
Enam belas. : Birthday Chris..
_____________
_____________
Author pov.
Prilly menggigit bibir bawahnya takut. Malam ini ia ingin sekali minta izin dari Ali untuk menghadiri acara ultah Cris yang ke 17 tahun. Tapi ia takut Ali masih marah padanya karna kejadian kemarin, walau Prilly sadar Ali pasti masih marah padanya.
Tapi bagaimana pun Prilly harus izin, sebenarnya tidak izin juga tidak apa apa sih toh Ali juga tidak akan perduli apa dan ya. Apapun yang Prilly lakukan Ali juga tidak perduli pikirnya. Namun sebagai istri yang baik ia harus tetap meminta izin bukan?
Prilly melirik Ali yang masih setia duduk di kursi dekat ranjang Nikita dengan kedua tangan menggenggam erat tangan Nikita, seakan Ali takut jika genggamannya lepas maka Nikita juga akan hilang. Apa jika aku yang berbaring disana Ali akan sekhawatir itu, pikir Prilly.
"Ali..." ucap Prilly takut takut, namun Ali tidak bergeming dari tempatnya sama sekali.
"Hmm Ali bolehkan aku pergi untuk menghadiri acara ultah Cris?" tanya Prilly Tho the poin.
'Haduh nih orang apa patung sih, ko ngak ada reaksi sama sekali.' Gumam Prilly dalam hati mendengus kesal.
"Ali bolehkah ak----.
"Pergilah." ucap Ali dingin dan datar memotong ucapan Prilly.
Prilly mendengus kesal, namun hanya pelan. "Terima kasih, aku tidak akan lama kok." ucap Prilly.
Ali menatap punggung Prilly yang keluar dari ruangan Nikita. Ali sadar Prilly kesal dengan sikapnya. Namun Ali tidak tau ia harus bersikap seperti apa kepada Prilly. Ada rasa aneh menyelip dihatinya saat mendengar Prilly meminta izin pergi ke acara ultah Cris. Cris itu lelaki atau perempuan, pikirnya.
Namun itu hanya sesaat saja karna ia langsung menepis pikiran itu. Untuk apa ia peduli Cris lelaki atau perempuan? Bukannya Ali tidak menyukai Prilly hmm ralat maksudnya Ali membenci Prilly. Ya dirinya membenci Prilly, yakinnya dalam hati.
Huh, tapi tetap saja Ali masih kepikiran Cris itu siapa dan apa hubungannya dengan Prilly? Walau ia sudah meyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh peduli pada Prilly karna dirinya membenci Prilly. Namun firikan dan hati Ali tidak pernah sama.
________
Bukan pernikahan impian.
________
Sebelum pergi, Prilly menyempatkan untuk melihat putrinya di ruang inkubator. Walau ia hanya bisa melihat dari luar ruangan kaca, namun hal itu sudah bisa membuatnya tersenyum bahagia. Dokter bilang bayi itu sudah boleh di keluarkan dari ruang inkubator setelah seminggu dan Prilly sudah tidak sabar menunggu hal itu, ia ingin sekali segera menggendong bayi mungil nan cantik itu. Ahh andai saja Prilly bisa mempunyai anak dari rahimnya sendiri. Prilly pasti akan sangat bahagia, namun ia berharap bahwa suatu saat ia juga ingin memiliki seorang anak dari rahimnya sendiri.
__ADS_1
________
Bukan pernikahan impian.
________
"Ibu, Ayah... Dia pacarku namanya Dahlia." ucap Fandi terang terangan mengenalkan Dahlia pada kedua orangtuanya.
Hari ini adalah hari ultah Fandi di yang ke 17 dan Ayah dan Ibunya membuatkannya pesta walau sebenarnya ia tidak mau. Dan Fandi pun sekalian mengenalkan Dahlia sebagai sang pcar kepada orangtuanya.
"Hallo om, tante saya Dahlia. Salam kenal." ucap Dahlia menyalami kedua orang tua Fandi yang tersenyum bahagia melihat putranya mengenalkan seorang perempuan sebagai kekasihnya.
"Kamu cantik sekali sayang..." puji Ibu Fandi.
Dahlia tersenyum malu. "Tante juga cantik." ucapnya.
"Tapi kamu lebih cantik." ucap Ayah Fandi membuat semburat merah di kedua pipi Dahlia semakin merah. Sementara kedua orang tua Fandi malah terkekeh geli melihat kekasih anaknya itu malu malu meong.
Fandi menatap pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan namun orang yang di tunggu tunggu belum juga datang. Padahal ia berhadap bahwa dia akan datang seperti janjinya tadi siang.
"Dia akan datang, bersabarlah mungkin perjalanan macet." ucap Ayah Fandi menepuk bahu putranya itu. Ayah Fandi tau putranya itu pasti sedang menunggu dia datang.
Dengan kesal Dahlia menghentakkan kakinya sebal. "Fandi, tante, om aku kesana dulu ya, mau ambil minum. " ucap Dahlia sambil tersenyum, padahal dalam hati ia sangat dongkol dengan melakukan Fandi yang tetap mengabaikan ucapannya.
"Silahkan Dahlia, maaf Fandi memang selalu seperti itu jika menunggu dia." ucap Ibu Fandi. Beliau tau kalau Dahlia kesal di abaikan putranya.
Dahlia tersenyum lalu melangkah menjauhi Fandi dan kedua orang tuanya, ia ikut bergabung dengan teman temannya setelah mengambil minuman.
Fandi tersenyum senang saat matanya menangkap seorang perempuan yang sedang berjalan kearahnya dengan terburu - buru. "Maaf aku telat, tadi jalanan sangat macet." ucapnya setelah sampai di depan Fandi.
"Ayah, Ibu kalian apa kabar?" tanya perempuan itu sembari memeluk Ayah dan Ibu Fandi secara bergantian.
"Kami baik Bie, bagaimana kabarmu?" tanya Ibu Fandi.
Bie tersenyum kikuk. "Kabarku baik Ayah, Ibu." ucapnya walau tidak sepenuhnya berbohong.
Sementara Fandi sudah mendengus kesal, bahkan ia memanyunkan bibir nya seperti perempuan ngambek. "Perasaan yang ultah itu aku deh." gumamnya kesal.
Bie dan kedua orang tua Fandi terkekeh pelan. Bie pun beralih untuk memeluk Fandi. "Hehe maaf Happy Birthday ya Cris semoga semakin dewasa jangan jadi anak bandel." ucap Bie melepas pelukannya.
__ADS_1
"Bie kadonya mana?" tanya Fandi langsung.
Bie mendengus sebal mendengar ucapan Fandi . "besok di kirim ke rumahmu." balas Bie.
"Serius kan Bie." ucap Fandi senang, matanya berbinar binar penuh kebahagiaan.
Bie tersenyum melihat itu. "Tentu saja. Kapan aku pernah berbohong padamu." ucap Bie.
"Makasih ya Bie, Cris sayang Bie...." ucap Fandi memeluk Bie antusias.
"Kau tidak minta yang aneh aneh kan Fandi?" tanya Ayah Fandi memincingkan matanya curiga.
"Ngak ko yah." balas Fandi cepat.
"Memangnya kau minta apa sama Bie?" tanya Ibu Fandi.
"Cuma mobil." balas Fandi.
"Sudah yah, bu tidak apa-apa. Aku bahagia jika Cris senang." ucap Bie tersenyum tulus.
Ayah dan Ibu Fandi tau jika Bie sangatlah menyayangi Fandi.
"Aku tidak bisa lama lama disini, aku harus pulang sekarang. Maafkan aku ya Cris.." ucap Bie tak enak hati.
"Tidak apa-apa asalkan jangan lupa besok kirimannya." ucap Fandi asal.
Membuat ayah dan Ibu Fandi menjitak kepala Fandi secara bergantian. "Aduh apa sih ibu, ayah ko di jitak."
________
Bukan pernikahan impian.
________
Dahlia menatap seorang perempuan yang sedang berpelukan dengan Fandi dengan kesal. Jadi sedari tadi Fandi mengacuhkannya karna menunggu perempuan itu, pikirnya.
Dahlia tidak mendekat, ia hanya memperhatikan perempuan itu dan Fandi beserta kedua orang tuanya yang terlihat sangat bahagia akan kehadiran perempuan itu. Tapi, Dahlia merasa familiar dengan perempuan itu. Rasanya Dahlia pernah melihat perempuan yang sama, tapi sayang karna dia hanya bisa melihat dari jauh dan dari belakang.
Saat Dahlia mendekat untuk melihat siapa perempuan yang sepertinya tak asing baginya itu. Perempuan itu sudah duluan pergi sebelum Dahlia sempat melihat wajahnya, membuatnya bertambah kesal.
__ADS_1