
"Pak Alvian mengalami kehamilan simpatik. Kehamilan simpatik terjadi karena suami sangat mencintai istrinya dan tak ingin istrinya merasakan sakit,biasanya akan dirasakan oleh suami saat istrinya sedang hamil dan semua rasa mual dan ngidam suami yang mengalami".
"T..tapi dok, menantu saya sudah meninggal beberapa minggu yang lalu." Mama menimpali.
Dokter mengernyitkan dahinya, "tapi jika istri sudah tiada otomatis anak dalam kandungan pun tiada,gak mungkin suami akan merasakan ngidam."
Deg...
Jantung Alvian kembali berdetak cepat mendengar ucapan dokter. Dan yang lain juga merasa cukup kaget mendengar nya.
"Saya permisi dulu tuan Atmaja." permisi dokter meninggalkan kamar dan diantar oleh kakek.
"Mah", Alvian tak sanggup untuk bicara, bibirnya bergetar ingin bicara namun tidak bisa, matanya berkaca kaca menatap sang mama, ia sangat bahagia dengan kabar ini.
"Nafisah ma, a..anak ku." sambungnya terbata
"Mama mengangguk dan duduk disamping Alvian. "Ia Al mama tahu, mama gak menyangka semua ini." mama rosa pun meneteskan air matanya.
"Hati kakak ternyata benar, kak Nafisah masih hidup, cari kak Nafisah kak, bawa kakak ipar pulang secepatnya." Safira menimpali.
"Papa akan mengerahkan orang orang papa membantumu Al".
"Makasih pa." Alvian langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Azka.
"Ka, kamu suruh orang mu menelusuri sungai tempat kecelakaan nafisah kemarin, telusuri alur sungai itu,dan tanya warga sekitar jika mereka menemukan Nafisah. kasih hadiah bagi yang menemukannya." perintahnya pada Azka, lalu ia mematikan ponselnya.
Mama,papa dan Safira keluar dan meninggalkan Alvian sendiri dikamar, Alvian harus banyak istirahat.
Sudah tiga hari pencarian namun Alvian belum mendapatkan kabar baik, mereka belum menemukan Nafisah, Alvian merasa gusar karena belum menemukan istrinya.
"Sayang, tunggu mas yah, mas akan secepatnya menjemputmu." ucapnya dalam hati sambil menendangi foto Nafisah dilayar ponselnya, ia menggulir layar ponselnya melihat foto foto Nafisah sembari tersenyum. "Kamu lucu belepotan es krim begini" Ia melihat foto Nafisah yang wajahnya belepotan es krim karena ulahnya menempelkan es krim diwajah Nafisah.
Ia meneguk Saliva merasa kepengen makan es krim. "Kok aku jadi pengen es krim? Apa aku ngidam?" Alvian menyunggingkan bibir tersenyum mendengar kalimat ngidam keluar dari mulutnya.
"Baik sayang, mas akan beli es krim karena anak kita menginginkannya." Alvian melajukan mobilnya menuju mini market, setelah sampai ia memarkirkan mobilnya dan segera turun. Ia berjalan sambil melihat notif pesan yang baru saja masuk.
Bugh..
Aww... Suara seseorang terjatuh karena bertabrakan dengan tubuhnya.
"Hey, kalau jalan pake mata" ucap Alvian kesal.
__ADS_1
"Maaf pak" ucap seorang wanita menyapukan kedua telapak tangannya yang kena pasir, ia mendongak menatap Alvian meminta maaf.
Deg...
Hatinya Alvian bergetar seketika,jantungnya berdetak tidak karuan melihat sepasang mata yang menatapnya.Begitupun gadis itu, hatinya bergetar melihat wajah Alvian, tidak tau mengapa wajahnya seperti tidak asing baginya.
"Mata itu!" Batinnya.
"Maf pak, saya gak sengaja." ucap wanita itu, karena Alvian hanya diam ia langsung beranjak pergi.
Alvian tersadar dari lamunannya namun wanita itu sudah jauh melangkah meninggalkannya. Alvian memegang dadanya, rasanya ia sangat mengenal mata itu.
"Naf, apa itu Nafisah? tapi kenapa dia tidak mengenaliku? tidak mungkin, tapi hatiku bergetar melihat matanya." Ucapnya dalam hati memandangi wanita itu semakin jauh.
"Kenapa ini? kenapa hatiku bergetar begini? kenapa juga aku sedih meninggalkan pria itu?" batinnya dengan tangan didada.
***
ting nong...
suara bell rumah berbunyi, bik sadah membukakan pintu.
"Malam bik, buk Sarah nya ada?"
Tak lama Sarah turun, ia mengernyitkan dahi nya heran melihat siapa yang datang.
"Pak Salman!" Bunda Sarah menghampiri.
"Buk Sarah, selamat malam" ucapnya mengulurkan tangan dan disambut oleh bunda Sarah.
"Bapak tau rumah saya? dan ada keperluan apa ya?" tanya nya heran.
"Tidak ada buk, saya hanya ingin silaturrahmi dengan ibu Sarah, sebagai sesama muslim kan kita harus menguatkan silaturrahmi ya gak buk" ucapnya percaya diri.
"Hehehe...iya,iya pak, pak Salman betul."
bik sadah datang membawakan minuman dan cemilan.
"Silahkan diminum pak" bunda Sarah mempersilahkan.
"iya buk" Salman mengambil gelas berisi teh dan meneguknya, matanga berkeliling melihat sekitaran, bunda Sarah yang memperhatikannya merasa heran.
__ADS_1
"Emm..Cahaya mana buk?" tanya Salman.
Bunda Sarah tersenyum, sekarang ia tahu maksud Salman datang pasti ingin bertemu dengan cahaya.
"Cahaya ada dikamarnya, kenapa pak?"
"Eh, ti tidak apa buk".
"Pak Salman tertarik dengan putri saya?" tembaknya langsung membuat Salman salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehee.... ibuk tau saja, apa ibu setuju jika saya ingin dekat dengan cahaya?" tanya Salman tersenyum.
"Hmmm....Saya sih terserah cahaya saja, siapa pun yang dia inginkan jadi suami saya restui." ucap bunda Sarah membuat Salman tersenyum lebar, ucapan bunda Sarah seolah lampu hijau baginya.
"Tetapi". Bunda Sarah menggantung ucapannya.
"Tetapi kenapa buk" Salman penasaran.
"Cahaya sedang hamil."
Duar...
Bagai disambar petir Salman mendengarnya, ia sungguh kaget mendengar cahaya sedang hamil.
"Bagaimana mungkin wanita seperti cahaya yang sepertinya alim bisa hamil" batinnya tak percaya.
Melihat wajah Salman datar bunda Sarah melanjutkan kata katanya.
"Suaminya meninggal beberapa waktu lalu"
Duar..Sekali lagi Salman terkejut akan kabarnya.
"Me..meninggal?" Salman tergagap, ia memandangi wajah Sarah lekat.
"Ia pak, menantu saya meninggal karena kecelakaan, kasihan cahaya padahal dia sedang hamil." Bunda Sarah bersedih.
"Ma..maf buk, saya tidak bermaksud membuat ibuk sedih. Kasihan cahaya, dia pasti sangat terpukul. Buk kalau boleh izinkan saya membantu cahaya lepas dari kesedihannya."
"Terima kasih pak Salman, saya sangat senang."
"Ya sudah buk Sarah, saya permisi pulang dulu, sudah malam."
__ADS_1
Salman pulang mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman bunda Sarah.