Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
51


__ADS_3

Nafisah membaringkan tubuhnya ditempat tidur, tubuh nya merasa sangat lelah, walaupun ia tidak mengerjakan apa pun, ia cuma mengikuti Alvian kekantor dan keliling supermarket belanja keperluan nya dan Alvian.


Nafisah memijit betisnya yang berasa kram, terdengar suara derit pintu terbuka, ia menoleh kearah pintu dan Safira muncul.


"Kak, kakak kenapa? sakit?" Safira mendekat dan duduk samping Nafisah.


"Eh, fir! tidak, kaki kakak cuma kram sedikit, karena banyak jalan tadi siang. Em..kenapa?" tanya nya yang melihat wajah murung Safira.


"Kakak bisa bantu Fira gak?"


"Bantu apa? insyaallah kakak usahakan." Nafisah tersenyum melihat adik ipar nya ini.


"Tapi kakak jangan bilang kak Al, maupun papa mama ya kak".


"Apa? " tanya nya lagi penasaran.


"Fira tadi disekolah berantem dengan teman, dan Fira dapat surat SP dari kepsek, wali Fira disuruh datang besok kesekolah kak." ucap nya lirih dengan wajah memelas.


"Kok bisa? memangnya kenapa kamu bisa berantam fir?" Nafisah sedikit kaget mendengar adik ipar nya berantem.


Safira menceritakan semua yang terjadi disekolah siang tadi, dia juga bercerita kenapa bisa dekat dengan Endru dan membuat Delia memusuhinya gara gara Endru. Dan kenapa dia tidak mau kalo orang tua dan kakak nya mengetahuinya. Dia curhat dan meminta pendapat dengan Kakak ipar nya itu,dan hatinya sedikit lega setelah menerima nasihat dari Nafisah.


"Kakak mau kan bantu Fira? datang kesekolah besok?" tanya nya berharap.


"Insyaallah fir, kakak akan datang."


"Makasih ya kak, kakak memang terbaik" ucapnya tertawa sembari mengecup singkat pipi Nafisah.


"Eh", Nafisah kaget mendapat ciuman dari sang adik ipar.


"Eits..Kenapa cium cium istri kakak?" Alvian yang baru masuk protes.


"Biarin" Safira mendelik kearah Alvian kemudian kembali melihat Nafisah dan tersenyum, "Makasih ya kak, Fira pergi dulu. By!" Ucapnya sembari bangkit dan sambil berjalan ia memberikan ciuman kilat di pipi sang kakak, dan segera berlari keluar sebelum mendengar teriakan kakaknya.


"Ya ampun tuh anak, main nyosor aja." Gerutu Alvian memegangi pipinya. "Hey awas lho". Teriaknya sembari meletakkan segelas susu di atas nakas.


Nafisah tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah kakak adik tersebut.


"Ngapain dia kesini yang?" tanya Alvian sembari duduk samping Nafisah.

__ADS_1


"Gak ada mas, cuma cerita cerita aja."


"Cerita apa?"


"Ih mas kepo deh, biasa! masalah perempuan." jawab nya tertawa. Dan Alvian hanya ber oh ria saja mengangguk.


"Minum dulu susunya sayang." Alvian memberikan susu ibu hamil pada Nafisah.


"Makasih ya mas! mas gak perlu repot repot mestinya."


"Eits... tidak ada yang merepotkan mas kalo soal kamu dan anak mas." Nafisah tersenyum mendengar ucapan Alvian, Ia meminum susu itu hingga tandas dan meletakkan kembali gelasnya diatas nakas.


"Sini mas pijitin", Alvian menarik kaki Nafisah meletakkan nya diatas pangkuannya dan memijit lembut betis dan kaki Nafisah. Dia melihat Nafisah tadi memijit betisnya, ia ingin masuk tapi berfikir akan membuatkan susu terlebih dahulu.


"Mas, gak perlu mas", Nafisah mencoba menarik kakinya yang diatas pangkuan Alvian, ia merasa tidak enak dan tidak sopan terhadap suami, namun Alvian tidak membiarkan nya.


"Sayang, jangan merasa tidak enak, mas ini suami kamu, jadi tugas mas membuat kamu nyaman, dan merawat kamu, tidak ada kata sungkan atau merepotkan bagi suami istri sayang, mas melakukannya ikhlas."


"Makasih mas".


Nafisah sungguh terharu mendengar ucapan Alvian, matanya berkaca kaca menatap Alvian, dia sungguh beruntung memiliki Alvian.


"Sayang, mas sudah bilang kan, jangan ada sungkan sama mas, mana lagi yang sakit?"


Nafisah menunjuk leher dan tengkuk nya, Alvian tersenyum kemudian mengangkat kaki Nafisah dari pangkuannya, ia duduk tepat disamping nafisah dengan jarak yang sangat dekat, ia buka jilbab Nafisah perlahan, ia memberikan sedikit minyak dan mengurut tengkuk Nafisah, nafasnya tercekat melihat leher panjang dan mulus istri nya itu.


"Sayang, kali begini aku gak akan kuat" ucapnya dalam hati dan meneguk Saliva nya, aroma manis dan wangi tubuh Nafisah yang masuk keindra penciumannya membuat darahnya berdesir dan tubuhnya kaku. Begitupun Nafisah, berada sedekat ini dengan Alvian dan nafas Alvian sangat terasa menembus kulit lehernya membuatnya meremang.


"Bagaimana yang?" tanya Alvian dengan suara berat.


"Udah enakan kok mas."


Alvian kembali duduk sedikit menjauh dari Nafisah, ia tidak sanggup menahan diri jika sedekat ini dengan Nafisah.


"Apa kamu mau makan sesuatu? biar mas Carikan."


"Tidak mas. aku mau tidur aja, Uda malam juga pun." ucap Nafisah sambil melihat jam yang bertengger diatas nakas.


"Ya sudah istirahatlah, mas akan keluar", Alvian mengacak rambut Nafisah kemudian berdiri hendak beranjak pergi,namun Nafisah memegang tangannya.

__ADS_1


"Mas, gak mau tidur dengan ku?" tanya nya.


Glek.. Alvian menelan saliva nya, "Apa ini benar? Nafisah mengajakku tidur bareng?" batinnya bersorak.


"Sayang, maksudnya?" Tanya nya memastikan, ia tidak mau salah paham.


"Apa mas gak mau tidur bersama istri mas ini?"


"Sayang, kamu beneran mau sekamar dan seranjang lagi sama mas? bukankah.." ucapannya terhenti karena dipotong Nafisah.


"Benar mas, walaupun aku belum mengingat semua nya, tapi kita tetaplah suami istri kan? dan aku mau kita menjalankan hari kita seperti sebagaimana mestinya, aku gak akan memaksa ingatan ku kembali,yang terpenting sekarang adalah aku bahagia jadi istrimu." Nafisah menggenggam tangan Alvian kemudian mengecup punggung tangan Alvian dengan takzim. "Maafkan Naf yang sudah durhaka sama mas". Sambungnya lagi.


Alvian langsung berhambur memeluk Nafisah, ia sangat bahagia mendengar istrinya mau menerimanya, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.


"Terima kasih sayang, terima kasih. I love you, I love you so much" Alvian memeluk Nafisah sangat erat sembari mengecup kepala Nafisah.


"I love you to mas", balas Nafisah berbisik.


Alvian merenggangkan pelukannya dan menatap Nafisah, ia mendekatkan wajahnya kemudian bibirnya menyentuh bibir Nafisah, dan rasanya masih sama, bibir yang menjadi candunya yan telah lama ia tidak merasakannya, rasa rindu kini telah lepas.


Ia terus ******* dan memagut bibir Nafisah,dan mengeksplor seluruh mulut Nafisah,dan Nafisah pun hanyut oleh suasana ikut membalas lumayan Alvian, kecupannya turun hingga keleher dan memberikan jejak kepemilikannya disana membuat Nafisah mengeluarkan suara ******* yang sangat seksi menurut Alvian.


Alvian yang tersadar,melepaskan kecupannya takut Nafisah nanti akan membencinya. Ia satukan keningnya dengan kening Nafisah dan hidung mereka bersentuhan.


"Maaf sayang, mas sungguh tidak tahan". Ucap Alvian dengan suara serak tertahan karena nafasnya yang memburu tidak beraturan karena terbakar gairah.


"Lakukanlah mas,semua ini milik mas, Naf ikhlas", ucap Nafisah pelan namun masih bisa didengar Alvian. Alvian membolakan matanya nya merasa tak percaya apa yang ia dengar.


"Sayang." ucapnya me atap Nafisah dan Nafisah hanya mengangguk malu sambil melingkarkan tangannya dileher Alvian.


"Tanpa banyak berkata lagi Alvian kembali ******* bibir Nafisah, dan mereka kembali meneguk kenikmatan halal suami istri yang telah lama tidak mereka lakukan.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2