
Sembilan belas.: Duka Lara.
________________
________________
Author pov.
"Hiks mereka jahat hiks mereka ngak sayang aku lagi hiks."
"Udah dong sayang jangan nangis terus, ngak enak tuh di liatin orang. Nanti dikira aku ngapa - ngapain kamu lagi." ucap Fandi memcoba membujuk Dahlia yang sejak tadi pagi hanya menangis saja.
Memang hari ini Fandi menemani Dahlia bolos sekolah dan sepanjang pagi sampai sekarang sudah sore pun Dahlia hanya menangis dan menangis tanpa henti, membuat pengunjung cafe yang melihatnya memberikan berbagai macam pandangan aneh ke Fandi. Dan tentu saja Fandi merasa tidak enak akan itu, tapi mau bagaimana lagi pacar nya itu tidak mau di ajak keluar dari cafe itu.
"Hiks kamu ngak tau rasanya di bentak sama kakak sendiri itu kayak apa, kamu kan ngak punya kakak. Rasanya sakit banget Fan. Apalagi selama ini kakak aku ngak pernah bentak aku tapi setelah ada wanita jalang itu di rumah aku, kak Rasya selalu belain dia." cerocos Dahlia tanpa henti dengan sesekali terisak.
"Ya aku memang ngak tau gimana rasanya dibentak kakak sendiri." ucap Rasya 'karna kakakku sangat menyayangiku, sebandel apapun aku dia akan tetap baik padaku' lanjutnya dalam hati.
"Memang apa masalahnya kalau boleh tau, kenapa kamu selalu nyalahin istri kedua kakak pertama kamu?" tanya Fandi.
Dahlia menatap Fandi yang juga sedang menatap kearahnya. "Aku ngak tau bagaimana menjelasinnya fan, aku benci dia." ucap Dahalia, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Fandi hanya bisa menghela nafas, dalam hati ia berdoa agar kakaknya baik baik saja disana. Kakaknya juga menjadi istri kedua dan Fandi sangat takut apabila kakaknya itu tidak diterima baik oleh keluarga suaminya itu. Namun selama ini kelihatannya kakaknya baik baik saja. Dan semoga akan selalu baik baik saja.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau cerita. Lebih baik aku antar kamu pulang ya, ini sudah sore. Pasti kakak kamu khawatir sama kamu." ucap Fandi.
"Mereka tidak akan ada yang khawatir padaku, Fan." ucap Dahlia sarkastik.
"Bagaimana pun kamu harus pulang."
"Ck, baiklah aku akan pulang."
"Ayo aku antar kamu sampai rumah."
Akhirnya mereka pun beranjak keluar dari cafe dan memasuki mobil Fandi. Fandi memulai menjalankan mobilnya menuju rumah kekasihnya itu.
"Omong omong, ini mobil kamu baru ya?" tanya Dahlia yang baru sadar, karna biasanya kan Fandi naik motor bukan mobil.
Fandi tersenyum. "Ya. Bagaimana bagus kan? Ini hadiah." ucap Fandi bangga.
"Hadiah dari ayahmu?" tanya Dahlia.
Fandi menggelengkan kepalanya." bukan."
"Lalu Ibumu."
"Bukan juga."
__ADS_1
"Terus dari siapa?"
"Dari kak Bie."
"Siapa kak Bie?"
"Kak Bie itu...."
"Ahh bentar ada telfon." ucap Dahlia memotong ucapan Fandi.
Fandi mengangguk mengerti dan Dahlia pun mengangkat telfon itu.
Via telvon.
"Hallo."
"Dahlia.."
"Ya, ini siapa ya?" tanya Dahlia karna ia tidak mengenal no yang menelfonnya barusan.
"Aku Prilly."
"Kamu! Ngapain kamu nelfon aku hah?!" ucap Dahlia dengan nada naik beberapa oktav.
Fandi menatap kekasihnya itu dengan kening berkerut, pasti itu istri kedua kakaknya. Batinnya bertanya.
"Dahlia. Dengarkan aku dulu." ucap Prilly dari sebrang sana dengan isak tangis yang memilukan.
"Kak Nikita meninggal, Dahlia."
"Apa? Kamu pasti berbohong kan?" ucap Dahlia tidak percaya.
"Aku tidak berbohong Dahlia."
Tut... Tut...
Dahlia mematikan sambungan telfonnya, ia menatap Fandi dengan derai air mata.
"Fandi..."
"Ada apa sayang."
"Kita kerumah sakit sekarang, kak Nikita.... Kak Nikita .... Arghh aku tidak bisa mengatakannya.. Fandi kita ke rumah sakit sekarang." ucap Dahlia kini suara tangisnya semakin kencang bukan hanya isak tangis saja.
_______
Bukan pernikahan impian.
__ADS_1
_______
Ali pov.
Aku menatap gundukan tanah itu dengan tidak percaya. Aku tidak percaya kalau Nikita telah tiada, pasti ini hanya mimpi belaka. Tidak mungkin Nikita istriku tersayang sudah tiada, kemarin aku baru saja berbicara dengannya.
Aku ingin bangun dari mimpi ini, ini adalah mimpi terburuk yang pernah aku alamai.
"Ali...." panggil suara lembut di sampingku, namun tidak aku hiraukan. Aku benci dia, bagiku dia adalah penyebab segalanya. Dia penyebab Nikita meninggalkan aku.
"Ali, sebaiknya kita pulang. Ini sudah malam dan lagi pula ini hujan. Nanti kamu sakit." ucapnya lagi.
"Tidak! Aku ingin bersama Nikita ." jawabku ketus.
"Ali, kakak pasti sedih kalau lihat kamu kayak gini. Kamu harus bisa ikhlasin kakak." ucapnya lagi, kali ini mulai terdengar isak tangis nya. Namun aku tau itu air mata palsu. Aku tidak bodoh akan itu.😡
"Kau pasti senang karna Nikita telah tiada."
"Aku tidak seperti itu Ali."
"Jangan munafik Pril, aku tau semua."
"Kamu tidak tau apapun Ali... Tidak!"
"Aku tidak bodoh Prilly, aku tau kamu sangat senang sekarang akhirnya Nikita telah tiada." ucapku kini dengan nada suara tinggi, karna hujan yang mengguyur pemakaman ini semakin deras seakan ia ikut menangisi kepergian Nikita.
"Aku tidak seperti itu Ali!"
"Ya kau tidak seperti itu, tapi kau lebih dari itu."
"Ali...."
"Sudah sana lebih bik kau pergi! Jangan buang buang air mata buayamu itu, karna itu tidak akan berarti bagiku." ucapku mendorongnya menjauhi makam Nikita .
Prilly jatuh tersungkur kebelakang menyebabkan kepalanya terbentur nisan dibelakangnya. Aku bisa melihat dia yang meringis menahan sakit, namun aku tidak peduli. Itu masih belum seberapa dibandingkan dengan Nikita.
"Ali..."
Aku memperhatikan Prilly yang berusaha bangkit, namun sepertinya benturan tadi agak kuat. Karna aku bisa melihat ada darah yang bercampur air hujan disana.
Aku pun bangkit dari jongkokku dan berjalan meninggalkan pemakaman Nikita karna hujan semakin lebat dan tubuhku juga sudah mulai menggigil karna kedinginan. Meninggalkan Prilly yang masih terdiam di tempatnya.
Aku berhenti melangkah dan kembali melihat kebelakang, Prilly masih di tempatnya tak bergeming sedikit pun. Ck, dia kenapa lagi?
Aku pun kembali melangkah mendekatinya. Dan menendang pelan kakinya. "Hey..."
"Hey..." aduh dia mati apa ya kok diem aja. Ck, bahaya juga kalau sampai mati disini. Bisa di gantung aku sama pak Haidar.
__ADS_1
Hah dengan berat hati akhirnya aku mengakat tubuh Prilly, aku menggendongnya dan membawanya ke mobil.
"Tidak mungkin aku bawa dia pulang dalam keadaan begini, aku bisa di sate langsung sama Haidar nanti. Dia pasti masih dirumah. Argghh kau nyusahin sekali sih."