Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Bolehkah aku menyebutnya bayiku?


__ADS_3

Lima belas. : Bolehkah aku menyebutnya bayiku?


____________


____________


Prilly pov.


Aku membuka mataku perlahan - lahan, setelah mataku terbuka sempurna. Aku melihat sekeliling, ternyata aku ada di rumah sakit. Aku terseyum melihat Rasya yang duduk di kursi dekat ranjangku dengan mengenggam tanganku dengan erat. Tunggu!! Aku seperti pernah mengalami ini, ya aku pernah mengalami ini saat --- astaga bagaimana keadaan kak Nikita??


"Rasya..." panggilku, namun suaraku sangat pelan karna entah kenapa tenggorokan ku terasa kering. Mungkin karna haus.


"Rasya.." ucapku lagi seraya melepaskan tanganku dari genggaman Rasya.


"Kau sudah bangun ya.." ucap Rasya linglung khas bangun tidur. Rasya mengucek kedua matanya dengan punggung tangannya, mungkin ada beleknya 😁✌.


"Haus." ucapku.


"Oh....." balasnya singkat. Aku mendelik dengan respon Rasya yang lemot itu, astaga!!


"Ahh ya maaf." ucapnya kemudian buru buru mengambil segelas air minum untukku.


"Terima kasih." ucapku setelah selesai meminum air dari gelas itu rasanya tenggorokanku adem.


"Bagaimana ka Nikita dia baik baik saja kan, mereka baik baik saja kan?" tanyaku khawatir.


"Uhm itu maksudku ya mereka selamat namun kak Nikita masih koma dan bayinya harus masuk tabung inkubator karna terlahir prematur." balas Rasya panjang lebar namun dalam sekali tarikan nafas.


Aku bisa menghela nafas lega, setidaknya mereka berdua bisa selamat walau belum seratus persen. "Sekarang jam berapa?" tanyaku lagi.


"Jam setengah delapan." ucap Rasya setelah melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.


"Seperti nya aku terlalu lama tertidur ya." ucapku lirih.


"Kau pingsan bukan tidur."

__ADS_1


"Eh masa sih. Oh ya bagaimana dengan Ali?" tanyaku.


"Bagaimana dengan kakak, dia tidak apa apa. Memangnya dia kenapa?" tanya Rasya balik menatapku sambil memincingkan sebelah matanya heran.


"Uhm, tidak apa apa. Mau menemaniku ke ruang inkubator?"


_______


Bukan pernikahan impian.


_______



Aku tersenyum lirih saat memperhatikan bayi perempuan yang ada di ruang inkubator dari kaca luar ruangan. Dia bayi kak Nikita, sangat manis. Ingin sekali aku menyentuhnya, aku sudah tidak sabar ingin menggendong bayiku. Hmm bolehkah aku menyebut dia bayiku, walau dia bukan terlahir dari rahimku?


Tadi aku sudah melihat keadan kak Nikita sebelum aku berada di sini. Setelah puas aku memandang bayiku, Rasya mengajakku untuk sarapan di kantin rumah sakit. Dan aku pun hanya bisa menurut karna memang perutku sangat lapar, aku ingat dari selamam aku belum makan dan aku takut jika maag-ku akan kambuh seperti waktu itu.


Drrt... Drrtt...


"Ras hp mu bunyi." ucapku menunjuk ponsel Rasya yang bergetar getar di atas meja kantin.


Oh ya, omong-omong kemana Ali ya? Kenapa dari tadi aku tidak melihat dia? Apa dia pulang kerumah?


Makanan ku sudah habis namun Rasya belum juga kunjung kembali. Aku pun melihat ponselku dan menemukan memo yang berputar putar di pinggir ujung ponselku. Aku membuka memo itu dan ternyata itu memo ultah Cris. Tunggu? Tadi aku bilang apa? Memo ultah Cris.


Astaga, aku melupakan ultahnya tahun ini. Buru buru aku mencari nama nya di daftar telfon dan segera menghubunginya.


"Hallo.." jawabnya dari seorang telvon dengan nada sebal.


Ya dia pasti marah padaku, biasanya aku adalah orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun + kado padanya. Namun akhir akhir ini aku terlalu sibuk hingga aku melupaannya. Bukan bukan melupakannya hanya saja aku tidak ingat. Huh apa bedanya lupa dengan tidak ingat?


"Hallo, ada orang tidak disana? Aku matin nih." ucapnya membuyarkan lamunanku.


"Eh jangan." ucapku refleks dengan nada yang lumayan tinggi membuat penghuni kantin -yang hanya ada beberapa orang- melihat kearahku.

__ADS_1


Aku meringis dan meminta maf pada mereka karna telah terganggu dengan pekikanku.


"Happy Birthday Cris.... Maaf aku telah mengucapkannya, kau tau aku sudah menjadi seorang istri jadi aku pasti sibuk." ucapku mencoba membuat ia tak marah padaku karna aku telat mengucapkan selamat ultah padanya.


Cris mendengus di kesal. "Ya ya yang sudah menikah sampai sampai ultahku saja kau lupakan!"


"Tidak Cris. Aku tidak melupakan ultahmu, hanya saja aku tak ingat kalau kau ultah hari ini." ucapku pelan.


"Itu sama saja huh, dan mana kado untukku?" tanyanya.


"Uhm.." aku menggigit bibir bawahku gugup. "Aku belum membelinya jadi kau bisa request tahun ini kau mau apa?" tanyaku. Aku benar benar lupa, atau tidak ingat. Hah itu sama saja.


"Sudah kuduga. Tapi akan ku pikirkan nanti aku mau apa." ucapnya kemudian.


"Baiklah kalau sudah tau mau apa langsung telfon aku saja ya. Uhm apa Papa sudah mengucapkan happy birthday?" tanyaku.


"Oke, tapi janji ya apapun itu. Dia tidak akan pernah mengucapkan itu, karna dia tidak pernah menyayangiku." ucap Cris mendengus pelan di akhir kaliamatnya.


"Aku janji. Papa menyayangimu Cris, bahkan beliau sangat menyayangimu. Dia hanya ingin kau menurut padanya dan menjadi seorang seperti nya." ucapku.


"Huh, jadi aku harus seperti kau yang selalu menurut padanya, aku bukan kau yang selalu mengikuti apapun keinginannya. Aku ingin bahagia dengan pilihanku sendiri. Aku tidak suka di atur." ucapnya kesal.


Cris memang keras kepala. Padahal papa hanya ingin dia menjadi anak baik dan melanjutkan bisnis papa, namun Cris tidak mau.


"Cris...."


"Sudahlah aku harus kesekolah. Bye ka Bie aku menyayangimu."


Tut... Tut...


Cris mematikan sambungan telfon secara sepihak. Dengan itu Rasya kembali dengan wajah kusut, sekusut benang yang amburadul. Eh ✌.


"Uhm Pril, aku harus pulang. Ada tugas dari kampus yang harus aku selesaikan. Tidak apa apa kan jika kau ku tinggal di rumah sakit sendiri. Kak Ali juga akan datang sebentar lagi ia tadi hanya pamit ke kantor untuk sebentar dan akan cepat kembali." ucap Rasya panjang lebar.


Aku tersenyum. "Tidak apa apa, di sini aku tidak sendiri kok kan ada mereka."

__ADS_1


"Baiklah aku pergi dulu, bye..." ucap Rasya mengecup pipi kananku lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung di ujung kantin.


Deg deg deg, kenapa jantungku berdetak tidak beraturan hanya karna Rasya yang mencium pipiku saja. Oh sepertinya aku harus memeriksakan kesehatan jantungku , siapa tau aku terkena serangan jantung.


__ADS_2