Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Pilihan tersulit, anak atau ibu?


__ADS_3

Empat belas. : Pilihan tersulit, anak atau Ibu?


_____________


_____________


Prilly pov.


"Prilly berjanjilah padaku jika terjadi sesuatu padaku, tolong jaga anakku dan sayangi dia seperti kamu menyayangi anakmu sendiri."


Aku menggelengkan kepalaku, bukan aku tidak mau menjaga anak kami tapi aku tidak mau apabila ucapan kak Nikita akan terjadi. "Kakak ku mohon jangan berkata seperti itu, kakak akan baik baik saja begitupun anak kita nanti." ucapku menggenggam tangan kak Nikita.


Saat ini kami sedang berada dalam mobil perjalanan menuju rumah sakit, namun jalanan yang sangat macet membuat mobil Ali tidak bisa bergerak cepat.


Ka Nikita menggeleng, "tidak! Berjanjilah padaku, kumohon." ucap kak Nikita memohon padaku.


Akhirnya aku pun mengangguk ragu ragu. Air mataku sudah mengalir deras sedari tadi, tidak tega melihat kak Nikita yang meringis menahan sakit. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, tadi aku hanya meninggalkan kak Nikita sebentar untuk membuat makan malam untuknya. Namun saat aku kembali ke dalam kamar, kak Nikita sudah kesakitan dalam gendongan Ali.


"Kakak juga harus berjanji padaku, jika kakak harus kuat. Kita sudah merencanakan banyak hal untuk anak kita nanti." ucapku.


"Shitt...." aku mendengar umpatan Ali karna macet tidak kunjung habis, karna memang saat ini jalanan pastilah sangat ramai karna ini adalah jam pulang kantor.


"Jangan menangis..." ucap kak Nikita seraya tersenyum palsu, tangannya menghapus air mataku yang terus mengalir.


Akhirnya setelah setengah jam perjalanan kami sampai juga di sebuah rumah sakit. Ali langsung menggendong kak Nikita dan membawanya masuk agar dapat cepat di tangani dokter.


Aku duduk diam dengan air mata masih mengalir di depan pintu UGD, sementara Ali sibuk berjalan sana sini sambil terus mengumpat tidak jelas. Aku tau Ali takut terjadi sesuatu pada kak Nikita dan bayinya, aku pun sama merasakan takut.


Pintu ruang UGD terbuka, aku langsung bangkit menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu begitu juga Ali.


"Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Ali langsung.


Dokter itu menghela nafas panjang membuatku menggigit bibir bawah takut. "Bayinya harus segera di angkat, jika tidak nyawanya tidak akan tertolong." ucap sang dokter.


"Maksud dokter." ucapku dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Tapi hanya satu yang bisa kami selamatnya di antaranya, maka dati itu kami membutuhkan persetujuan kalian." ucap sang dokter.


"Aku tidak mengerti." ucap Ali.


"Begini pak, jika anda ingin ibunya selamat maka anaknya akan tiada, jika anda ingin anak anda selamat maka ibunya yang mungkin akan tiada. Jadi mana yang akan anda pilih anak atau ibunya yang harus saya selamatkan..." ucap dokter dengan panjang lebar.


"Ibunya dok." ucap Ali berbarengan denganku namun berbeda kata.


Karna aku mengucapkan "anaknya."


Ali melotot padaku, "apa apan kau ini hah!" ucapnya marah.


"Maaf, jadi bagaimana ibu atau anaknya yang harus kami selamatkan. Waktu kami tidak banyak." ucap dokter itu lagi.


Dam kami kembali bersuara dengan berbeda kata lagi. Masih sama seperti yang tadi Ali ingin Ibunya dan aku ingin anaknya.


"Tidak! Selamatkan ibunya." ucap Ali.


Aku menghela nafas kasar. "Ali kamu tidak boleh egois, ingat kata kak Nikita apapun yang terjadi ia ingin anaknya selamat. Kak Nikita akan sedih kalau sampai terjadi sesuatu pada anaknya nanti." ucapku mencoba memberitahu Ali.


Aku menghiraukan ucapan Ali dan menatap sang dokter dengan memohon. "Dokter tolong selamatkan anaknya dan ibunya juga saya mohon dok." ucapku.


"Saya akan berusaha mencoba menyelamatkannya, tolong tanda tangani ini." ucap dokter menyerahkan kertas dan pena padaku.


Aku pun segera menandatangani kertas itu dan menyerahkannya kembali pada dokter.


"Apa tujuanmu." ucap Ali mendorongku ke dinding rumah sakit. Punggungku terasa sakit karna terbentur dinding rumah sakit.


"Ali... Ini demi kak Nikita.." ucapku.


"Apa?? Demi Nikita kau bilang? Dengan memilih anaknya, kau senang kan jika nanti Nikita tidak selamat hah?" bentak Ali kasar tepat di depan wajahku.


Aku berdigik ngeri, seumur hidupku aku belum pernah mendapatkan perlakukan seperti ini dari siapapun selain dari nya. "Bukan seperti itu Ali...."


"Lalu seperti apa?" ucap Ali memotong ucapanku.

__ADS_1


"Ali, bukankah kamu sendiri tau jika kak Nikita sangat menginginkan seorang anak. Apa jadinya nanti kalau sampai anak itu meninggal, pasti kak Nikita akan sangat sedih sekali." ucapku lirih.


"Aku tau itu, dan kau fikir aku tidak sedih hah! Aku lebih sedih jika Nikita yang akan pergi." ucap Ali masih dengan nada suara tinggi.


"Aku tau Ali, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Kau fikir aku juga tidak sedih jika kak Nikita sampai pergi, tapi aku sudah terlanjur berjanji padanya.." ucapku dengan nada suara yang tinggal. Ntah aku dapat keberanian dari mana.


"Kau..." ucap Ali menunjukku dengan jari tekunjuknya.


"Arrgghhh.... Aku benci padamu." teriaknya mengacak - acak rambutnya frustasi.


"Ali cobalah untuk mengerti keadaan."


"Kakak apa yang terjadi ? Bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Dahlia dan Rasya yang baru saja datang.


Aku menghapus air mataku dan menatap Rasya dan Dahlia bergantian. "Dokter masih menangani kakak." ucapku mencoba untuk tersenyum.


Sementara Ali melenggang pergi entah kemana. Aku tau dia kacau, aku pun juga kacau. Bukannya aku egois dengan lebih memilih menyelamatkan bayi kami dari pada ibu dari sang bayi.


Namun itu adalah janjiku pada kak Nikita, apapun yang terjadi padanya bayinya harus tetap di selamatkan. Dan ka Nikita bilang dia akan membenciku apabila aku tidak bisa menyelamatkan bayi kami.


"Kakak duduk dulu." ucap Rasya membantuku duduk di kursi.


Aku menurut untuk duduk karna memang punggungku agak sakit jika berdiri terus. Mungkin karna terlalu kuat membentur dinding, aku juga tidak tau.


Aku melihat Dahlia yang menatapku sinis, aku tau sejak awal memang Dahlia tidak terlalu menyukaiku.


"Semua akan baik baik saja." ucap Rasya sambil mengusap air mataku yang entah sejak kapan sudah kembali mengalir dari kedua mataku.


Aku tidak membalas ucapan Rasya dan malah terisak, bagaimana semua akan baik baik saja kalau aku telah... Ahh aku tidak ingin membahasnya lagi.


Aku tau setelah ini Ali pasti akan semakin membenci ku. Waktu kak Nikuta jatuh dari tangga saja dulu Ali belum bisa memaafkan aku, apalagi dengan ke putusan yang sudah aku ambil ini. Aku yakin jika dia seratus persen membenciku. Karna aku tau aku memang salah, namun tidak sepenuhnya salah menurutku.


Aku hanya memenuhi janjiku pada kak Nikita, tapi Ali menganggap aku ingin kak Nikita tidak semalat.


Aku memejamkan mataku sesaat, entah kenapa kepalaku terasa sangat pusing. Aku ingin kembali membuka mataku namun tidak bisa, rasanya sangat berat kelopak mata ini untuk dibuka seperti ada lem yang menempel pada kelopak mataku.

__ADS_1


Samar samar aku masih bisa mendengar Rasya yang memanggil namaku, tapi aku tidak dapat membuka mataku sama sekali sampai pada akhirnya aku benar benar tdak dapat mendengar apapun lagi.


__ADS_2