
Cahaya merenung didalam kamarnya,ia masih teringat dengan laki laki yang menjumpai nya kemarin dan mengaku sebagai suaminya.
"Nafisah? nama itu seperti tidak asing bagiku. apa benar yang dikatakan pria tadi? apa benar dia suamiku?" cahaya bermonolog sendiri didepan cermin.
"Tidak, tidak, tidak. aku gak boleh percaya begitu saja, bagaimana dia bisa mengenaliku jika dia tidak melihat wajahku ini!" cahaya menyentuh wajahnya.
"Tapi mata itu, aku seperti sangat mengenal mata itu, mata yang menatapku seperti merindu. Kenapa aku gak bisa mengingat nya?aahh" Cahaya memegangi kepalanya yang terasa pusing karena ia memaksakan untuk mengingat memori memori yang hilang.
Ceklek,, suara pintu kamar cahaya terbuka.
"Cahaya! kamu kenapa nak?" bunda Sarah panik melihat cahaya meringis sembari memegangi kepalanya.
"Kepalaku sakit banget bund!"
Bunda Sarah membantu cahaya berjalan dan membaringkannya ditempat tidur. Ia memberikan obat dan segelas air pada cahaya.
"Minum dulu!"
Cahaya memasukkan obat kedalam mulutnya dan meneguk air dalam gelas hingga separohnya dan gelasnya langsung diberikan kepada bunda Sarah.
"Gimana sekarang?"
"Uda mendingan Bun!" Cahaya menyenderkan badannya di headboard tempat tidur.
"Kenapa bisa kepala mu sakit? apa kamu memaksakan ingatanmu lagi?" tebak bunda Sarah.
"Bund, tadi ada dua orang pria yang datang kebutik".
Bunda Sarah mengernyitkan dahinya "Siapa?"
"Salah satu dari mereka mengaku sebagai suamiku, dan dia mengatakan kalo namaku adalah Nafisah bund."
Bunda Sarah kaget mendengar ucapan cahaya, ia berfikir mungkin saja keluarga cahaya memang sedang mencarinya.
"Cahaya, selama ini bunda tidak mengetahui identitas mu, nama mu, keluarga mu, bunda tidak mengetahuinya, dan sekarang ada yang menemuimu mengatakan dia suami mu, itu mungkin saja nak, mungkin keluargamu saat ini sedang mencarimu." bunda Sarah menggenggam tangan cahaya.
"Aku gak tau bund, tapi saat melihatnya jantungku berdetak sangat kencang, wajahnya seolah aku sangat mengenalnya. Tapi kenapa aku gak bisa mengingatnya!"
"Sekarang lebih baik kamu istirahat, jangan memaksakan mengingat nya, itu sangat bahaya. Biar waktu yang akan mengembalikan ingatanmu nak."
Cahaya hanya mengangguk mendengar nasihat bunda Sarah.
Bunda Sarah keluar dari kamar cahaya, ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Jika yang dikatakan cahaya adalah keluarganya aku bersyukur banget, dia akan berkumpul lagi dengan keluarganya." Monolognya sendiri tersenyum,kemudian wajahnya berubah sendu. " Jika cahaya pulang, aku bakal sendiri lagi, padahal aku sudah sangat sayang dengannya, aku Uda anggap cahaya adalah putriku." ucapnya sendu.
**
Salman mengambil beberapa kotak susu ibu hamil dirak belanjaan.
"Kira kira Cahaya suka rasa apa yah? ah, beli semua rasa saja." Monolognya sendiri, ia mengambil semua susu berbeda rasa karena ia tidak tahu kesukaan cahaya. Ia juga mengambil beberapa Snack untuk cemilan dan juga buah buahan. Setelah selesai ia membawa troli kekasir namun langkahnya terhenti saat Alvian berada didepannya.
"Salman!"
"Alvian!" Ucap mereka kompak.
Alvian melirik isi troli belanjaan Salman, ia mengangkat sebelah alisnya heran melihat banyak susu ibu hamil didalamnya.
"Susu ibu hamil? siapa yang hamil? apa dia sudah meried?" tanya nya dalam hati.
"Kau belanja susu hamil? siapa yang hamil?" tanya nya juga, ia tidak tahan untuk tidak kepo.
"Jangan kepo! Ya sudah gue mau kekasir", Salman berjalan melewati Alvian.
"Siapa juga yang kepo?" Alvian kesal, ia kembali melanjutkan langkahnya mencari barang yang ingin ia cari.
Salman menenteng barang belanjaannya memasuki rumah bunda Sarah. Ia memencet bel rumah, dan tak lama pintu pun dibuka oleh bik sadah.
"Pak Salman?" bunda Sarah menghampiri Salman.
"Bunda!", Salman langsung menyalami bunda Sarah.
"Cahaya mana bund?" tanya nya melirik arah tangga.
Baru saja ia bertanya, cahaya menuruni tangga dan menghampiri Salman dan bunda Sarah.
"Assalamualaikum pak Salman" Ucap cahaya.
"Waalaikumsalam, Panggil Salman saja jangan pake pak, kedengaran tua banget aku ya." pintanya.
"Ha..eh, iya."
"Ini tadi aku mampir supermarket, ingat kamu jadi aku belikan ini." ucap Salman menyerahkan bungkusan belanjaannya tadi. "Ambillah" Lanjut Salman melihat cahaya yang hanya diam.
Dengan lambat cahaya menerima dan melihat isinya, ia sangat kaget melihat isinya.
"Ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, aku gak tahu rasa kesukaanmu, jadi aku belikan semua rasa, jadi kamu tinggal pilih yang mana kamu suka." ucapnya santai.
Bunda Sarah menggeleng melihat Salman, kok bisa bisa nya membeli begitu banyak susu ibu hamil dengan berbagai merk dan semua rasa.
"Ya ampun pak Salman, sampai segitunya" ucapnya tertawa.
"Gak apa Bun",
"Makasih ya pak, eh sal_man!" Ucap cahaya terbata, ia sangat tidak enak dan canggung memanggil Salman hanya dengan nama.
Ponsel Salman berdering di saku celananya, ia izin mengangkat nya dan sedikit menjauh dari bunda Sarah dan cahaya, tak lama ia pun kembali.
"Bund, cahaya, aku permisi dulu, ada kerjaan yang darurat."
"Oh iya pak, makasih ya sudah repot repot beliin untuk cahaya." ucap bunda Sarah, cahaya hanya diam sedikit menunduk, ia tidak mau menatap pria yang bukan mahramnya.
"Gak apa bund!" ucap Salman sembari melirik cahaya. "Aku pergi dulu Bun, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab bunda Sarah dan cahaya.
Mobil Salman melaju keluar pagar rumah bunda Sarah.
"Itu kan Salman? sedang apa dia disini?" Alvian dan Azka heran melihat Salman keluar dari rumah bunda Sarah.
Tidak mau menerka nerka Azka langsung memasukkan mobilnya ke halaman rumah bunda Sarah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" baru saja bunda Sarah dan cahaya berbalik badan hendak pergi kekamar mereka, ada suara memberi salam membuat mereka berhenti dan melihat siapa yang datang.
Deg..
Deg..
Jantung cahaya langsung berdetak tak karuan saat melihat Alvian, begitupun dengan Alvian, jantung nya berasa ingin keluar dari tubuhnya.
Matanya kembali berkaca kaca melihat Nafisah, ia sangat merindukan istrinya itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..