Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Tuhan, aku malu... siapapun tolong aku.


__ADS_3

Tiga puluh : Tuhan, aku malu... Siapapun tolong aku..


____________


____________


Prilly pov.


Hari ini adalah hari pernikahan Paapku, mendadak memang. Papaku saja baru memberitahukan akan menikah lagi itu baru seminggu yang lalu.


Aku dan Fandi ingin menolak, tapi kami tidak bisa. Melihat wajah Papaku yang berseri seri saat menceritakan calon ibu baru kami membuat kami tidak kuasa untuk menolak adanya pernikahan itu. Kami juga ingin Papa kami bahagia.


Sehari setelah Papa memberitahu kami, keesokan harinya ayah langsung mengenalkan kami dengan calon ibu kami. Menurutku sih dia masih baik dan juga sangat cantik. Namanya Alika Diana.



Aku berharap bahwa ayahku akan bahagia kelak bersamanya nanti jika sudah menikah. Owh ya dia itu seorang janda satu anak, anaknya lelaki 2 tahun di bawahku. Bernama Julian Andreson. Dia juga sangat tampan 😂✌



Saat ini aku sedang berdiri di depan pintu menunggu kehadirnnya, tapi seperti nya i tidak akan hadir diacara pernikahan ini. Padahal aku sudah memberikan dia undangan dan sangat berharap dia akn datang.


"Sayang... "


Panggil seseorang lelaki yang langsung memeluk pinggangku dari belakang. Dia kekasihku, Rendy Revanda


"Ada apa? Kamu kelihatan gelisah sekali... Ayo lebih baik kita masuk, akad nikah sebentar lagi akan dimulai." ucap Rendy.



"Tidak apa apa kok, ya sudah ayo masuk." balasku seraya tersenyum manis. Aku menolehkan kepalaku kebelakang sehingga aku bisa melihat wajah tampannya itu 😂.


"Aku tau kamu berbohong sayang..." ucap Rendy melepaskan pelukannya padaku dan membalikkan badanku agar menghadap kearahnya.


"Aku tidak berbohong." balas ku. Walau nyatanya aku sedang berbohong.


"Aku tau, kamu sangat ingin dia datang kan." ucap Rendy sambil menatap lurus manik mataku.


Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak! Aku hanya---


"Jujurlah jangan berbohong, katakan saja jika kamu memang ingin dia hadir, aku kau kamu sangat mencintainya." ucap Rendy.


"Aku tidak berbohong, aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu." balasku langsung memelukknya.


"Lihat aku, jika kamu memang masih ragu... Kamu tidak perlu bercerai dengannya, kita bisa akhiri semua ini dengan baik baik." ucapnya panjang lebar seraya menangkup kedua pipiku agar aku bisa melihat wajah nya.


Rendy selalu seperti itu, dia sangat baik padaku.


Aku mengelengkan kepalaku kuat kuat. "Tidak! Kita sudah merencanakan semua itu dari awal, aku mencintaimu... Aku tidak pernah mencintainya." ucapku sedikit ragu saat mengatakan aku tidak mencintainya.


Entahlah apa yang terjadi padaku, yang pasti ada rasa aneh dalam dadaku saat aku mengatakan tidak mencintainya.

__ADS_1


"Lebih baik kita masuk sebentar lagi akad nikahnya akan dimulai bukan." ajakku.


"Jika kamu memang mencintainya katakan saja, sebelum nanti semuanya akan terlambat dan kamu akan menyesalinya karna berpisah dengannya dan memilihku." ucap Rendy. Lagi.


"aku tidak akan menyesal telah memilihmu karna aku mencintaimu, percayalah." ucapku meyakinkan Rendy.


Aku yakin bila aku tidak akan menyesal, aku mencintai Rendy... Dia yang selalu ada untukku selama ini bukan orang yang mengaku suamiku.


Dia selalu mengabaikan aku, tidak pernah sekali pun memperhatikan ku, suami macam apa itu?


"Baiklah jika itu maumu, tapi jika kamu berubah pikiran katakan saja sebelum semuanya terjadi. Oke...."


Aku mendengus sebal dan pura pura marah padanya. "Tadi aku sudah mengajakmu masuk."


Rendy malah terkekeh dengan ucapanku. Dan kami pun masuk kedalam dengan bergandengan tangan, dan duduk bersebelahan.


Oh ya, Papaku sudah tau soal hubunganku dengan Rendy dan Papaku tidak suka aku mempunyai hubungan dengan pria lain sementara setatusku adalah seorang istri.


Tapi aku sudah mengatakan kemauanku untuk bercerai dengan Ali dan menikah dengan Rendy kemudian. Walau ayahku sebenarnya masih tidak suka dengan hubungan kami, tapi ia mencoba untuk mengerti.


"Jadi apa lagi uang kita tunggu?" tanya ayah Malik, adik Papaku.


"Iya, pa... Semua sudah kumpul penghulu juga sudah ada. Lalu apa yang harus di tunggu lagi."


Timpal Fandi.


Papaku menghela nafas panjang kemudian menghembuskan nya. Aku tau dia pasti sangat gugup, ya walau ini bukan yang pertama baginya dan aku berharap ini juga yang terakhir.


Dan akad nikah pun dimulai, ayahku mulai mengikuti intrusi pak penghulu. Namun di saat tengah dengan tengah acara tiba tiba seseorang berteriak.


"Saya terima nikah dan kawinnya....


"Tunggu!"


Pekik seseorang dan aku kenal suara itu, itu suara dia. Aku mengukir senyum, aku kira dia tidak datang. Ternyata aku salah .


Aku melihat Rasya yang bangkit dari duduknya dan menghampiri Ali, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Yang aku tau Ali mendorong badan Rasya hingga hampir saja tajuh ke lantai dan Ali langsung berjalan cepat kearah kami kemudian berteriak.


"Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Aku masih suaminya!" pekik Ali yang tiba tiba datang dan dengan lantangnya mengatakan itu membuat kami semua melongo.


Apalagi Ali hanya mengenakan celana boxer dan juga baju singlet.


Aku berdiri dan menghampiri Ali... "Apa maksudmu Ali?" tanyaku heran dengan ucapannya barusan.


Bukan hanya aku yang heran, namun semua yang ada di sana juga terheran heran.


"Loh, bukanya yang mau nikah kamu ya?" tanya Ali bingung saat melihat pengantin wanita.


"Aku? Bukan aku Ali tapi ayahku yang akan menikah. Kau mengenal calon istri Papaku?" tanyaku yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Ali.


Aku menatap Ali yang kelihatan sangat gugup dan tangannya menggaruk belakang kepala nya.

__ADS_1


"Uhm tidak." balas Ali.


"Lalu kenapa kau mengatakan jika kamu adalah suami dari calon istriku.?"


Itu bukan aku, melainkan Papaku yang sudah berdiri entah sejak kapan di sampingku.


"Aku kira Prilly yang akan menikah." balas Ali dengan tersenyum kikuk kepada Papaku.


"Maaf..." lanjutnya.


"Apa pernikahan ini akan di lanjutkan." ucap pak penghulu.


"Tentu, di lanjut pak. Dia hanya salah orang." balasku.


"Ayo ikut aku Ali." ucapku mengajak Ali menjauh dari ruang tamu dan acara akad nikah pun di mulai.


_______


Bukan pernikahan impian.


______


Ali pov.


Aku merutuki kebodohanku sendiri sekarang. Kenapa kemarin aku tidak melihat undangan itu dan langsung membuangnya? Aku menyesal.


Aku tidak tau jika bukan Prilly yang menikah melainkan ayahnya. Saat mengetahui kenyataan bahwa aku salah sangka dan hampir saja membatalkan pernikahan mertuaku, rasanya aku ingin sekali gali kubur dan mengubur diri hidup hidup.


Aku tidak punya muka lagi, sungguh.


Mana aku hanya hanya memakai singlet dan boxer lagi juga tidak mandi. Ais, aku benar benar ingin mengubur diri hidup hidup.


Tuhan. Aku malu, siapapun tolong aku...


Aku menatap Prilly yang berkacak pinggang di depanku, aku tau dia pasti sangat marah karna aku hampir menggagalkan pernikahan ayahnya.


Lagipula aku kan tidak tau, dia juga kemarin malam tidak bilang kalau itu undangan pernikahan ayahnya, bukan dia.


'Loe yg bodoh ali, kenapa undangannya malah dibuang. Bukanya di buka dulu'


'Ais jangan membuatku tambah malu Ra, kan kau yang buat aku seperti ini.'


'Lo udah salah tapi ngak mau fi salahin. Dasari alibaba'


'Diem deh lo Ra, cerewet banget sih'


Oke abaikan percakapan dia tas tidak penting, Raraa sedang gila itu.


"Sayang...."panggil seorang lelaki yang baru saja masuk ruangan yang ada aku dan Prilly.


Mataku melotot tidak percaya melihat lelaki itu memanggil Prilly sayang dan aku juga pernah melihatnya. Aku tau siapa dia, jadi dia lelaki yang di cintai istriku.

__ADS_1


__ADS_2