
Sepuluh : Salah Paham.
_________
_________
"Kakak nanti tidak perlu jemput aku ya. Aku pulang di antar Fandi." ucap Dahlia sebelum keluar dari mobil.
Rassya mengeryitkan dahinya heran. "Siapa Fandi?" tanyanya kemudian.
Dahlia tersenyum. "Ada deh, yang penting nanti tidak perlu jemput aku. Bye kakak." ucap Dahlia lalu keluar dari mobil Rassya.
Rassya terdiam menatap adik perempuannya yang menghampiri seorang lelaki yang menunggu nya di gerbang sekolahnya. Dan mereka berdua pun masuk bersama.
"Mungkin itu Fandi." gumamnya pelan.
Rassya kembali menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pulang. Fikirannya masih di penuhi dengan lelaki yang bersama adiknya tadi, fandi itu siapanya Dahlia? Apa dia pacar nya Dahlia? Atau hanya teman? Sepertinya Rassya harus mencaritahu nanti, ia tidak bisa membiarkan adiknya itu bersama dengan orang sebarangan. Dahlia adalah adik kesayangannya, dia tidak mau bila adiknya itu di sakiti oleh pria manapun.
Rassya menghentikan mobilnya tepat di garasi rumahnya. Ia keluar dari mobil dan mengunci mobil, segera memasuki rumah karna ia harus segera pergi ke kampus.
"Kakak..."
Rassya segera berlari memasuki rumahnya saat mendengar suara teriakan dari dalam rumah.
"Ada apa ini?"
"Rassya bantu aku bawa kakak ke rumah sakit, tadi kakak jatuh dari tangga." ucap Prilly panik.
"Bagaimana bisa?" tanya Rasya.
"Tadi kakak membantuku, Rasya cepat bantu! Kenapa kamu malah diam disana." pekik Prilly.
Rasya buru buru menghampiri kedua kakak iparnya itu. Ia mengangkat tubuh Nikita, dan membawanya keluar rumah.
"Prilly bukan pintu mobilnya. Kuncinya ada di saku celana ku." ucap Rasya.
"Hah!"
"Ambil kunci mobil di saku celana ku cepat, aku tidak bisa mengambilnya. Liat kedua tanganku mengendong kakak." ucap Rasya kesal dengan respon Prilly.
Prilly menatap Rasya lalu menatap Nikita bergantian.
"Cepat Prilly! Tanganku pegal."
Prilly menelan lidahnya dengan susah payah, dan akhirnya dengan hati hati ia mendekati Rasya dan mengambil kunci mobil yang ada di saku celana kiri Rasya.
"Astaga kamu ini mengambil kunci mobil saja lama sekali sih." ucap Rasya bersunggut kesal.
__ADS_1
"Ck, harusnya kamu tadi memberikan kunci mobilmu padaku dulu sebelum mengangkat kakak." ucap Prilly tak kalah kesal.
"Sudahlah, kamu mau ikut aku ke rumah sakit atau mau berdiri di situ saja?" Tanya Rasya.
"Eh? Ikut dong." ucap Prillydan bergegas naik ke dalam mobil Rasya.
•••
"Dokter, suster bantu kami...." ucap Rasya seraya menggendong Nikita. Mereka bertiga memang sudah sampai di rumah sakit.
"Tolong selamat kan kakak saya dok..." ucap Prilly.
"Kami akan berusaha yang terbaik, kalian tunggu di luar saja." ucap dokter.
"Tapi dok...." ucap Prilly terputus karna pintu ruang UGD sudah di tutup oleh seorang suster.
Prilly mendengus kesal. "Sebaiknya kau duduk saja disini." ucap Rasya menuntun Prilly duduk di kursi depan UGD.
"Rasya bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak." ucap Prilly menahan tangis dengan menggigit bibir bawahnya.
"Kita berdoa saja supaya kakak ipar baik baik saja." ucap Rasya berusaha menenangkan Prilly.
"Ini semua salahku." lirihnya.
"Ini bukan salahmu, ini takdir."
Rasya memeluk Prilly. "Jangan menangis, ini bukan salahmu."
"Tapi bagaimana jika kakak kenapa-napa?"
"Aku yakin tidak akan terjadi apa - apa pada kakak ipar." ucap Rasya, sebenarnya ia juga takut terjadi sesuatu pada kakak iparnya itu.
"Aku harus memberitahu Ali, Rasya." ucap Prilly melepaskan pelukan Rasya.
________
Bukan Pernikahan Impian.
________
"Apa??" pekik Ali kaget.
"...."
"Aku akan segera kerumah sakit sekarang." ucapnya mengakhiri sambungan telfon.
Prilly baru saja menghubungi nya dan mengatakan jika Nikita masuk rumah sakit. Dengan langkah cepat Ali keluar ruangannya dan bergegas menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Maaf bapak mau kemana? Sebentar lagi ada meeting dengan klien." ucap sekertaris Ali.
"Batalkan saja."
"Tapi pak..."
"Sudah ku bilang batalkan semua jadwal hari ini, istriku sedang sekarat." ucap Ali membentak sekretaris nya.
"Ba-baik pak." balas sekretaris Ali dengan gugup. Semua karyawan yang tak sengaja mendengar teriakan sang bos pun bergidik ngeri, mereka paling takut jika bosnya itu sudah murka maka bukan hanya satu orang yg akan kena marah tapi semuanya.
Sesampai nya di rumah sakit, Ali langsung berlari menuju ruang UGD. Disana ia melihat ada Prilly yang menangis dan Rasya di sampingnya.
"Apa yang terjadi ? Bagaimana Nikita bisa masuk rumah sakit?" tanya Ali dengan nada tinggi.
Prilly semakin terisak saat mendengar teriakan Ali. "Maaf..." hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
"Apa yang kamu lakukan padanya?!" ucap Ali.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja. Sungguh." ucap Prilly, ia sangat takut melihat Ali yang begitu marah mengetahui jika Nikita masuk rumah sakit.
"Kenapa kamu menyakitinya?! Padahal selama ini Nikita sangat baik padamu? Apa maumu sebenarnya hah?" teriak Ali di depan wajah Prilly.
Ali mendorong badan Prilly hingga membuat Prilly terduyung jatuh ke belakang, membuat kepalanya terpentok kursi.
"Kakak!" pekik Rasya kaget.
Rasya membantu Prilly berdiri. "Kakak tidak apa - apa?" tanya Rasya panik.
Prilly hanya menggelengkan kepalanya lemah. "Ingat jika terjadi sesuatu dengan Nikita aku tidak akan memaafkanmu." ucap Ali menunjuk Prilly lalu berjalan menuju pintu ruang UGD.
"Maafkan kakak Ali, dia hanya sedang emosi saja." ucap Rasya.
"Aku memang salah." lirihnya. Prilly merasa kepalanya sangat pusing karna terpentok ujung kursi tadi.
"Itu bukan salahmu..." ucap Rasya memeluk Prilly.
"Prilly, kepalamu berdarah." ucap Rasya saat mengusap kepala Prilly dan mendapati tangannya ada darahnya.
Prilly hanya diam dalam pelukan Rasya. "Prilly...." Rasya melepaskan pelukannya dan kaget melihat Prilly dengan mata terpejam.
"Prilly bangun, Prilly...." ucap Rasya mengguncang badan Prilly.
Namun Prilly tetap diam dan memejamkan matanya, Rasya yang panik pun segera mengangkat tubuh Prilly dan meminta bantuan.
Ali hanya diam berdiri di depan pintu ruang UGD Nikita, pikirannya kacau tidak perduli dengan Rasya yang membopong tubuh Prilly. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Nikita harus baik baik saja.
Maaf bila anda masih menemukan adanya typo.
__ADS_1