Bukan Istri Yang Dinginkan

Bukan Istri Yang Dinginkan
60


__ADS_3

Nafisah diperbolehkan pulang karena tidak ada luka yang serius, ia dan kandungan juga sehat. Alvian menggandeng lengan Nafisah menuntunnya jalan memasuki rumah.


"Mas, Naf bisa jalan sendiri kok"


"Mas cuma jaga kamu yang, mas takut nanti kamu jatuh."


"Ya Allah mas" Nafisah menghela nafas.


Safira memutar bola mata nya jengah melihat kakaknya, sejak dari rumah sakit tadi ia bener bener enek lihat kebucinan kakaknya. Safira tadi tergesa dengan perasaan khawatir datang kerumah sakit, tapi sampai disana ia malah melihat kemesraan dan kebucinan kakaknya. Tapi ia bersyukur kakak iparnya selamat dan sehat sehat saja.


"Kak, kak Naf itu hanya hamil kak, bukan sekarat hingga kakak menuntunnya berjalan." senggak Safira.


"Kamu anak kecil tahu apa sih." balas Alvian. Safira komat Kamit menirukan bicara Alvian.


"Hey, kamu ngejekin kakak? kakak doain nanti lho yang bakal Bucin sama laki lho." teriak Alvian menatap Safira yang masuk duluan, sementara ia masih menuntun pelan Nafisah berjalan.


Nafisah hanya menggeleng melihat tingkah suaminya ini.


"Apa kamu menginginkan sesuatu sayang? kamu gak ada ngidam sesuatu gitu?" Ucap Alvian memberikan susu hamil pada Nafisah. Saat ini Nafisah sedang duduk bersandar di headboard tempat tidurnya.


"Gak ada mas." jawab Nafisah yang sudah selesai meneguk susu nya.


"Mas heran, kok kamu gak ada ngidam seperti ibu hamil lainnya ya." Alvian meletakkan kepalanya diatas paha Nafisah. Ia menatap mata Nafisah dengan senyum bahagia.


"Emang kalo Naf ngidam mas mau turutin?" tanya Nafisah sambil mengelus rambut Alvian.


"Ya jelas dong sayang. Mas akan turutin apa pun yang kamu mau."


"Kemarin kemarin sih Naf belum ngidam mas, tapi kayaknya sekarang Naf ngidam sesuatu deh."


"Apa sayang?" tanya Alvian semangat sembari duduk.


"Naf mau gado gado tapi mas yang masakin."


"Emm..." Alvian tampak berfikir


"Mas gak mau?" tanya nya dengan mata yang mulai mengembun.


"Iya sayang, mas akan buatkan." Alvian bangkit dan turun dari tempat tidur. Ia pergi kedapur dan disusul oleh Nafisah. Alvian mulai mengambil satu persatu bahan yang akan dia buat, Nafisah hanya memandangi suaminya mengolah semua bahan. Ia tersenyum melihat suaminya mau memasak untuknya.


"Mas tambah tampan pake celemek" ucapnya dan didengar jelas oleh alvian.


"Suami ku ini memang tampan sayang." pujinya pada diri sendiri.


Tadi salah sorang asisten rumah tangga nya hendak membantu tapi Alvian menyuruh mereka untuk istirahat saja, lagi pula ini ngidam istrinya.


"Tambahkan cabe ini mas" Nafisah memberikan cabe rawit dengan jumlah banyak.

__ADS_1


"Sayang, ini terlalu banyak, nanti kamu bisa sakit perut."


"Tidak kok mas, Naf sudah biasa kok makan pedas, dari kecil pun Naf suka makan pedas." Alvian mengernyitkan dahinya.


"Dari kecil?" terbesit sesuatu dibenaknya. "Sayang, kamu ingat waktu kecil, kamu Uda ingat semua nya sekarang?" Tanya Alvian memegang kedua bahu Nafisah. Dan Nafisah hanya mengangguk tersenyum.


Alvian sungguh senang, ia langsung memeluk Nafisah.


"Ada apa sih bising amat". Ucap Safira yang datang menghampiri.


Alvian melepaskan pelukannya, dan ia kembali pada pekerjaannya, tidak ingin membuat istri menunggu lama masakannya siap.


"Kakak masak apa sih malam malam begini?" tanya Fira heran melihat kakaknya sibuk merebus sayur sayuran.


"Kakak mau buat gado gado, kakak ipar mu ngidam gado gado." jawab Alvian yang masih fokus pada masakannya.


"Wiiihhh...co cwit banget sih." godanya tertawa, ia terus menggoda kakak dan kakak iparnya dan tertawa terbahak.


"Jangan ganggu kakak Fira, sana masuk kamar mu."


"Iya ini juga mau masuk, males juga liat kalian mesra mesraan terus." gerutu Fira sambil beranjak meninggalkan dapur. Safira mondar mandir di dalam kamar nya sambil melihat jam sudah pukul sembilan malam, ia hendak keluar namun kakaknya masih ada didapur. Ia akan keluar lewat belakang,namun sang kakak masih ada didapur membuatnya cemas.


"Bagaimana ini." ucapnya yang masih terus mondar mandir. Ponselnya berdering dan terlihat nama sila memanggil.


"Ya sil?"


"Ntar, gue cara cara dulu, kakak gue masih dibelakang soalnya."


"Ya udah cepetan." Sila mematikan panggilannya. Safira mengintip melihat dapur, Alvian dan Nafisah masih disana.


"Sudah selesai sayang, makanlah." Alvian memberikan gado gado hasil buatannya pada Nafisah.


"Naf mau mas yang makan?"


"Ha?"


"Bukannya kamu ngidam pengen makan gado gado yang? ini Uda mas buatkan."


"Naf gak bilang pengen makan kok, Naf cuma bilang pengen gado gado buatan mas dan mas yang akan memakannya." ucap nya tanpa rasa bersalah.


Glek.


Alvian meneguk Saliva nya, ia memandang gado gado ditangannya, Nafisah ingin dia makan ini? pedas? Al Ian tak bisa bayangkan perutnya nanti makan sepedas ini. Untung saja saat Nafisah memberikan cabe tadi ia hanya memasukkannya beberapa saja tanpa sepengetahuan Nafisah, karena ia juga takut nanti perut Nafisah bermasalah.


Dengan berat Alvian memakan nya, wajah nya memerah dan keringat berjatuhan menetes, ia memang tidak terbiasa makan pedas, namun karena Nafisah yang memintanya terpaksa ia turuti.


**

__ADS_1


Disisi lain Tomi dengan cemas menunggu sila dan Safira yang belum muncul ke arena.


"Mana temen lho itu? Apa dia takut hingga tidak datang?"


Hahahah... "Pasti dia takut bos". Mereka terus tertawa membuat Tomi tambah cemas.


"Dia bakalan datang kok, dia bukanlah pengecut seperti yang kalian pikir." bela Tomi.


"Dua puluh menit lagi. jika dia tidak datang dalam dua puluh menit, dia dianggap gugur."


"Duuuhhh mana sih Fira." gumamnya dalam hati.


"Gue yang akan gantikan Fira." Ucap seseorang lantang.Semua mata tertuju melihat ke arah nya.


"Kak Endru." kaget Tomi.


Stelah berbincang dan bernegosiasi akhirnya Endru lah yang akan menggantikan Safira.


Saat semuanya sudah bersiap diatas motor mereka.


Brung...brung..brung... Motor Safira berhenti tepat didepan mereka. Pihak Safira sangat senang ia datang begitupun Endru. Safira mengambil posisi Endru namun Endru ingin ikut perlombaan ini bersama Safira, hingga jadilah Safira membonceng Endru.


Perlombaan pun dimulai, Safira menarik gas tinggi dan melaju dengan sempurna meninggalkan lawan dibelakang. Namun aksi mereka dihentikan oleh para polisi. Dan mereka semua yang ada di lokasi itu diseret dikantor polisi.


Safira dijemput oleh Alvian, Nafisah hanya menunggu dirumah karena Alvian tidak mengizinkan Nafisah ikut malam malam begini. Safira pun diboyong pulang kerumah, dan kagetnya ia sang mama dan papa nya sudah menunggu dirumah.Mendengar kabar Safira dikantor polisi, mama dan papa nya langsung pulang menggunakan jet pribadinya,hingga saat ini ia sudah menunggu Safira.


"Kamu benar benar keterlaluan Fira.Harus bagaimana lagi papa mendidikmu ha?" teriak papa, dia benar benar marah pada Fira.


"Dosa apa papa bisa punya anak gadis berprilaku seperti ini? ingat Fira, kamu itu perempuan,jadi bersikaplah layaknya perempuan."


Safira yang dimarahi hanya tunduk tak berani menyela papa nya, ia tahu ia salah.


Papa menarik nafas dan menghembuskan nya kasar. Dadanya turun naik menggebu karena emosi. "Papa tidak tau lagi harus apa, mulai besok Kamu akan papa masukkan pesantren."


Safira membolakan matanya kaget. "Pe.. pesantren? tapi pah fira_" ucapannya langsung dipotong sang papa.


"Tidak ada tapi tapian, dan tidak ada yang boleh menentang." tegas papa.


.


.


Bersambung.


Hallo readers😊😊 nantikan kisah selanjutnya yah🥰


jangan lupa like, coment dan vote nya🥰

__ADS_1


__ADS_2