
Delapan belas. : Andai Ali sebaik Rasya.
_______________
_______________
Prilly pov.
Plak!!
Suara sebuah tamparan menggema di koridor rumah sakit. Kalian pasti tau siapa yang di tampar dan siapa yang menampar kan?
Aku memejamkan mataku untuk sejenak. Rasanya perih di bagian pipiku sebelah kiri, dan mungkin saja sekarang sudah ada bekas jari disana. Ini pertama kalinya dalam hidupku mendapatkan tamparan dari seseorang.
Jika biasanya dia hanya akan memakiku dan mendorong ku, maka sekarang dia menamparku dengan tanpa alasan yang jelas. Aku tidak tau apa alasan dia menamparku? Apa salahku sebenarnya?
Tadi setelah menemani Cris membuat sim, aku langsung kembali kesini. Namun apa yang aku dapat? Sebuah tamparan.
Aku membuka mataku dan menatap nanar kearah Ali yang berdiri di depanku dan menatapku tajam, setajam pisau yang siap digunakan untuk memutilasi manusia. Menyeramkan.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
Ali tergelak. "Ada apa katamu? Aku menyuruhmu untuk menjaga Nikita, aku percaya padamu karna Nikita juga percaya padamu tapi kenapa kau malah meninggalkan dia sendiri hah! Liat apa yang terjadi padanya? Dia kembali masuk ruang ICU!!" ucap Ali murka. Suaranya sangat lantang, membuat seluruh orang yang melintasi koridor itu menatapku prihatin.
"Aku-aku hanya pergi sebentar bersama Cris." balasku.
"Apa sebentar kau bilang? Dari siang sampai hampir malam begini kau bilang sebentar. Apa kau memang tidak suka karna Nikita masih hidup hah! Kau lebih mementingkan urusan lain daripada Nikita. Kau bilang kau menyayangi Nikita seperti kau menyayangi dirimu sendiri. Mana buktinya? Mana?!" ucap Ali lagi dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.
"Ku fikir kau akan segera kembali, makanya aku meninggalkan kak Nikita. Aku tidak pernah berfikir sejahat itu Ali! Aku benar benar menyayangi kakak." ucapku dengan nada sedikit naik satu oktav.
Entah aku dapat keberanian dari mana, atau mungkin karna terlalu lelah di tindas.
Ali yang tadinya memalingkan wajahnya kini kembali menatapku bengis dan sekali lagi suara tamparan keras mendarat di pipiku. Kali ini bukan pipi kanan tapi pipi kiri.
"Kakak apa yang kau lakukan." ucap Rasya yang entah sejak kapan datangnya, ia mendorong Ali menjauhiku.
"Kamu tidak apa-apa." ucap Rasya. Bisa terlihat jelas, bahwa ia sangat menghawatirkanku. Kapan Ali bisa seperti Rasya. Huh apa yang kau fikirkan pril? Itu mustahil.
"Urusin pacar kamu itu." ucap Ali berlalu dari hadapan kami.
Rasya menatap sinis kearah Ali dan kembali menatapku, kali ini Rasya membawaku kedalam dekapannya. Membuatku merasa nyaman untuk sesaat. Di balik punggung Rasya, aku melihat Dahlia yang menatapku tajam. Sepertinya dia juga membenciku.
__ADS_1
"Kenapa kakak selalu membela nya. Jelas jelas dia yang salah." ucap Dahlia sambil menatapku tajam.
"Dia tidak salah, Dahlia. Kak Ali yang berubah kejam." ucap Rasya.
"Semenjak ada dia kakak berubah, kakak lebih membela yang salah daripada yang benar." ucap Dahlia.
Rasya melepaskan pelukannya dariku lalu menatap tajam kearah Dahlia. "Aku tidak berubah, kalian yang berubah. Prilly tidak salah."
"Terus saja bela dia kak. Kakak itu sudah di butakan oleh cintanya, kakak harus mencontoh kak Ali." ucap Dahlia sengit.
"Dahlia, aku memang mencintai Prilly. Tapi aku tidak dibutakan oleh cinta seperti kak Ali yang mampu menyakiti orang lain karna dibutakan cinta kak Nikita." bentak Rasya.
"Kakak jahat! Kakak berunah! Kakak bentak aku. Aku benci sama kakak dan aku juga sangat membencimu." ucap Dahlia menunjukku. Matanya sudah berkaca kaca, dia berlari menjauhi kami.
Dahlia baru seperti itu saja sudah marah, apalagi aku yang di perlakukan Ali seperti ini. Tapi aku tidak bisa marah pada ali, entahlah kenapa?
"Jangan dengarkan kata kata Dahlia."ucap Rasya kembali memelukku dan mengecup keningku.
"Maafkan aku, karna aku kamu jadi bertengkar dengan Dahlia." ucapku disela sela isak tangisku.
"Ssttt kamu tidak salah, Dahlia memang seperti itu. Nanti juga kami akan baikan lagi." ucap Rasya menenangkanku.
"Lebih baik kita pulang saja." lanjut Rasya.
"Kak Ali tidak akan mengizinkanmu. Lebih baik kita pulang dan besok pagi aku janji akan mengantarkanmu kembali." ucap Rasya berjanji padaku.
"Tapi Rasya----."
"Prilly, liat keadaanmu sekarang. Kenapa kamu masih bertahan dengan kakak kalau kamu selalu mendapatkan perlakuan tidak baik darinya Prilly. Kamu terlalu baik untuk kakak, jujur aku membenci kak Ali yang sekarang sangat kasar padamu." ucap Rasya dan melepaskan pelukannya padaku.
Rasya mengusap air matanya yang terus mengalir dari kedua mataku. "Apa ini masih sakit." ucapnya seraya mengusap lembut kedua pipiku.
Aku menggeleng. "Tidak." balasku.
"Maafkan aku."
"Bukan kamu yang salah."
"Ya memang bukan aku yang salah. Tapi aku minta maaf karna tidak bisa melindungimu." ucap Rasya tanganya masih sibuk mengusap usap kedua pipiku.
Aku sedikit meringis, karna itu terasa agak perih. "Maaf, sakit ya. Sampai merah begini. Ayo kita pulang, aku akan mengompres lukamu." ucapnya membawaku pergi dari koridor rumah sakit.
__ADS_1
Aku hanya pasrah mengikuti Rasya membawaku pulang. Aku juga lelah, butuh istirahat. Walau sebenarnya dalam hati aku ingin sekali melihat keadaan kak Nikita, namun yang dikatakan Rasya benar. Ali tidak mungkin mengizinkan aku masuk kedalam ruangannya.
"Rasya, bisa kita lihat Gwen sebentar." ucapku.
Rasya mengerutkan dahinya bingung. "Siapa Gwen?" tanyanya.
"Anak kak Nikita." balasku seraya tersenyum.
"Kamu jelek kalau senyum tapi pipi kamu basah sama air mata." ucap Rasya dengan mencubit kedua pipiku.
"Aww Rasya sakit." pekikku.
"Aduhh maaf maaf. Habis aku gemas sama kamu." ucapnya seraya terkekeh.
Aku mendengus kesal padanya. "Jadi tidak melihat Gwen nya."
"Jadi dong."
Kami berdua pun akhirnya berjalan ke ruang inkubator dimana Gwen berada. Sesampainya disana, aku tersenyum menatapnya walau hanya dari luar.
"Jadi namanya Gwen. Gwen siapa? Gwen stacia." ucap Rasya dengan nada humor.
Aku memukul lengan Rasya pelan, disaat seperti ini. Rasya masih saja bisa bercanda.
"Kamu ini masih saja becanda. Gwen Syareefa Putri. Namanya bagus bukan." ucapku.
"Oh ku kira Gwen Stacia pasangan Peter." ucap Rasya kali ini dengan tertawa garing.
"Memangnya ini film The Amazing Spiderman apa?"
"Hehe kamu tau flim itu juga ya."
"Ya taulah."
"Ku kira kau tidak suka flim yang begituan."
"Tau ah Rasya menyebelin." ucapku sinis.
Rasya malah tertawa sambil memegang perutnya. Well aku tidak tau sebenarnya, bagaian mananya yang lucu?
"Kenapa kalian masih ada disini?" tanya seseorang di belakang kami.
__ADS_1
Rasya menghentikan tawanya dan kami berdua melihat kearah sumber suara dibelakang kami. Suara yang membuatku langsung tegang, aku menelan ludah menatap orang yang menatap tajam kearah kami.