
Dua puluh tiga. : Ada apa denganku ?
_________________
_________________
Ali pov.
Pagi ini Prilly sudah rapi dan siap untuk pulang, namun ia tidak mau ku ajak untuk pulang. Katanya dia mau pulang bersama ayahnya saja, ia tidak mau pulang bersamaku.
Oke. Itu sangat menyebalkan, dia tidak mau mengakui aku sebagai suaminya dan mengatakan aku ini aneh. Memangnya aku aneh kenapa coba? Perasan aku biasa aja dan tidak ada yang aneh pada diriku. Dan kenapa aku harus mempermasalahkan ini? Harusnya aku senang karna dengan itu dia bisa pergi dari hidupku. Tapi entah kenapa, bagian dalam diriku ingin bahwa Prilly mengakui aku sebagai suaminya.
"Sebaiknya kita pulang."
"Kita? Kau saja sana pulang sendiri aku tidak mau!" ucapnya dan membuang muka kearah lain tidak mau menatapku.
Aku berdecak sebal. "Lalu apa yang kau tunggu. Tadi aku sudah menyuruh ayahmu untuk tidak datang kesini karna kau sudah diperbolehkan pulang juga, jadi ayahmu akan menunggu dirumah saja." kelasku panjang lebar.
Prilly diam tidak bergeming di sofa sambil melihat kedua tangannya di depan dada dan aku yang berdiri di depannya.
"Kau..." ucapnya geram namun tidak jadi melanjutkan ucapannya saat pintu ruangan Prilly terbuka dan nampaklah boneka doraemon yang besarnya melebihi manusia berjalan mendekati kami -prilly lebih tepatnya- , aku tidak tau siapa dia, karna orangnya tidak terlihat tertutup oleh boneka itu.
"Happy birthday...." ucap seorang lelaki. Aku kenal suara ini, Rasya.
Tadi apa katanya? Happy birthday, memangnya siapa yang ulang tahun?
Baru saja aku akan membuka mulut, Rasya sudah menyerahkan boneka itu pada Prilly. Prilly terpekik senang, "terima kasih...."
"Ya... Semoga panjang umur dan sehat selalu dan lagi cepat ingat denganku ya." ucap Rasya. "Oh ya kuenya nyusulnya, tadi aku susah bawanya." lanjutnya.
Ck, bagaimana aku bisa lupa kalau hari ini Prilly ulang tahun? Mungkin karna aku membencinya..
"Iya terima kasih ya Rasya kau baik banget sih, sossweet deh.... Nggak kayak orang yang ngaku suami tapi ngak ngucapin sama sekali.." ucapnya sinis.
Aku tau dia menyindirku. "Ck, aku bisa membelikan boneka yang lebih besar dari itu."
__ADS_1
"Aku tidak butuh.."
"Sudahlah Pril mungkin kakakku lupa, lebih baik kita pulang..." ucap Rasya dan Prilly langsung mengangguk.
Apa-apaan dia ini, tadi aku mengajaknya pulang tidak mau. Giliran Rasya yang mengajak sekali saja ia langsung setuju. Oke, mungkin dia marah karna aku melupakan ultahnya. Tapi tidak bisa seperti itu juga dong aku ini suaminya.
"Prilly akan pulang bersamaku, lebih baik kau pergi kuliah saja." ucapku.
"Aku kuliah jam 10 jadi bisa mengantar Prilly pulang dulu." balas Rasya sinis.
Rasya sialan memang! Dan kenapa aku harus peduli jika Prilly pulang bersamanya Rasya, harusnya aku senang karna aku tidak repot lagi. Ck, ada apa sebenarnya denganku, rasanya aku tidak rela jika Prilly lebih memilih pulang bersama Rasya daripada aku.
"Aku suaminya! Jadi dia pulang bersamaku!" kataku penuh penekanan di setiap kataku agar dia mengerti jika Prilly itu milikku. Eh! Apa tadi aku bilang milikku? Sepertinya aku memang sudah gila karna kepergian Nikita .
"Oh ya, kita tanya saja dengan siapa Prilly akan pulang?" ucap Rasya.
Aku melihat kearah Prilly berdiri, namun tidak ada siapa siapa di sampingku. Bahkan boneka nya pun tidak ada, dimana dia?
Rasya menatapku dan aku pun menatapnya. "Kemana Prilly?!" seru kami berdua.
Aku dan Rasya berebut mengecek kamar mandi belakang sofa dan kolong ranjang. Tapi tidak menemukan Prilly, dimana dia sebenarnya.
Kami berdua pun berjalan mendekati Prilly yang sedang asik ngobrol dengan dokter Rendy. Padahal boneka itu besar sekali kenapa kami tidak sadar ya kalau tadi ia keluar ruangan.
Author pov.
Pagi ini Prilly sangat kesal karna Ali -yang katanya- suaminya tidak mengucapkan ultah untuknya. Dan itu membuat Prilly tidak percaya jika Ali adalah suaminya.
Tiba tiba Rasya datang dan memberinya boneka kesukaannya, doraemon. Prilly sangat senang karna Rasya adalah orang pertama yang mengucapkan ultah untuknya, tapi lagi lagi ia dibuat kesal oleh Ali. Karna ia malah berdebat dengan Rasya, dengan siapa dia akan pulang.
Prilly pun memutuskan untuk keluar ruangan dan membawa boneka hadiah dari Rasya. Bahkan aku pergi pun mereka tidak sadar' batin Prilly.
"Dokter..." panggil Prilly saat tak sengaja melihat dokter Rendy lewat.
"Ya... Ada apa ya, anda belum pulang?" balas dan tanya dokter Rasya saat Prilly sudah berdiri disampingnya dengan menyeret boneka, ya Prilly memang agak sedikit kesusahan membawa boneka yang besarnya melebihi dirinya.
__ADS_1
"Ck, kau mau pulang kan?" tanya Prilly menghiraukan pertanyaan dokter Rendy.
"Ya." balas dokter Rendy seraya mengangumkan kepalanya.
"Bagus! Aku ikut ya." ucap Prilly tho the poin.
Kening dokter Rendy berkerut heran, "bagaimana dengan suami anda." ucap Dokter Rendy menunjuk Ali yang baru saja keluar ruangan dan hendak menghampirinya.
"Dia bukan suamiku!"
"Tapi sebaiknya anda pulang bersamanya karna dia adalah suami anda." ucap dokter Rendy.
"Prilly." panggil Ali dan Rasya secara bersamaan.
Prilly tidak melihat ke asal suara dan mendecakkan lidahnya kesal. "Saya permisi.." ucap dokter Rendy berjalan menjauhi Prilly.
"Oh ya, selamat ulang tahun semoga panjang umur dan sehat, selalu bahagia." ucap dokter Rendy.
"Ya, terimakasih." Rendy aja ingat aku ultah, masa suamiku tidak' batinnya.
Prilly berjalan menuju parkiran tanpa memperdulikan Rasya dan Ali yang terus memanggilnya namanya.
"Prilly berhenti! Mobilku disana bukan disitu." ucap Ali dan menarik tangan Prilly mengikutinya menuju mobilnya.
"Kak, Prilly akan pulang bersamaku." ucap Rasya memegang tangan Prilly yang satunya membuat boneka yang Prilly bawa terlepas dan jatuh di depannya.
"Tidak Rasya! Prilly akan pulang bersamaku! Aku suaminya kau ingat." ucap Ali mengingatkan Rasya jika ia lah yang lebih berhak pulang bersama Prilly.
"Ck, kau mengku sebagai suaminya saat dia tidak menganggapku kak, ingat apa yang kau perbuat selama ini. Masih pantas kah kau disebut suami oleh Prilly kak?" Tanya Rasya sarkastik.
Pertanyaan Rasya berhasil membuat Ali terdiam diri, karna memang yang di ucapkan Rasya ada benarnya juga. Ali juga merasa bingung pada dirinya sendiri, yang jelas ia hanya ingin Prilly mengakuinya sebagai suami. Tapi untuk apa? Bukanya Ali benci Prilly?
"Aku pulang naik taksi saja." ucap Prilly dan melepas kedua tangan yang memegang lengannya dan mengambil boneka yang sempat terjatuh karna ulah Ali juga Rasya.
"Tidak Prilly, biar aku saja yang mengantarmu pulang." ucap Rasya mengejar Prilly.
__ADS_1
Sementara Ali masih diam mematung di tempatnya sambil memperhatikan Prilly yang akhirnya ikut pulang bersama Rasya.
Ada apa denganku, batin Ali heran sendiri. Kenapa dirinya sangat ingin diakui Prilly?