Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
54


__ADS_3

"Fir," Sila memukul bahu Safira dan duduk disamping Safira sambil melepaskan tas nya. " Tadi gue kerumah lho,kata satpam lho Uda duluan pigi? kenapa gak nunggu gue?" tanya sila.


"Gue kepergok semalam", jawab Fira lesu.


"Kepergok?" beo sila.


"iya, papa ngedapatin gue lagi nongkrong sama tu oli pas jam sekolah kemarin." jelas Safira, ia menceritakan semua yang terjadi semalam hingga mendapatkan hukuman dari sang papa.


"OMG fir, kita gak bisa hangout bareng lagi dong?" sila menangkup pipinya syok.


"Gak tau lah, nanti gue pikirin lagi."


"Ngomongin apa ni?" timpal Tomi yang baru datang.


"Fira disandera sama bokapnya tom, pulang pergi sekolah mesti diintilin." sila menjawab.


"Busyett... Lo kena hukum pas tahu dapat panggilan untuk wali?" tanya Tomi.


"Bahkan lebih parah tom, ia kepergok Nongko Nongko sama kak Endru pas masih jam sekolah.".


"What?? Habis dong lho fir!, trus gimana ni? Minggu depan ada Turing lagi! kalo lo gak bisa gimana dong?" Tomi lemes mendengar nya. Bagaimana tidak lemas, mereka sudah menyanggupi balapan nya, dan sebagai taruhan mereka akan jadi kacung selama sebulan. Yah mereka taruhan dengan lawan biasa mereka di Dion. Dion pernah mengalahkan Tomi waktu Safira belum ikut terjun balapan dengan Tomi.


"Ntar gue pikirkan caranya, muda mudahan ada jalannya." jawab Safira, ia tentu juga resah jika tidak menghadiri perlombaan mereka. Ia tidak mau jika harus menjadi kacung Dion yang super resek, sok kaya dan sok tampan. Padahal mah gak ada apa apanya dia dibanding dengan kekayaan keluarga Safira maupun ketampanan kakaknya ataupun Endru pacarnya.


**


Bel jam sekolah pun berakhir, semua siswa siswi SMA Bina Nusantara pun berhambur keluar, termasuk Safira and friend.


Saat keluar ia melihat mobil berwarna putih milik papa nya sudah terparkir didepan gerbang, ia juga kaget melihat Endru juga ada didepan gerbang dengan duduk tersenyum diatas motornya.


"Ngapain tu si oli?"


"OMG fir, kak Endru pasti mau jemput lho."


"Ngapain lho kesini?" tanya Fira jutek.


"Ya mau jemput lho lah beb" Jawab Endru santai.


"Anjir,, beb sil". Tomi menyikut sila tak percaya.


"Bab beb bab beb pala Lo." Safira mengepalkan tangannya menghadap Endru.


"Ya ampun beb, galak amat jadi cewek." Endru tersenyum menyikapi.


Tomi dan sila hanya tertawa melihat pasangan itu. Sungguh benar benar aneh, biasanya pasangan kekasih akan bersikap lembut dan romantis satu sama lain, eh Safira malah ngajak gelut aja tiap jumpa.

__ADS_1


"Sana lho pulang, gue da dijemput." ucapnya menunjuk mobil didekatnya.


"Biar gue aja yang antar, sopir lho suruh pulang aja." Ucap Endru memberikan helm pada Fira.


"Gak, yang ada gue kena hukum lagi ntar, ini semua gara gara elo tau gak." suara Safira sedikit meninggi karena kesal.


"Hy kak Endru!" Delia muncul bersama Tere.


"Safira nya gak mau kak, mending pulang bareng aku aja kak." ucap Delia begitu semangat. Namun tak mendapat jawaban dari Endru bahkan melihat Delia pun ia enggan.


"Ya udah Sono antar aja tu wanita siluman itu." Safira mengembalikan helm pada Endru kemudian pergi memasuki mobil. Endru hanya melihat mobil yang dinaiki Safira hingga jauh.


"Kak, antar aku ya!" ucap Delia sambil memegangi setang motor Endru dengan tatapan berbinar.


"Re, kamu naik apa?" tanya nya pada Tere sepupunya tanpa memperdulikan Delia.


"Tere dijemput kak."


"Ooh..ya udah, kakak duluan yah." ucapnya kemudian menstarter motornya dan melajukan motornya meninggalkan mereka mereka.


"Puuuffftttt..... hahaha...Kasian deh lu gak dianggap." sila dan Tomi tertawa terbahak melihat Delia yang tak dipedulikan sama sekali dan dianggap tidak ada.


"Sialan lho." Delia menendang kaki Tomi namun Tomi sigap mengelak.


"Hahah..."Mereka masih tertawa sambil berjalan menuju parkiran sekolah.


Tuuuut... Suara ponsel Alvian bergetar diatas meja kerjanya.


"Hallo, assalamualaikum sayang." ucap Alvian yan melihat nama sang istri memanggil.


"Waalaikumsalam mas, mas lagi apa?"


"Lagi ngoreksi berkas berkas ni sayang."


"Ada apa? kamu baik saja kan? sudah makan?"


Nafisah tertawa mendengar pertanyaan suaminya.


"Sudah mas, Naf mau izin kerumah bunda Sarah boleh kan?"


"Kapan?"


"Sekarang, biar Naf minta antar pak Ujang aja."


"Gak usah yang, biar sama mas aja, mas ntar lagi siap ni, tunggu mas yah oke, assalamualaikum emmuach." Alvian langsung mematikan panggilannya sebelum Nafisah sempat menjawab.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Alvian, ia sesegera mungkin menyiapkan berkas yang ada dimeja nya dan bergegas pulang untuk mengantar Nafisah kerumah bunda Sarah. Dan saat ini mobil mereka sudah memasuki halaman rumah bunda Sarah.


"Ayo sayang", Alvian membuka pintu mobil Nafisah dan menggandeng tangan Nafisah berjalan memasuki rumah bunda Sarah.


Bunda Sarah sangat senang Nafisah dan Alvian mau datang kerumah nya, ia sangat bahagia bisa berjumpa lagi dengan Nafisah yang sudah dianggapnya sebagai putri nya.


Nafisah juga sangat bahagia bisa berjumpa dan bermanja dengan bunda Sarah, baginya bunda Sarah adalah ibunya.


"Sayang, malam ini kalian nginap disini yah, bunda masih kangen sama kamu nak." Bunda Sarah mengelus lengan Nafisah.


Nafisah menoleh kearah Alvian meminta pendapat. Alvian yang mengerti arti tatapan Nafisah menganggukkan kepalanya tanda setuju jika mereka akan menginap dirumah bunda Sarah.


"Baik bund, Naf dan mas Al akan nginap disini malam ini." Ucap Nafisah tersenyum.


"Benarkah? bunda sangat senang sekali, makasih ya Al kamu izinin Nafisah nginap." bunda Sarah tersenyum merekah.


"Iya bunda, Seharus nya Al yang berterima kasih sama bunda, bunda sudah seperti ibu bagi Nafisah, makasih sudah menyayangi Naf seperti putri kandung bunda." Ucap Alvian tersenyum.


**


Alvian dan Nafisah kini sedang di dalam kamar Nafisah, Alvian duduk dengan kepalanya menyandar di headboard sedangkan Nafisah berbaring dengan kepalanya diatas paha Alvian. Alvian membelai rambut Nafisah dengan lembut penuh rasa sayang.


"Mas"


"Hem?"


"Bagaimana kehidupan Naf sebelumnya? apa Naf memang tidak punya orang tua?"


"Sayang, kamu mau tau kisah kamu?"


"He'e!" jawab Nafisah mengangguk.


"Kamu itu gadis yang sangat kuat dan tegar sayang, kamu sudah ditinggal oleh mama papa semenjak kamu kecil, dan dirawat oleh kakek kamu. dan kakek kamu meninggal saat kamu sudah selesai kuliah." Alvian bercerita dengan mata berkaca. Ia membayangkan betapa sedih istrinya yang sudah tidak punya orang tua saat masih kecil.


Nafisah yang mendengarnya pun menitikkan air matanya.


"Tapi kamu wanita yang kuat, tegar, ceria, cerdas dan pasti Soleha sayang, mama papa sangat beruntung mempunyai anak yang Soleha seperti kamu, dan mas juga sangat dan saaangat beruntung bisa menjadi suami kamu." ucap nya sambil mengelus rambut Nafisah.


"Mas jangan memuji Naf berlebihan mas." Nafisah merona mendengar pujian dari suaminya. "Terus bagaimana kisah perjumpaan kita?" tanya nya penasaran.


"Kamu yakin mau tau?"


"iya".


Alvian hanya menceritakan kalo pernikahan mereka karena perjodohan oleh kakek kakek mereka, ia tidak mau menceritakan tentang ia menolak dan meminta Nafisah bercerai setelah beberapa bulan pernikahan, baginya itu sangat menyakitkan hatinya, ia tidak mau mengingat sudah memperlakukan Nafisah sebelum ia benar benar Bucin dengan istri Soleha nya ini.

__ADS_1


.


.Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰🥰🥰


__ADS_2