
Sebelas : Apa kamu Mencintaiku?
________
________
Ali pov.
Hari ini aku terkejut saat mendapat kabar bahwa Nikita masuk rumah sakit. Apalagi penyebabnya adalah Prilly. Aku tidak percaya jika Prilly bisa berbuat sejahat itu, aku kira dia adalah gadis yg baik. Selama sebulan lebih dia menjadi istriku, dia kelihatan seperti gadis polos dan baik.
Aku tidak perduli tadi aku memarahinya dan mendorongnya hingga jatuh. Tidak perduli dengan dia yg berdiri dengan bantuan Rasya, aku masih sangi dengan hubungan apa yang mereka miliki. Yang pasti tidak hanya kakak dan adik ipar, karna mereka terlihat sangat akrab. Bahkan Rasya terlihat sangat panik saat aku mendorong Prilly hingga terjatuh bahkann ia berani memeluk Prilly didepanku, tapi aku tidak perduli. Yang terpenting sekarang adalah istriku baik baik saja, aku juga sudah mengancam jika terjadi sesuatu pada Nikita, aku akan membencinya.
Aku memperhatikan pintu ugd yang masih tertutup rapat. 'Ya allah selamatkan istriku, aku tidak mau hal buruk terjadi padanya Ya Allah'
Aku memperhatikan Rasya yang memanggil manggil nama Prilly dan kemudian mengangkat tubuh Prilly dan meminta bantuan. Dasar anak manja, jatuh dikit saja sudah pingsan.
Clek.....
Pintu ruang ugd terbuka dan namapaklah seorang dokter dengan masker menutupi sebagian wajahnya. "Dokter istriku baik baik saja kan?" tanyaku langsung. Aku berharap dokter itu menjawab 'ya istri anda baik baik saja pak'
Dokter itu melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya dan menampakkan wajah yang tidak enak untuk dilihat, eh?
"Sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya, mari ikut saya pak..." ucapnya.
Dengan perasaan campur aduk, aku pun mengikuti langkah kaki dokter menuju ruangannya. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter itu dengan pembatas meja di tengahnya.
"Jadi dokter, apa yg akan anda sampaikan? Ku harap bukan kabar buruk." ucapku langsung.
"Begini pak, istri anda tidak apa-apa walau tadi kandungannya hampir keguguran karna memang bayi dalam kandungan Ibu Nikita itu sangat lemah." ucap dokter tersebut.
Aku terkejut untuk sesaat, kandungan, bayi. "Itu artinya istri saya hamil dok?"
"Iya istri bapak hamil, tapi...."
"Tapi apa dok?" tanyaku saat dokter itu menghentikan ucapannya.
"Ini Nikita mempunyai penyakit kanker rahim, jika bayi dalam kandungannya di pertahankan maka ia bisa kehilangan nyawanya pak." jelas dokter.
Seperti tersambar petir, aku baru saja merasakan aku akan bahagia karna Nikita akhir nya hamil. Tapi jika aku mempertahankan anakku maka aku akan kehilangan ibunya. Tidak!! Itu tidak boleh terjadi, aku tidak mau kehilangan Nikita dan tidak akan pernah.
"Jadi bagaimana pak?" tanya dokter membuyarkan lamunanku.
"Bagaimana apanya dok?" tanyaku bodoh.
__ADS_1
Dokter bernametage Randy Firmansyah itu menghela nafas panjang. "Kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim jika bapak ingin istri anda selamat."
________
Bukan pernikahan impian.
________
Bagaimana ini? Bagaimana caraku memberitahukan pada Nikita? Aku tidak mau kehilangan Nikita, namun aku juga ingin mempunyai seorang anak. Dan Nikita juga sangat ingin mempunyai seorang anak, dia pasti tidak akan mau melakukan operasi itu.
Aku membuka pintu ruang rawat Nikita, karna ia memang sudah di pindah kan tadi. Aku mendekatinya yang berada di ranjang dengan selang infus di tangannya. Nikita terlihat begitu damai saat tertidur seperti ini.
Tadi dokter bilang kandungannya sudah memasuki bulan ke empat. Dan kenapa aku sampai tidak tau jika ia hamil, apa memang ia sudah tau penyakitnya dan tidak mau memberitahuku.
"Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu." liriku pelan. Aku mengecup keningnya yang dibalut dengan perban, dia masih tertidur pengaruh obat tidur.
"Kenapa kamu tidak mengatakan semua ini padaku? Kamu mempertahankan bayi kita, tapi itu berbahaya untuk keselamatanmu sayang." ucapku.
Aku mengusap air mata yang entah dari kapan sudah mengalir melewati pipiku. Aku seperti seorang perempuan cengeng, tapi aku tidak perduli.
________
Bukan pernikahan impian.
________
"Prilly, kamu sudah sadar.... Syukurlah kamu baik baik saja." ucap Rasya senang karna melihat Prilly sudah siuman.
Tadi Rasya sangat panik saat melihat Prilly pingsan, padahal Ali saja yg suami nya terlihat santai dan tidak perduli.
"Bagaimana keadaan kakak Nikita?" tanya Prilly dengan suara paraunya.
"Ngg kak Nikita baik baik saja kok, bayinya juga baik baik saja." ucap Rasya, tidak sepenuhnya jujur dan juga tidak berbohong.
"Kak Nikita hamil? Astaga jadi aku tadi hampir membunuh bayinya." ucap Prilly.
"Ssttt jangan katakan itu."
"Ali pasti sangat membenciku karna aku melukai kak Nikita." Lirihnya.
"Prilly, kamu tidak pernah melukai kak Nikita oke jangan salahkan dirimu seperti ini."
"Tapi aku memang yang salah, Rasya." ucap Prilly. Ia memalingkan wajah menatap pintu ruang rawatnya.
__ADS_1
"Bukan kamu yang salah Prilly, aku sudah mengatakan itu berulang kali padamu. Percaya padaku." ucap Rasya geram.
"Tapi Ali tidak akan percaya."
Rasya menghela nafas panjang, ia kembali duduk di kursi dekat ranjang Prilly. "Boleh aku bertanya padamu?"
"Ya...."
"Apa kamu mencintai kakakku?"
Prilly hanya diam tidak tau harus menjawab apa pertanyaan Rasya barusan. Apa dia mencintai Ali?
"Aku tidak tau." ucap Prilly akhirnya.
Rasya mengeryit. "Lalu untuk apa kamu menikah dengan kakakku jika kamu tidak tau mencintainya atau tidak. Padahal kamu tau kan jika kakakku itu sudah mempunyai istri. Dan kakak juga tidak terlihat perduli padamu tadi." ucap Rasya panjang lebar.
Prilly menggelengkan kepalanya, mereka menikah karna perjodohan. Jadi mana mungkin Ali akan peduli dengannya, ia pasti akan membencinya setelah kejadian ini.
"Tidak."
"Apa artinya tidak? Aku bertanya sepanjang kereta api dan kamu hanya menjawab satu kata 'tidak'." ucap Rasya kesal.
"Makanya jika bertanya jangan sepanjang itu, aku kan jadi bingung mau jawab apa." ucap Prilly kesal.
Rasya menatap Prilly kesal, kenapa malah Prilly jadi ikutan kesal padanya sekarang.
"Aku tau kakakmu sudah punya istri yg di cintainya. Aku menikah dengannya karna Papa yang menjodohkanku dengannya, aku sudah berusaha menolak tapi Papa tetap menikahkan aku dengan Ali." ucap Prilly akhirnya berkata jujur.
"Lalu kenapa hari itu kau berbohong padaku?"
Prilly mendengus kesal. "Apa aku harus bilang jika aku akan menikah dengan lelaki yang sudah beristri padamu, kamu pasti akan menganggap aku perempuan murahan. Dan aku juga tidak tau jika ternyata kamu adalah adik dari Ali." ucapnya.
Rasya memngebuskan nafas, Rasya memang beranggapan demikian saat ia tau Prilly menolaknya dan malah menikah dengan sang kakak yang sudah mempunyai istri. Namun sekarang ia tau jika Prilly tidak mencintai Ali dan begitupun sebaliknya, mereka menikah karna perjodohan. Ck, pasti karna masalah bisnis.
"Apa kamu mencintai ku?" tanya Rasya tiba tiba.
"Hah!" ucap Prilly kaget, kedua pipinya sudah merona merah sekarang.
"Apa kamu mencintaiku, seperti aku yang mencintai mu?"
"Aku-aku.....
Maaf bila anda masih menemukan typo...
__ADS_1