Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Perceraian


__ADS_3

Tiga puluh lima : Perceraian.


___________________


Ali pov.


Deg !!


Hatiku langsung berdetag dua kali lipat saat aku melihat apa isi amplop coklat tersebut. Aku masih tidak percaya ini, aku tidak percaya kalau Prilly benar benar menggugat cerai aku. Prilly benar benar ingin bercerai dariku. Prilly benar benar ingin jauh dariku.


Walau aku masih mencintai nya, namun aku pantas mendapatkan semua ini. Karna ini adalah karma atas apa yang aku lakukan dulu. Dulu saat dia bersamaku aku mengabaikannya dan sekarang saat aku mencintainya dia menjauh dariku. Sebegini sakitkah yang namanya karma ini Tuhan.


Isi amplop itu adalah surat panggilan dari pengadilan yang harus aku hadiri besok siang di pengadilan DaDW (ngarang yak jadi jangan di cari 😂✌)


Baiklah sepertinya aku harus rela melepaskannya, agar Prilly bisa bahagia dengan apa yang dia inginkan. Hah jika Prilly akan bahagia bila berpisah dariku? Ya kenapa tidak!


__________________


Bukan pernikahan impian.


__________________


Siang ini adalah hari sidang perceraian ku dengan Prilly dan setelah hampir satu jam kami berdua di sidang akhirnya hakim memutuskan keputusannya.


Mulai detik ini juga aku dan Prilly sudah resmi bercerai, aku hanya bisa tersenyum kaku. Bahkan aku sendiri tidak sadar sejak kapan aku sudah meneteskan air mata. Air mata bahagia dan kesedihan. Bahagia karna mungkin dengan bercerai denganku, aku tidak akan pernah membuatnya menderita lagi dan kesedihanku karna aku akan kehilangan orang yang aku cintai untuk yang kedua kalinya.


Aku menatap sekeliling ruang sidang, ada beberapa saudara kami yang hadir disini. Mereka memandangku iba, ada juga yang sampai ikut meneteskan air mata.


Aku beralih menatap Prilly yang kini sedang menangis dalam pelukan Randy. Aku tidak tau kenapa Prilly menangis, entah dia menangis karna sedih berpisah dariku atau karna terlalu senang akhirnya bisa berpisah dariku. Aku tidak tau. Aku juga sempat melihat Randy yang tersenyum miring padaku, tapi aku tidak perduli.


"Aku tidak mengerti mengapa kalian memutuskan untuk bercerai kak, karna yang aku tau akhir akhir ini hubungan kalian itu lebih baik dari sebelumnya. Hum maksudku kau sudah mulai baik dan meluangkan waktu untuk ka Prilly dan Gwen. Apa ini adalah karnma untukmu ya kak." oceh Dahlia panjang lebar saat kami sudah berada dalam mobil untuk perjalanan pulang.


"Iya. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana untuk ini, haruskah aku senang karna akhirnya aku punya kesempatan untuk mendapatkan Prilly atau entahlah." Timpal Rasya.


Aku hanya diam mendengar semua ucapan mereka dan memilih untuk fokus menyetir.


"Kak kau mendengarkan kami kan?" tanya Dahlia.


"Ya." balasku seraya mengangguk dan melihat Dahlia san Rasya dari kaca tengah. Memang Rasya dan Dahlia tidak ada yang mau duduk di depan bersamaku, jadi aku lebih terlihat seperti supir mereka bukan kakak. Jahat bukan?

__ADS_1


"Ya apa kak?" tanya Dahlia, aku bisa mendengar dari nada suaranya bila ia kesal padaku.


"Ya aku mendengar semua ocehan kalian." ucapku.


"Baiklah terserahmu saja kak." kesal Dahlia, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu melihat kesamping, jendela.


"Sudahlah Dahlia, mungkin kak Ali sedang galau sekarang." ucap Rasya dengan nasa sedikit bergurau.


Setelah itu mobil sunyi tidak ada lagi yang membuka suara, hanya meson mobil yang kami tumpangi yang bersuara. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumah kami.


Aku pun memarkirkan mobilku di tempat parkir dan segera turun dari mobil, begitu juga Rasya dan Dahlia yang mengikuti langkahku dalam diam.


Aku menghentikan langkahku saat mataku memandang Prilly yang sedang menggendong Gwen dan Randy yang membawa koper besar menuruni tanga rumahku. Aku tidak tau kenapa mereka bisa sampai rumah lebih dulu, mungkin karna aku terlalu lambat membawa mobil atau entahlah.


Aku, Dahlia, Rasya hanya diam memperhatikan Prilly dan Randy mendekati kami. Setelah Prilly dan Randy tepat di hadapan kami. Prilly tersenyum namun air matanya terus mengalir, menyerahkan Gwen padaku.


"Aku tidak berhak atas Gwen." ucap Prilly lirih saat aku sudah mengambil alih Gwen dalam gendonganku.


"Apa maksudmu Prilly?" tanyaku tidak mengerti.


Prilly menghela nafas kasar lalu menghapus air mata yang sejak tadi keluar dari kedua mata indahnya itu dengan punggung tangannya.


"Aku dan kau sudah bercerai dan aku harus pergi dari rumah ini. Gwen putrimu bukan aku jadi aku tidak berhak atasnya.... Jaga dia baik baik Ali, aku sayang meyayanginya..." ucap Prilly sendu.


"Kakak maafkan semua sekasalahanku dulu yang bersikap tidak baik padamu... Dan jangan lupakan aku, kau adalah kakak ipar terbaik yang aku punya." ucap Dahlia.


Mereka pun melepas pelukannya dan Prilly menghapus air mata Dahlia dengan ibu jarinya dan berkata. "Kau tidak perlu minta maaf padaku... Mana mungkin aku melupakan kau Dahlia, kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Sudah jangan menangis, aku hanya pergi kerumah orang tuaku bukan ke luar negri."


Lalu Prilly beralih ke Rasya dan memeluknya. "Aku pasti akan sangat merindukanmu, Prilly." ucap Rasya lirih namun aku masih dapat mendengarnya.


"Kita masih bisa bersama kan?" tanya Rasya saat ia sudah tidak berpelukan lagi. Aku tidak mengerti dengan maksud ucapan Rasya 'kita masih bisa bersama kan?' itu maksudnya apa?


Prilly mengangguk seraya tersenyum manis, walau dengan derai air mata. "Jangan menangis, kenapa kau jadi cengeng begini? Hei kau itu pria bukan wanita." ucap Prilly seraya bergurau.


Rasya mendengus pura pura marah dan Prilly kini kembali berjalan kearahku, Prilly menatapku sebentar lalu menatap Gwen dan mencium kedupa pipi dan kening Gwen cukup lama membuat Gwen gerak gerak dalam gendonganku, Gwen memang sedang tertidur.


"Baik baik sama papa ya sayang, jangan nakal. Mama akan sering sering datang mengunjungimu, mama sangat menyayangimu.." ucap Prilly mengusap pelan pipi Gwen.


"Aku pergi dulu semua." ucap Prilly dan melangkahkan kaki dengan hati hati, aku tau dia tidak rela jauh dari Gwen.

__ADS_1


Randy tersenyum sinis padaku. "Satu langkah lagi aku menang kak."


Kemudian Randy berjalan menyeret koper mengikuti Prilly yang sudah sampai di depan pintu. Sementara Dahlia juga Rasya menatapku bingung.


"Kak?" tanya mereka berdua secara bersamaan.


Sebelum aku menjawab pertanyaan Dahlia dan Rasya, Gwen terbangun dan menangis kencang. Kami sudah mencoba menenangkannya namun dia tidak juga mau diam.


Akhirnya aku pun berlari keluar rumah untuk mengejar Prilly dan aku melihat Prilly yang baru saja hendak membuka pintu mobil dan Randy yang memasukkan koper kedalam bagasi mobil.


"Tunggu!" teriakku dan berlari kearah Prilly.


Prilly melihat kearahku dan kembali menutup pintu mobil.


"Gwen menangis, kami sudah mencoba untuk menenangkannya namun ia tetap tidak mau diam" ucapku.


"Sini biar aku gendong..." ucap Prilly mengambil alih Gwen dariku.


Seketika Gwrn langsung diam dan tertawa saat melihat dia dalam gendonga Prilly. Sepertinya Gwen tidak mau jauh dari Prilly, dia tau jika Prilly akan meninggalkannya.


"Prilly...." panggil Randy dari dalam mobil.


"Ya sebentar Ran." balas Prilly.


"Prilly." panggilku.


"Ya..."


"Aku sudah memutuskan ini baik baik."


"Ada apa Ali?" tanya Prilly.


"Aku memutuskan untuk....


"Prilly." panggil Randy membuatku menghentikan ucapanku, ck dia tidak sabaran sekali sih.


"Sebentar Ran. Lanjutkan Ali."


Aku menghela nafas panjang dan menatap kedalam manik mata Prilly yang kini tengah menatapku penasaran.

__ADS_1


"Aku memutuskan agar Gwen ikut bersamamu saja, aku tau aku Papa kandungnya tapi Gwen sepertinya lebih nyaman bersamamu....."


"Tidak!"


__ADS_2