Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Kakak terlalu baik untuk di sakiti


__ADS_3

Tujuh : Kakak terlalu baik untuk di sakiti.


________


________


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Ali untuk yang kedua kalinya. Ali berjalan menuju dapur tempat di mana ada dua orang yang sedang berdiri di sana.


Sontak Prilly langsung mendorong kuat badan Rasya yang masih setia memeluknya. Membuat Rasya terduyung kebelakang, masih untung dia tidak terjatuh karna dorongan Prilly.


Prilly menundukkan wajahnya, ia takut Ali akan marah dengan apa yang di lihat nya barusan. Berusaha mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang saat ini.


"Tadi 'kakak ipar' kepleset jadi aku membantunya. Jika tidak ada aku mungkin dia sudah jatuh ke lantai, lain kali kalau berjalan itu hati hati 'kakak ipar'" ucap Rasya seraya menekan semua kata 'kakak ipar'


"Benarkah?" Tanya Ali ragu. Ia memincingkan matanya untuk menatap Prilly yang masih menunduk, menunggu jawaban yang keluar dari wanita yang kini berstatus istrinya itu.


"I-iya..." Ucap Prilly lirih, ia mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Ali dan Rasya.


"Terima kasih sudah menolongku tadi." lanjut Prilly seraya tersenyum tipis.


Ali menghela nafas lalu menatap Prilly dan Rasya secara bergantian. "Terima kasih sudah menolong istriku Rasya, ayo kita kembali ke kamar."


Ali berjalan mendahului Prilly. Prilly pun dengan cepat menaruh gelas di meja dekat water dan segera menyusul Ali.


Sementara Rasya menatap nanar punggung Prilly yang berjalan menjauhinya. Walau ia kecewa dan marah karna Prilly sudah berbohong padanya. Namun rasa itu tetap ada di dalam hatinya, apalagi mereka sekarang tinggal satu rumah walau statusnya adalah adik dan kakak ipar.


______


Bukan pernikahan impian.


______


Ini pagi pertama Prilly makan bersama keluarga barunya, tidak ada yang berbicara. Hening! Hanya ada suara sendok, garpu dan piring yang berdenting. Walau biasanya Prilly makan dalam diam bersama sang Ayah.


Namun kali ini beda. Prilly merasa tak nyaman mendapat tatapan intimadasi dari kedua adik iparnya itu. Sepertinya mereka berdua sama sama tidak suka dengan keberadaan Prilly di sini.


Oh ayolah. Coba kau pikirkan, siapa yang suka jika kakakmu sudah menikah lalu menikah lagi? Padahal yang kau tau, mereka tidak punya masalah apapun.


"Hmm baiklah aku pergi ke kantor dulu." ucap Ali setelah ia selesai sarapan.


Ali beranjak dari duduknya, Nikita mencium punggung tangan Ali lalu Ali juga mencium kening Nikita seperti pagi biasanya. Ali beralih berjalan mendekati Prilly, Prilly pun mencium punggung tangan Ali dan Ali juga mencium kening Prilly.


"Kalian berdua cepat selesaikan sarapan kalian dan berangkat sekolah yang benar." ucap Ali pada kedua adiknya itu. Ali sadar jika sedari tadi kedua adiknya itu terus menatap Prilly.

__ADS_1


"Kalian juga hati hati di rumah ya..." ucap Ali seraya tersenyum kearah Nikita dan Prilly.


Nikita dan Prilly membalas senyuman Ali dan mengangguk. "Iya." ucap keduanya.


Prilly masih memperhatikan Ali yang berjalan menjauh dari meja makan. Hingga sebuah deheman membuatnya tersadar jika ia terus memperhakan Ali.


"Hmmm..."


"Kami pergi dulu kakak ipar." ucap Rasya dan Dahlia secara bersamaan.


"Hati hati di jalan." ucap Nikita dan Prilly secara bersamaan.


Kini hanya tinggal mereka berdua yang tersisa di ruang makan. Prilly tidak tau harus bersikap bagaimana terhadap Nikita.


"Hai, kamu kenapa?" tanya Nikita.


Prilly menatap Nikita yang ada di sampingnya tersenyum padanya. "Tidak apa-apa kok kak."


"Oh ya biasanya apa yang kakak lakukan setelah mereka pergi?" tanya Prilly, ia mencoba mengakrabkan diri dengan istri pertama dari suaminya itu.


Nikita tersenyum lembut. "Biasanya aku ke toko, aku punya usaha kecil kecilan." ucap Nikita.


"Wahh benarkah? Jadi apakah kakak akan kesana hari ini? Bolehkah aku ikut kakak?" tanya Prilly antusias.


"Hmm ya jika boleh tapi." ucap Prilly menggigit bibir bawahnya.


"Tentu saja boleh, kakak akan membersihkan ini dulu baru kita ke toko nanti." ucap Nikita dan membawa piring kotor ke wastafel.


Prilly pun ikut membantu Nikita membawa piring piring kotor ke wastafel. "Eh apa yang kamu lakukan? Biarkan kakak saja yang melakukan." ucap Nikita saat melihat Prilly membawa piring kotor ke wastafel.


"Tidak kak, aku juga ingin membantu kakak."


Mereka berdua pun akhirnya membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bersama. Walau Prilly tidak pernah melakukan pekerjaan ini, namun kini statusnya sudah bersuami jadi dia harus bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Setelah selesai dengan perkerjaan cuci mencuci, mereka pun bergegas berganti pakaian untuk pergi ke toko kue milik Nikita.


"Wah ini toko kue kakak?" tanya Prilly antusias saat ia dan Nikita memasuki sebuah toko kue, matanya berbinar saat melihat barisan kue yang tersusun rapi di kulkas kaca.


"Iya ini toko kakak, kamu mau mencicipi kuenya?" ucap Nikita, ia juga ikut senang melihat Prilly yang begitu ceria dengan mata yang berbinar bahagia melihat deretan kue.


"Bolehkah? Maksudku, tidak! Itu kan untuk di jual." ucap Prilly.


"Tidak apa apa kamu boleh memakan kue apapun yang kamu mau di sini." ucap Nikita.

__ADS_1


'Kakak terlalu baik, maafkan aku sudah merebut suamimu kak.' Lirih Prilly dalam hati. Andai saja ia bisa menolak perjodohan ini dulu.


"Apa kakak mau mengajariku membuat kue?"


"Tentu saja kakak mau, kenapa tidak."


_____


Bukan pernikahan impian.


_____


Ali menatap komputer di hadapannya dengan malas, hari ini ia merasa tidak semangat untuk kerja. Pikirannya terus tertuju kepada kedua istrinya di rumah. Apakah mereka baik baik saja? Maksudnya apakah mereka tidak bertengkar seperti yang pernah ia lihat di sinetron sinetron itu.


Tapi Ali yakin bahwa Nikita bukan orang yang seperti itu, ia yakin Nikita itu sangat baik dan lembut dan sudah pasti ia bisa menerima Prilly dengan baik. Tapi apakah Prilly juga akan bersikap baik pada Nikita? Ali tak pernah tau bagaimana sifat dan sikap Prilly.


Ali saja baru mengenal dan melihat Prilly tepat pada saat acara pernikahan mereka. Ali buru buru membuang pikiran buruk tentang Prilly jauh jauh. Ali yakin Prilly tidak akan menyakiti Nikita, atau pun sebaliknya.


Ali pun mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.


_____


Bukan pernikahan impian


_____


"Kak."


"Hmm" gumam Rasya malas.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Dahlia.


Rasya mengangguk. "Ya, tidak biasanya kau ingin bertanya apa?"


"Apakah kakak ipar dan wanita yang kau sukai itu orang yg sama." ucap Dahlia, ia menatap Rasya mencoba melihat perubahan raut wajah Rasya yang sedang menyetir di sebelahnya.


"Apa maksudmu?"


"Prilly teman kakak itu apakah dia adalah Prilly istri kak Ali?"


Rasya menghela nafas panjang sebelum pada akhirnya ia menjawab lirih. "Ya...."


Mohon maaf bila masih menemukan adanya typo...

__ADS_1


__ADS_2