dahinya melihat wanita yang tampak lusuh dan berantakan berdiri didekat pagar rumah Alvian. Ia berfikir mungkin pengemis, ia menghampiri wanita tersebut dengan motornya.
"Ini mbak, ambil lah." ucapnya memberi selembar uang merah pada wanita tersebut. Bukannya mengambil, wanita tersebut menatapnya tajam seperti tidak suka. Dengan cepat ia menarik tangannya kembali dan segera menaiki motornya. Ia jadi takut melihat wanita itu, mungkin wanita itu adalah ODGJ pikirnya.
"Hey, sedang apa kamu disitu? sana pergi." usir satpam yang menjaga rumah Alvian. Ia berfikir wanita itu hanyalah pengemis atau orang gila kalau melihat dari tampilannya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yah🥰🥰