Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Dia sudah pergi


__ADS_3

Tiga puluh sembilan : Dia sudah Pergi.


______________________


Author pov.


Seharian ini Ali tidak pergi ke kantor padahal ada meeting penting yang harus ia hadiri namun ia malah menyuruh Rasya untuk datang ke kantor. Dan hal itu membuat Rasya marah marah karna se'enak-nya Ali menyuruh Rasya datang ke kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang belum dia mengerti.


Ali hanya diam di rumah tanpa mau keluar kamar, tadi pagi niatnya adalah datang ke rumah Rendy untuk memberikan kejutan ultah namun ia malah di kejutkan oleh hal lain yang membuat hatinya sangat sakit.


"Kakak kenapa sih dari tadi pagi murung terus." ucap Dahlia yang berdiri di samping ranjang memperhatikan kakak pertamanya yang sikapnya mendadak aneh sejak tadi pagi.


Tadi pagi yang Dahlia tau, kakaknya itu entah darimana pagi pagi sudah datang membawa kue tart untuk ulang tahun dan ulang tahun siapapun Dahlia tidak tau. Jangankan Dahlia, Rasya juga tidak tau dan saat Rasya dan Dahlia tanya sama Ali hanya di balas dengan 'dia'.


"Tidak ada apa-apa." balas Ali.


"Tapi-......


Belum sempat Dahlia melanjutkan ucapan nya, ia sudah di kejutkan dengan teriakan kakak kedua-nya yang baru datang dari kantor.


"Kakak!!" pekiknya membuka pintu kamar Ali dengan tidak santai dan kembali menutupnya pun dengan membantingnya.


"Ada apa kak?" tanya Dahlia.


"Aku bisa gila." ucap Rasya memijat keningnya.


"Kakak aku tidak mau mengerjakan urusan kantor dan semacamnya pokoknya aku tidak mau kak. Aku ingin menjadi seorang photografer bukan menjadi pembisnis." ucap Rasya kesal.


"Siapa yang akan melanjutkan bisnis kakak jika kau menjadi photografer?" tanya Ali menatap tajam Rasya.


"Dahlia kan bisa." jawab Rasya menatap Dahlia yang sedang menatapnya juga.


Seketika itu juga Dahlia langsung melotot. "Tidak mau, aku masih ingin kuliah dan setelah kuliah aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja."


"Untuk apa kau kuliah jika akhirnya hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja?" tanya Rasya sinis.


"Ya untuk...."


"Sudah diam!" seru Ali, hari ini ia sedang kesal dan kedua adiknya itu malah membuatnya semakin kesal.


"Aku tidak meminta pendapatmu Rasya, mau tidak mau kaulah yang akan meneruskan perusahaan itu." ucap Ali tegas dan bangkit dari ranjangnya meninggalkan kedua adiknya.


Dahlia dan Rasya hanya bisa menatap kepergian Ali dari tempatnya dengan mimik wajah yang berbeda. Rasya mendengus kesal karna keputusan Ali sementara Dahlia tersenyum mengejek pada Rasya.


"Kau tau kak, sepertinya telah terjadi sesuatu pada kak Ali." ucap Dahlia.


"Aku berfikir juga begitu." ucap Rasya.


"Menurutmu apa yang membuat ka Ali diam di rumah seharian?" tanya Dahlia.


Dahlia meletakkan jari telunjuknya di pelipis, berfikir. "Aku tau." ucapnya kemudian.


"Apa?" tanya Rasya.

__ADS_1


"Sepertinya kakak bersikap aneh hari ini karna kue itu." ucap Dahlia.


"Ahh kau ini, masa kue sih apa hubungannya coba." ucap Rasya.


"Adalah kak, kak Ali bersikap seperti itu karna tadi ia pulang membawa kue kan." ucap Dahlia.


"Tau ah ngak nyambung bicara sama kamu, lebih baik kita cari tau apa yang sebenarnya terjadi pada kakak saja." ucap Rasya keluar dari kamar diikuti Dahlia yang mendengus sebal.


"Kak Ali menerima telfon dari siapa sih, kenapa kelihatan panik seperti itu." ucap Dahlia saat melihat kakak pertamanya itu berbicara di telfon dengan seseorang dengan wajah yang khawatir plus panik.


"Mana aku tau Dahlia stupid." ucap Rasya.


"Lebih baik kita tanya saja." lanjut Rasya.


Rasya dan Dahlia mendekati Ali yang mencari sesuatu di laci meja.


"Mencari apa kak?" tanya Dahlia.


"Kunci mobil." ucap Ali.


"Memangnya mau kemana?" tanya Rasya.


"Prilly baru saja menelfonku dan dia menangis, aku tidak tau apa yang terjadi tapi dia menyuruhku untuk datang ke alamat (sensor)." ucap Ali panik.


"Apa yang terjadi pada Prilly." ucap Rasya ikut ikutan panik.


Ali mendapatkan kunci mobil itu dan segera pergi meninggalkan kedua adiknya yang sibuk bertanya padanya. "Aku tidak tau Rasya, Dahlia." ucap Ali pada akhirnya karna terus di hujani pertanyaan-pertanyaan yang sama.


"Terserah." ucap Ali membuka pintu mobilnya.


"Memangnya kita mau ke rumah siapa kak?" tanya Dahlia.


"Mau kerumah.... Rendy." ucap Ali memelankan ucapannya saat mengucapkan nama Rendy.


Ali tidak jadi memasuki mobil dan kembali menutup pintu mobilnya. Dia berfikir untuk apa Prilly menyuruhnya kerumah Rendy, apa untuk melihat kemesraan mereka?


"Kak kenapa tidak jadi?" tanya Dahlia bingung melihat Ali kembali menutup pintu mobilnya.


"Untuk apa kita ke rumah Rendy?" tanya Ali, sebenarnya ucapan itu lebih terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri.


"Bukankah kak Prilly tadi menelfon dan menangis meminta kakak untuk datang." ucap Dahlia.


"Sudahlah kak lupakan dulu semua yang pernah dia lakukan padamu... Prilly disana, aku takut terjadi sesuatu padanya kak." ucap Rasya.


"Kak Rasya benar kak." ucap Dahlia.


"Baiklah." ucap Ali dan akhirnya ia pun kembali membuka pintu mobil dan memasuki mobilnya diikuti Dahlia dan Rasya.


"Oh ya kak bagaimana kau tau dimana rumah Rendy?" tanya Dahlia, dia mulai heran darimana kakak pertamanya itu bisa tau dimana rumah Rendy.


"Bukan urusan kalian." ucap Ali kesal.


Setelah Ali berbicara seperti itu Dahlia dan Rasya pun diam tidak mau berbicara lagi, bukan takut tapi ia tidak mau membuat konsentrasi Ali buyar dalam menyetir. Mereka tidak mau ke'esokan harinya akan ada berita di tv dan koran tentang tiga kakak beradik yang mati karna kecelakaan mobil. Hingga akhirnya Ali menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan Ali pun turun dari mobil tanpa berbicara apapun pada Dahlia dan Rasya.

__ADS_1


"Apa ini rumahnya Rendy?" tanya Dahlia.


"Mana aku, sudahlah ayo kita turun saja." ucap Rasya sebal dan mengikuti Ali turun dari mobil.


Dahlia pun mendengus sebal lalu ia pun ikut turun dari mobil dan berjalan mengikuti ali dan Rasya yang menuju pintu utama rumah Rendy.


"Kenapa rumah ini terlihat sangat sepi sekali kak?" tanya Dahlia.


"Aku tidak tau Dahlia, sudah diam kenapa jangan banyak bertanya." ucap Rasya sebal.


Ali pun membuka pintu yg ternyata tidak di kunci dan ia pun memasuki rumah Rendy. Dahlia dan Rasya pun hanya .mengikuti Ali dari belakang seperti ekor.


"Hallo apa ada orang disana." teriak Dahlia dan itu membuat Rasya dan Ali melihat kearahnya.


"Hehe maaf habis rumah ini terlihat sepi tak berpenghuni sih." ucap Dahlia.


"Kak Ali, Dahlia, dengarkan itu." ucap Rasya.


"Ada apa?"


"Dengar seperti ada perempuan yang sedang menangis." ucap Rasya serius.


"Kita serius kak bukan bercanda." ucap Dahlia sebal.


"Aku tidak bercanda bodoh, sepertinya memang benar ada yang menangis di atas." ucap Rasya tak kalah sebal karna di katakan bercanda.


"Prilly..." gumam Ali kemudian berlari menaiki tangga lantai dua.


"Kak tunggu kami." ucap Rasya dan Dahlia. Mereka berdua pun akhirnya mengejar Ali.


"Brak!!"


Sesampainya di lantai atas Ali langsung mendorong pintu kamar itu tanpa aba aba, ia tidak melihat siapa siapa di kamar itu hanya ada suara tangis seorang perempuan saja.


"Kak ini membuatku merinding ada suara tapi tidak ada orangnya." ucap Dahlia, bulu kuduknya sudah berdiri karna takut.


Rasya hanya menatap Dahlia malas dan ikut berlari mengikuti Ali yang berlari kearah balkon kamar itu.


"Prilly!" pekik Rasya dan Ali secara bersamaan langsung berlari kearah Prilly dengan panik.


"Kak apa yang terjadi?" tanya Dahlia, lalu ia ikut berjalan kearah balkon dan menutup mulutnya sendiri saat melihat apa yang ada disana.


"Apa yang terjadi kak Prilly?"


"Hiks... Ali katakan padaku bahwa dia tidak apa-apa." ucap Prilly dengan isak tangis.


"Dia sudah tidak ada, Prilly." ucap Ali lirih.


"Tidak." ucap Prilly.


"Prilly...."


"Tidak!!!". Teriak Prilly, ia menangis semakin histeris.

__ADS_1


__ADS_2