Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
42


__ADS_3

Alvian dan Azka beranjak pergi menuju mobil yang diparkiran, Alvian duduk dikursi depan dan Azka yang menyetir. Azka melajukan mobilnya santai dan juga sedikit macet tetapi mendapat protes dari Alvian.


"Lho nyetir kenapa lamban banget sih ka? kayak siput tau gak!" decaknya kesal protes.


Azka merubah pandangannya kesamping juga bicara protes kesal. "Siput gimana? lho gak liat tu jalanan macet?" protes nya juga kesal.


"Kenapa bisa macet sih? selalu saja macet? kenapa juga orang orang juga keluar saat gue lagi buru buru." dumelnya protes karena jalanan macet, ia tidak sabar ingin bertemu sang pujaan hatinya namun macet dijalan memperlambat perjalanannya.


Azka memutar bola mata kesal dengan Alvian, bagaimana tidak kesal, dari tadi kerjanya ngomel dan protes kenapa lama sekali nyampai tujuan.


"Kenapa lho gak bilang keorang orang, suruh mereka Jangan keluar saat jam lho keluar?"


"Lho kira gue raja negara ini bisa mengatur sesuka gue?"


"Nah itu, lho tau. jadi jangan protes, mau macet kek, mau sepi kek, lho jangan banyak protes." skak Azka membuat Alvian terdiam.


"Ck" Alvian berdecak dan membungkam mulutnya tidak bicara lagi.


Kini mereka sudah sampai di depan butik Sarah fashion.Saat hendak memarkirkan mobil, mereka melihat mobil yang tidak asing bagi mereka, tapi siapa? dan tak lama mereka bicara pemilik mobil pun masuk dan mengendarai mobilnya keluar area parkiran.


"Itukan Salman? sedang apa dia disini?" tanya Alvian heran.


"Ya tanya dia nya lah kalo kepo! jangan tanya gue, gue gak tau." ucap Azka sembari mematikan mesin mobil. "Ya udah keluar, nunggu apa lagi." Azka membuka pintu mobil dan keluar, begitupun Alvian.


Dengan langkah pelan Alvian melangkah memasuki butik, jantungnya benar benar berdegup kencang melihat pintu masuk butik itu, semakin dekat langkahnya maka semakin cepat detak jantungnya berpompa.


"Selamat datang di butik Sarah fashion mas, ada yang bisa dibantu?" ucap salah seorang karyawan butik pada Azka dan Alvian.


"Ya Tuhan, ganteng banget ciptaan mu!" Gumam karyawan itu dalam hati, ia melirik Azka juga Alvian dan tersenyum lebar.


"Oh iya mbak, kami ingin bertemu dengan pemilik butik ini" ucap Azka.


"Maaf mas, apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya karyawan itu lagi.


"Belum".


"Maaf mas, tapi sayangnya pemilik butik ini sedang tidak ada disini, buk Sarah sedang ada keperluan lain.Kalau boleh tau ada keperluan apa ya mas mas nya?" ucap karyawan yang bername tag Vera itu, matanya melihat Alvian dan Azka bergantian dengan tatapan berbeda.


"Ya Tuhan, ganteng banget, dua duanya ganteng. gue pilih yang mana yah? gue bingung! tapi siapa yang lebih tajir yah?" monolog nya dalam hati sembari melihat Alvian dan Azka bergantian.


"Ck, apa apaan ni karyawan. resek banget. Matanya gak bisa dijaga yah" dumel Alvian dalam hati, ia jengkel melihat karyawan yang centil seperti itu.Mungkin dia akan centil dan menggoda pria pria tampan yang datang kebutik ini, Tapi itu tidak akan mempan buat Azka dan Alvian.


"Kami ingin bertemu dengan anak Bu Sarah mbak, ada urusan penting yang akan kami bicarakan."


"Oh, mbak cahaya. Sebentar ya mas, saya temui beliau dulu." ucapnya tersenyum sembari berbalik badannya meninggalkan Alvian dan Azka, bagi Alvian senyum Vera itu sangat menjengkelkan.

__ADS_1


Tok..tok.. Vera mengetuk pintu ruangan Sarah yang saat ini ditempati cahaya.


"Masuk", ucap cahaya mempersilahkan. "Vera, ada apa?" tanya nya.


"Ada dua orang pria dibawah ingin bertemu mbak cahaya." jelasnya .


Cahaya mengernyitkan dahinya, "perasaan saya gak ada janji dengan siapa pun hari ini " gumamnya.


"Siapa ver?" tanya nya penasaran.


"Gak tau mbak, tapi cowoknya ganteng ganteng lho mbak, dan tajir kayaknya." ucap Vera tertawa kecil.


"Kamu ini, tau aja mana cowok ganteng dan kaya." Cahaya menggeleng melihat Vera.


"Ya udah, kamu duluan nanti saya nyusul."


Vera kembali menghampiri Alvian dan Azka.


"Silahkan duduk dulu mas, mbak cahaya akan segera turun." ucap nya mempersilahkan Azka dan Alvian duduk dikursi tamu, Azka dan Alvian mengikuti dari belakang.


"Mau minum apa mas?" tanya Vera mengedipkan matanya.


Alvian dan Azka langsung memalingkan wajahnya dari Vera, mereka sungguh tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Vera.


"Mas, kok diam? mau minum apa?" tanyanya lagi karena tadi tidak mendapat jawaban.


"Ver, mana tamunya" tanya cahaya sembari menuruni tangga, kepalanya menunduk melihat kertas kertas gambar desain bunda Sarah sehingga ia belum tau dan melihat siapa tamunya.


Darah Alvian berdesir mendengar suara Nafisah, jantungnya semakin berdegup kencang seolah tidak ada Jedah degupnya dan akan meledak. Ia memegangi d**a nya.


Azka juga terpaku melihat sosok yang ada didepannya, wanita yang mereka pikir sudah meninggal,ternyata saat ini ada didioan matanya dalam keadaan sehat wal Afiat, Azka sangat bahagia melihat Nafisah, ia bahagia Alvian akhirnya bertemu dengan istri tercintanya, ia bahagia melihat Alvian bahagia.


"Sayang" ucap Alvian pelan, ia tidak sanggup membuka mulutnya,ia masih terpaku melihat sosok wanita yang amat ia cintai saat ini berada didepan matanya.


Cahaya mengangkat kepalanya dan melihat dua orang pria didepannya.Ia terfokus melihat Alvian seolah hatinya mengenal siapa Alvian.


Deg..


jantungnya seketika berdebar melihat mata Alvian, kini mata mereka saling bertemu,pandangan mereka terkunci satu sama lain.


"Kenapa? kenapa jantungku bereaksi begini saat melihat pria ini?" ucapnya dalam hati.


"ini minumannya mas" ucap Vera yang datang membawa nampan berisi dua gelas teh, suara Vera menyadarkan cahaya dan ia memutuskan pandangannya dari Alvian.


"Eh, maaf mas, silahkan duduk" cahaya mempersilahkan, namun Alvian masih menatap cahaya dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


Vera yang melihatnya pun merasa bingung. "Kenapa mas mas ini melihat mbak cahaya begitu yah?" gumamnya dalam hati, ia meletakkan nampan dimeja dan langsung pergi meninggalkan Alvian,Azka dan cahaya.


"Maaf mas, ada yang bisa dibantu?" tanya cahaya lembut. Suaranya begitu lembut membuat Alvian serasa ingin memeluknya saat ini juga.


"Sayang, kamu gak ngenalin mas?" tanya Alvian menatap mata cahaya. Azka hanya diam memberi Alvian waktu untuk melepaskan rindunya dengan Nafisah.


"Sayang, Nafisah, ini mas, suami kamu."


"Nafisah? Maaf mas saya cahaya, mas mungkinkah salah orang."


"Gak mungkin, mas gak salah, kamu beneran Nafisahya mas!" ucapnya tersenyum bahagia, ia mendekat kepada cahaya dan ingin menyentuh Nafisah namun langkahnya terhenti.


"Stop. berhenti disitu jangan mendekat, sudah saya katakan saya cahaya,bukan Nafisah." ucapnya tegas.


"Tapi sayang, kamu Nafisah nya mas, istri mas, dan sejarang kamu lagi hamil."


Deg.. "Darimana dia tau kalau aku hamil? apa benar dia suamiku?" dialognya dalam hati.


Alvian kembali ingin mendekat namun lagi lagi cahaya menghentikannya.


"Stop." ucapnya memberi syarat dengan tangannya. Sekali lagi saya katakan saya cahaya,bukan nafisah. Lebih baik kalian keluar."


Alvian sangat terluka mendengar tolakan cahaya, ia sangat sakit melihat istrinya melupakan nya.


"Sayang, cobalah ingat kenangan kita, mas_" ucapannya terhenti melihat cahaya meringis memegangi kepalanya.


"Sayang." Alvian hendak mendekat namun Nafisah mengusirnya.


"Sebaiknya kalian keluar" ucap cahaya dingin sembari meringis.


"Al, lebih baik kita keluar, tidak baik memaksa ingatan Nafisah, bahaya." Azka menarik Alvian.


"Tapi ka, Nafisah_!" ucapannya terhenti oleh ucapan Azka.


"Kamu jangan paksakan, kamu mau ingatannya hilang selamanya?" tanya Azka dan akvian menggeleng.


"Nah, lebih baik kita pulang, besok kita temui Nafisah lagi, pelan pelan saja, insyaallah Nafisah akan mengingat semuanya."


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya🥰 like, coment dan vote nya, agar aku bisa semangat buat ceritanya🥰

__ADS_1


mohon dukungannya🙏🥰


__ADS_2