
Sore ini seperti biasanya Nafisah hendak mandi sebelum menyambut kepulangan Alvian, walaupun tidak ada bau badan ditubuhnya tapi ia merasa tidak enak jika bersama suaminya dalam keadaan berkeringat.
Ia mendengar deru mobil Alvian tepat saat ia sudah selesai mandi dan berpakaian, rambutnya yang masih basa ia tutupi dengan handuk.
Ceklek..
pintu dibuka, "Assalamualaikum mas," Nafisah menghampiri menyambut Alvian.
"Waalaikumsalam sayang. Baru mandi?" tanya nya sambil mengendus bahu Nafisah yang harum strawberry.
"Iya mas, mas mandi gih, abis itu mas beli martabak yah." ucapnya tersenyum.
"Martabak? kenapa gak bilang mas dari tadi? kan bisa mas belikan sambil pulang."
"Mas gak mau belikan?
"Bukan sayang, kalo tadi bilang kan gak jadi bolak balik."
"Ya udah kalo mas gak mau belikan, Naf aja yang beli sendiri." rajuknya kemudian dengan cepat memakai hijab instannya dan juga cadar lalu keluar kamarnya.
Alvian mengusap wajahnya merasa bersalah pada istrinya, seharusnya ia tidak mempermasalahkan ini, apa salahnya nuruti keinginan istri, cuma karena banyaknya pekerjaan dan tubuh yang lelah membuatnya susah berfikir jernih.
"Sayang," Alvian berlari menyusul Nafisah.
"Ada apa? kalian bertengkar?" tanya mama Rosa heran melihat Nafisah berjalan dengan wajah sedih kemudian Alvian berteriak mengejarnya.
"Tidak ma, Nafisah hanya merajuk." ucap Alvian kemudian melanjutkan jalannya menyusul Nafisah.
"Sayang." Alvian menarik tangan Nafisah dan menghadapkan tubuh Nafisah dihadapannya.
"Sayang, maafin mas. Oke, sekarang kita beli martabak ya!" Alvian mengelus wajah Nafisah yang tertutupi niqab. Nafisah mengangguk kemudian Alvian membawa tubuh Nafisah kedalam mobil. Ia melajukan mobilnya pelan mencari martabak favorit Nafisah.
Setelah mendapatkan martabaknya, alvian memberikan martabak itu pada Nafisah, dengan sangat senang Nafisah melahap martabak itu. Alvian tersenyum melihat kebahagiaan Nafisah.
"Hanya dengan martabak bisa buat kamu bahagia, sungguh aku sangat bodoh tidak bisa membahagiakan istriku dengan hal sekecil ini."
Ucap nya dalam hati sambil memperhatikan Nafisah yang lahap memakan martabak.
__ADS_1
"Seneng banget." Alvian menyapu ujung bibir Nafisah yang belepotan. "Sudah? kita pulang yah?" tanya Alvian dan Nafisah mengangguk.
"Kalian dari mana?" tanya mama Rosa saat Alvian dan Nafisah sudah berada diruang tengah.
"Beli martabak mah, ini buat mama" Alvian memberikan satu bungkus martabak pada mama rosa.
Setelah solat Maghrib, seperti biasa mereka makan malam bersama, semua kumpul dimeja makan, hanya Safira saja tidak ada, rasanya sangat sepi tidak ada Safira, tidak ada keusilannya mengerecoki semua orang. Alvian memandang kursi ditempat Safira. Ia merindukan adik nya itu. Kakek terus bicara tidak sabar menantikan kelahiran cicitnya.
"Masih seminggu lagi kek, sabar." Alvian menjawab.
"Aisss..lama sekali, tidak bisakah cicitku keluar sekarang? Kakek tidak sabar ingin menggendong nya." ucapannya sambil tangannya memperagakan menggendong bayi, dan itu membuat semua tertawa.
"Kakek pikir aku akan izinkan kakek menggendongnya? tidak. hanya aku yang boleh menggendong anak ku." ucap Alvian membuat kakek melotot tidak terima.
**
"Istirahatlah lebih awal." Ucap Alvian sambil melepaskan mukenah Nafisah, mereka baru saja menyelesaikan sholat isya.
"Iya mas," Nafisah menurut berdiri dan memutar badannya hendak menuju tempat tidur.
"Aduhh..." tiba tiba Nafisah meringis memegangi perutnya.
"Sakit mas, bantu Naf naik mas" ucap Nafisah, Alvian membantu Nafisah ketempat tidur dan berbaring.
"Masih sakit?" tanya Alvian dan Nafisah menggeleng, memang rasa sakitnya menghilang, tapi kemudian sakit itu datang lagi, ia pun tidak mengerti apa sebenarnya, kontraksi palsu atau memang mau melahirkan.
"Sayang, sakit lagi? apa kamu mau melahirkan? tanya nya namun Nafisah tidak menjawab karena menahan rasa sakit.
"Kita kerumah sakit yah." Alvian langsung menggendong Nafisah keluar kamar, ia teriak memanggil mama nya kemudian meletakkan Nafisah dikursi tengah sbil menunggu mama Rosa turun.Mama rosa pun juga panik melihat Nafisah yang akan melahirkan. Saat ini kakek, papa dan mama rosa sudah berkumpul dan akan ikut menemani Nafisah kerumah sakit.
Tring..tring...tring...
Ponsel papa berdering, dan papa langsung mengangkat nya saat melihat panggilan dari nomor pesantren kyai Anwar.
"Assalamualaikum" ucapnya
"Astaghfirullah" sambung papa syok, melihat perubahan diwajah papa, mama Rosa me dekat dan bertanya.
__ADS_1
"Iya kyai, kami akan segera kesana. Waalaikumsalam" jawabnya dan mematikan panggilan.
"Ada apa pa?" tanya mama lagi. Kakek, Alvian dan Nafisah menatap papa ingin tahu apa kabar yang membuat papa nya syok dan marah.
"Safira akan menikah malam ini."
"Apa?" jawab mereka kompak, mereka sangat kaget mendengar nya. Bagaimana mungkin Safira bisa menikah.
"Bagaimana bisa pa? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mama yang juga cemas dan khawatir.
" Nanti kita akan mendengar nya langsung, lebih baik kita kesana sekarang." ucap papa.
"Tapi bagaimana Nafisah?" mama Rosa memandang Nafisah dan Alvian bergantian.
"Gak apa mah, mama pergi aja, mas Al kan ada bersama Naf ma." ucap Nafisah sembari meringis.
"Iya ma, Naf benar, lebih baik mama dan papa pergi sekarang, Safira pasti butuh bantuan mama dan papa."
Dengan berat hati mama Rosa dan papa pergi meninggalkan anak dan menantunya. Alvian juga dengan cepat membawa Nafisah kerumah sakit dan ditemani juga oleh kakek.
Tiba dirumah sakit Nafisah langsung dibawa keruang bersalin. Nafisah minta Alvian mendampinginya saat proses persalinan.
Sungguh jika saja Alvian bisa memindahkan rasa sakit Nafisah kepada dirinya. Rasanya Ia tidak sanggup mendengarkan Nafisah
menjerit kesakitan,berjuang sekuat tenaga mendorong agar bayinya segera melihat dunia.
Wajah Nafisah sudah penuh dengan campuran peluh dan air mata, Alvian menyeka lembut peluh yang membasahi wajah Nafisah.
"Mas," ucap Nafisah sambil meremas kuat tangan Alvian. Alvian meringis menahan sakit ditangannya, tapi ia tahu rasa sakit tangan nya tidak sebanding dengan rasa sakit Nafisah.
Dokter memberikan aba aba dengan lembut agar Nafisah menarik nafas dan menghembuskannya sebelum berusaha mendorong lagi.
Kata kata yang diucapkan dokter persis seperti bujukan kepada anak anak agar percaya diri untuk melakukan sesuatu.
"Tarik nafas...keluarkan pelan pelan....dorong lagi...ayo sayang...kamu pasti bisa cantik..terus.. sedikit lagi.."
Bukan hanya Nafisah yang tersengal, tanpa disadari Alvian juga tersengal mengikuti arahan dokter tadi. Dokter memberi aba aba lagi. Kali ini Nafisah sekuat daya upaya mendorong keluar bayi nya, lebih semangat lagi saat dokter mengatakan kalau rambut bayi sudah terlihat.
__ADS_1
Seiring teriakan panjang Nafisah dan cengkraman kuat dilengan alvian terdengar tangisan menggema diruang bersalin itu.
Alvian tak bisa menahan air mata saat mendengar tangis pertama darah dagingnya.