
maaf bia masih menemukan banyak typo
Enam : Pernikahan dan Maaf.
_______
_______
"Selamat menempuh hidup baru."
Prilly sontak langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang familiar di telinganya. Seketika matanya terbelalak kaget, melihat siapa yang mengucapkan selamat padanya, itu dia. Orang yang beberapa minggu ini menjadi temannya dan beberapa hari ini ia hindari.
"Prilly, dia kedua adikku. Kenalkan yang perempuan Dahlia dan yang lelaki Rasya." ucap Ali memperkenalkan kedua adiknya.
Prilly menggigit bibir bawahnya gugup, ia tidak tau jika Rasya adalah adik lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya. Prilly ketahuan berbohong pada Rasya, apa yang harus Prilly katakan nanti pada Rasya tentang pernikahan nya ini.
Rasya menatap miris kearah Prilly, dia tidak menyangka jika perempuan itu telah berbohong padanya. Dia bilang dia akan pindah jauh dari Paris, lalu mengapa sekarang ada di pernikahan kakaknya dan menjadi pengantin wanitanya.
Rasya kira Prilly adalah gadis baik baik, namun ternyata Rasya salah menilai Prilly.
Sementara Dahlia masih diam memperhatikan Prilly, ia merasa pernah mendengar nama Prilly namun ia lupa di mana mendengarnya.
"Selamat bergabung dalam keluarga kami." ucap Rasya lalu pergi dari hadapan Ali dan Prilly.
_____
Bukan pernikahan impian.
_____
Prilly pov.
Aku masih tidak percaya jika aku sudah resmi menjadi seorang istri kedua dari lelaki bernama Ali Farid Stevano. Ya hari ini adalah hari pernikahan kami. Pesta nya sangat meriah, namun aku sama sekali tidak menikmatinya.
Di tambah lagi satu hal yang membuatku shock setengah ******. Bagaimana tidak jika orang yang beberapa ini ku hindari ternyata adalah adik dari suamiku sendiri.
Dia pasti sangat kecewa padaku karna aku sudah berbohong padanya. Berbohong jika aku akan pindah keluar negri, namun nyatanya aku malah menikah dengan kakaknya.
Aku tau sekarang pasti dia membenciku, dan menganggap aku bukan gadis baik baik karna menikah dengan kakaknya yang jelas jelas sudah mempunyai istri.
Oh ya tadi di pernikahan kami istri pertama suamiku juga hadir. Namanya Nikita, dia sangat cantik. Aku saja tidak ada apa-apanya.
Tadi setelah acara resepsi pernikahan selesai. Aku langsung di boyong ke rumah suamiku, aku akan tinggal bersama keluarga mereka. Aku tidak tau aku harus bersikap bagaimana?
__ADS_1
"Kau belum tidur?" tanya Ali yang baru saja memasuki kamarku.
"Ya." balasku singkat.
"Kenapa, apa kamar ini tidak nyaman untukmu?" tanyanya Ali.
Aku bisa melihat jika Ali mulai berjalan mendekati ranjang yang ku tempati.
"Tidak juga, hanya memang aku susah tidur di tempat baru." ucapku malas.
"Apa yang kau lakukan?!" Pekikku kaget saat ia mulai naik ke sisi ranjangku.
"Tidur." balasnya singkat lalu ikut masuk dalam selimut ku.
"Kenapa disini? Maksudku uhm kau harusnya bersama istrimu saja." ucapku tergagap.
"Ya karna ini kamarku? Lagi pula kau kan istriku." balasnya santai.
Astaga kenapa aku bisa lupa jika aku sudah menikah dengannya, dan juga ini kan kamarnya.
"Maksudku kenapa tidak tidur dengan kak Nikita saja." ucapku berusaha menghilangkan rasa gugupku.
"Dia mengusirku." balasnya.
Ali menghela nafasnya berat. "Ya karna ini malam pertama kita."
Aku menelan ludahku dengan susah payah, bagaimana aku bisa lupa akan hal itu.
"Kau akan melakukan 'itu'?" tanyaku hati hati.
Ali memiringkan badannya menghadapku. "Itu apa?" tanyanya.
"Ngg ya 'itu' " ucapku bingung. Dia itu **** atau pura pura **** sih.
Tiba tiba Ali menarik tubuhku untuk mendekat kearahnya.
"Eh, apa yang kamu lakukan?" tanyaku kaget.
Ali malah tersenyum kepadaku. "Katanya mau melakukan 'itu'." ucapnya dengan menaik turunkan alisnya.
Membuat ku salah tingkah sendiri di buat nya, jujur aku belum siap jika harus melakukan itu sekarang. Aku langsung menutup mataku saat Ali mendekatkan wajahnya padaku, tidak lama kemudian aku dapat merasakan benda kenyal basah menempel pada bibirku.
Ali menciumku. Awalnya hanya menempel saja, namun lama lama dia menggerakan bibirnya pelan. Sangat lembut, berbeda dengan Rasya yang menciumku waktu itu. Tapi kenapa aku jadi teringat Rasya?
__ADS_1
Aku hanya diam tidak membalas ciuman Ali, karna memang aku tidak tau bagaimana caranya. Jujur ini ciuman keduaku setelah Rasya yang pertama waktu itu.
Ali pun melepaskan ciumannya padaku, ia menyatukan kening kami berdua lalu berkata, "aku tidak akan melakukannya jika memang kamu belum siap." ucapnya.
Aku hanya diam tak bergeming di tempatku, aku memperhatikan wajah Ali yang sedekat ini denganku. Dia sangat lah tampan dengan bola mata coklat miliknya, alisnya tebal, rambutnya hitam, bulu matanya sangat lentik, bolehkan kita tukaran bulu mata?
Hidungnya mancung, bibirnya tipis merah merona mengoda iman 😂. Rahangnya yang kokoh, tidak sadar dengan perbuatanku sendiri tanganku sudah mengusap rahangnya yang kokoh dan keras itu.
"Jika kau menggoda ku seperti ini mungkin aku tidak yakin tidak akan melakukan 'itu' padamu." ucap Ali dengan suara seraknya.
Sontak aku langsung menarik tanganku dan menunduk malu.
"Sudahlah, lebih baik kau tidur saja. Kau pasti lelah kan?" ucap Ali lalu kembali pada posisi semula.
"Kau mau kemana?" tanya Ali saat melihat aku bangkit dari ranjang.
"Aku haus, aku ingin ke dapur." balasku.
"Oh, hati hati. Dan cepatlah kembali."
Aku mengangguk lalu keluar kamar. Gelap, semua lampu sudah di matikan. Aku berjalan perlahan menuju dapur rumah ini. Hanya lampu dapur yang masih menyala, namun remang remang.
Aku mengambil gelas lalu mengisinya dengan air dari waters dan langsung meminumnya. Aku hampir saja menyemburkan air yang aku minum saat tiba tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang.
"Kenapa kau berbohong padaku?" tanyanya berbisik di telingaku. Aku kenal suara ini, Rasya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" ucapku mencoba melepaskan pelukan Rasya dari pinggangku.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau berbohong padaku?" tanyanya sekali lagi. Ada nada kecewa di setiap katanya. Maafkan aku Rasya, aku tidak bermaksud membohongimu.
"Maaf." hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
Rasya memutar badanku untuk menghadapnya masih dengan memeluk ku.
"Kau fikir maaf bisa mengembalikan semuanya.." ucapnya hampir berbisik.
"Rasya aku----
"Apa yang kalian lakukan?" ucap seseorang memotong ucapanku.
Aku dan Rasya melihat kearah sumber suara dan disana aku melihat Ali yang berdiri dengan mengeryitkan dahinya bingung.
Ali berjalan mendekati kami berdua. "Apa yang sedang kalian lakukan?"
__ADS_1