
Setelah dua hari dirumah sakit kini Nafisah sudah diperbolehkan pulang. Mama Rosa menggendong cucu sedangkan Alvian membantu Nafisah berjalan dan memasuki kamarnya. Mama Rosa meletakkan Fatih yang tertidur di box bayi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh mama Rosa.
"Memang bayi kerjaannya tidur aja yah ma?" tanya Alvian menatap bayi nya yang masih pulas tidurnya.
"Kamu mau bayi mu kerja gitu?" jawab mama Rosa.
"Ya nggak, maksud Al apa gak kenapa kenapa kalo tidur terus?"
"Bayi memang begitu, kalo dia lapar dan haus baru dia rewel."
Nafisah menggeleng tersenyum melihat suaminya yang menurutnya sangat lucu.
"Ya sudah, mama keluar dulu." Mama Rosa berjalan keluar kamar Alvian dan Nafisah.
Alvian masih betah menatap putranya sesekali juga mengelus pipi nya. Fatih menggeliyat merasakan sapuan di pipi nya dan disusul menangis.
"Sayang, dia nangis." kaget Alvian.
"Bawa sini mas, mungkin Fatih haus."
Alvian menggendong Fatih yang masih menangis dan memberikannya pada Nafisah. Sesampainya ditangan Nafisah Fatih langsung diam,mulutnya mencari cari sumber asi nya. Nafisah tertawa melihat putra nya.
Menemukan sumber asinya Fatih langsung menyedotnya. "Lihat lah mas,dia pintar sekali." ucap Nafisah tersenyum memperhatikan Fatih.
"Sayang, apa gak habis di sedot terus begitu?" Tanya Alvian yang melihat Fatih menyedot sumber asi nya dengan sangat kuat.
"Sebanyak manapun Fatih minum, Asi nya gak akan habis mas, Hingga dua tahun dan asi akan berkurang walau tidak habis."
"Jadi mas bisa kebagian juga dong." tanya Alvian dengan senyum mencurigakan nya.
"Gak, ingat mas, ini cuma punya Fatih." tegas Nafisah.
"Tapi, sebelumnya kan itu punya mas, Fatih yang merebutnya dari mas."
Nafisah membolakan mata nya mendengar tuturan Alvian.Mana mungkin ia bisa berebut dengan anak nya?.
"Ya Allah mas mas." Nafisah menggeleng. Selesai memberi asi dan Fatih pun sudah nyenyak tidurnya Nafisah meletakkan kembali Fatih di box bayi.
"Ah, mas!" Kaget Nafisah Alvian memeluknya dari belakang.
"Makasih ya!" bisik Alvian tepat dibelakang telinga Nafisah.
"Untuk semua nya, makasih sudah mau jadi istri ku, makasih sudah mau jadi ibu dari anakku, makasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang tak ternilai ini. Mas sangat bahagia." bisiknya kemudian mencium ceruk leher bawah telinga Nafisah.
Nafisah kemudian berbalik,dan berhadapan dengan Alvian, mata mereka kini beradu menatap dengan penuh cinta. Nafisah meraba wajah Alvian sambil tersenyum kemudian menangkup wajah Alvian dengan sebelah tangan kanannya dan tangan kirinya merangkul bahu Alvian.
__ADS_1
"Makasih juga mas sudah jadi suami Naf, suami yang sangat hebat buat Naf, terima kasih atas segala kasih,sayang dan cinta yang mas beri pada Naf. Dan Naf merasa menjadi wanita yang sangat beruntung memiliki suami seperti mas, Tampan, baik, penyayang,lembut, sabar, emm..paket komplit deh pokoknya."
Alvian kekeh kecil mendengar ungkapan Nafisah.
"Tapi yang terutama Naf sangat bersyukur dan berterima kasih sama Allah yang sudah memberikan Naf ALVIAN PRATAMA ATMAJA sebagai suami Naf, Allah sangat sayang sama Naf." ucap nya dengan mata berkaca kaca. Ia tidak menyangka pernikahan yang awalnya karena perjodohan, menjadi istri yang tak diinginkan namun semua indah pada waktunya. Allah sangat baik kepada hambanya.
"Iya, Allah sangat baik, sudah memberikan mas bidadari sepertimu, menjadikan bidadari surga untuk mas nanti nya."
"Aamiin" jawab Nafisah.
Alvian mendekatkan wajahnya pada Nafisah dan kini semakin dekat,kini bibir Alvian menempel di bibir Nafisah,serta ******* nya lembut dan kini menjadi menuntut.Nafisah memejamkan mata menikmati perlakuan manis suaminya, ia menyambut dengan penuh perasaan.Hingga pasokan oksigen seolah habis baru kemudian Alvian melepaskan pagutannya.
Kening mereka menyatu dan dengan nafas yang masih tersengal. "I love you honey, I love you more." Alvian menangkup wajah Nafisah.
"I love you to mas." balas Nafisah tersenyum. Ia sangat bahagia, kini Alvian sangat sering mengatakan cinta padanya, kata cinta yang dulu sangat ingin dia dengar.
"Kita buat adik untuk Fatih?" ucap Alvian tersenyum menaikkan alisnya.
"Mas tidak lupakan, Naf baru saja melahirkan?"
"Tidak". jawab Alvian.
"Jadi sudah tau kan mas mesti puasa sampai empat puluh hari."
"Ya bisa dong mas, dulu pas mas belum nikah kan juga puasa sampai puluhan tahun."
"Itu beda sayang, dulu belum pernah merasakannya, sekarang? candu, mana bisa ditahan.! " ucapnya lemas.
Nafisah hanya tertawa mendengar keluhan suaminya. "Sabar mas, nanti Naf bantu mas menuntaskan hasrat mas dengan cara Naf."
"Bagaimana?" tanya Alvian penasaran.
"Ada deh." Nafisah berjalan menuju tempat tidurnya.
"Ayo katakan yang." Alvian menyusul dan memeluk Nafisah.
"Nanti malam mas, Naf janji."
"Sekarang saja, mas lagi pengen ini." ucap nya memelas.
Nafisah merasa kasihan pada suaminya itu, Ia tidak tega melihat suaminya yang sudah dipuncak gairah, dengan pelan ia membawa Alvian naik keranjangnya dan membuka kancing kemeja suaminya.
"Tok tok tok...
Tangan Nafisah terhenti mendengar pintu kamar mereka diketok.
__ADS_1
"Al, Buka pintu nya."
"Ck.. dengan berat Alvian berjalan dan menarik handle pintu.
"Ada apa mah?" tanya nya membuka sedikit pintu.
"Ini, kasihkan nafisah. Dia harus banyak makan atau ngemil karena sedang menyusui." mama menyerahkan beberapa roti pada alvian. Alvian mengambilnya kemudian kembali menutup pintu dan menguncinya.
"Hey Al,,kenapa dikunci? ingat Nafisah masih masa nifas,kamu gak boleh deketin." teriak mama dari luar. Tanpa peduli omongan mama nya Alvian kembali mendekati Nafisah.
"Ayo yang lanjutkan."Nafisah membantu suaminya mendapatkan pelepasan dengan tangannya, dan itu membuat Alvian sangat bahagia, ia tidak tersiksa lagi dengan bantuan istrinya.
"Makasih sayang, kamu sungguh luar biasa". Alvian mencium kening Nafisah dengan penuh rasa cinta. "Makasih mommy Fatih" ucap ny kemudian mengecup kembali kening Nafisah.
"Mommy?"
"Iya, mommy," jari nya menunjuk Nafisah kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Daddy."
"Kok mommy Daddy?"
"Kamu mau nya anak kita manggil apa dong?" Alvian minta pendapat Nafisah.
"Umi dan Abi." jawab Nafisah.
"Abi?" tanya nya kaget. "Tapi mas bukan pria yang agamis sayang.Gak cocok dipanggil abi.kalo mas seorang ustadz tadi baru pas"
"Gak mesti seorang ustadz baru dipanggil Abi lho mas.Kan bagus juga panggilan Abi." jelas Nafisah.
"Ya sudah, mas setuju Umi." jawab Alvian menjawil hidung Nafisah.
"Iiihh Abi. Sakit tau." ucapnya manja sambil menggosok hidungnya.Mereka tertawa bersama, walaupun hal kecil namun bisa membuat mereka bahagia.
.
.
Bersambung.
Happy reading 😊😊
Jangan bosan membacanya ya readers, nantikan kelanjutan kisah nya ya.
Untuk kisah Safira kita buatkan kisah tersendiri yah✌️✌️ Nantikan kisah Safira dan Gus zayyan yah.😊
happy reading 🥰🥰 jangan lupa tinggalkan jejak nya.🥰🥰
__ADS_1