Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Sikap Aneh Dahlia


__ADS_3

Dua puluh lima : Sikap aneh Dahlia.


_________________


_________________


Author pov.


"Uhm kak..." ucap Dahlia menghampiri Prilly yang sedang menimang Gwen dalam gendongan.


"Ya, ada apa Lia.."


"Aku-aku mau minta maaf sama kakak." ucap Dahlia gugup.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Prilly heran, seingatnya Dahlia tidak pernah berbuat salah padanya. Lalu untuk apa adik Ali ini minta maaf?


"Ak-aku minta maaf karna sudah menganggap kakak tidak baik dulu." ucap Dahlia sambil menunduk, ia tidak berani menatap Prilly.


Prilly tersenyum simpul melihat Dahlia yang sepertinya nya takut padanya.." kau tidak perlu minta maaf Lia."


"Tap-tapi kak."


"Itu masa lalu bukan, apa sekarang kau masih menganggapku seperti itu?" tanya Prilly.


Dahlia menggelengkan kepalanya. "Nah kalau begitu lupakan saja dan kau tidak perlu minta maaf."


"Terima kasih kak, kakak baik sekali.." ucap Dahlia mendongak dan mendapati Prilly yang tengah tersenyum menatapnya.


"Oh iya, selamat ulang tahun ya kak. Semoga kakak selalu panjang umur dan sehat selalu. Maaf aku telat mengucapkannya kak."


"Terima kasih Lia, ya tidak apa apa kok."


"Gwen masih tidur ya kak?" tanya Dahlia mendekati Prilly dan melihat Gwen.


"Iya dia baru saja tidur lagi." balas Prilly.


"Boleh tidak kak, jika aku menggendongnya?" ucap Dahlia, wajahnya menatap Prilly penuh harap. Dahlia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengubah sikap dan perilaku nya pada Prilly.


"Boleh kok."


Prilly tersenyum dan memberikan Gwen pada Dahlia yang sedang duduk di kasurnya.


"Wah Gwen itu kecil sekali ya kak. Aku jadi tidak tega melihatnya." ucap Dahlia saat Gwen berada dalam pangkuannya yang beralasan bantal.


"Karna dia terlahir prematur, jadi sangat kecil. Beratnya saja hanya 1,7 kg." balas Prilly.


"Semoga dia cepat tumbuh besar ya kak."


"Kau mau sekolah kan, lebih baik kita turun kebawah untuk sarapan dulu." ajak Prilly.


Dahlia mengangguk. "Iya kak." dengan hati hati dia meletakkan Gwen di atas ranjang.

__ADS_1


_________


Bukan pernikahan impian.


_________


"Kakak saja ya yang motong bawangnya, biar aju yang motong wortel kak. Ini sangat pedas kak, liat air mataku huhu.." ucap Dahlia dengan air mata yang berlinangan.


"Hahaha kan kakak tadi sudah bilang Lia tunggu di meja makan saja, biar kakak saja yang buat sarapan." ucap Prilly tertawa melihat Dahlia yang bersimbah air mata karna memotong bawang merah.


"Uh kakak, aku kan juga mau belajar memasak. Aku juga pengen jadi seorang istri yang baik untuk suamiku suatu saat nanti." dengus Dahlia pura pura ngambek.


"Sudah kau liat saja tidak usah ikutan ya. Sana lebih baik kau susun piring di meja dan tuangkan susu juga" suruh Prilly.


"Tapi kak---


"Tidak ada tapi - tapian. Sudah sana..." Prilly mengibaskan tangannya untuk mengusir Dahlia.


Tanpa sepengetahuan mereka, Ali dari tadi sudah memperhatikan keduanya yang sedang berinteraksi. Ali bingung dengan Dahlia yang tiba tiba bisa akrab dengan Prilly. Ali tau jika Dahlia itu tidak suka dengan keberadaan Prilly dirumah ini, tapi sepertinya ada yang aneh kenapa Dahlia .


"Ada apa denganmu?" tanya Ali menghampiri Dahlia yang sedang menyusun piring di meja makan.


"Ada apa denganku?" Dahlia balas bertanya.


"Ya. Kau kelihatan aneh sekali hari ini." ucap Ali.


Dahlia mendengus kesal. "Apanya yang aneh kak?"


"Huh kau ini kak. Aku kan juga pengen jadi ibu rumah tangga makanya aku belajar dari sekarang, ka Prilly itu sangat baik ya." ucap Dahlia sembari tersenyum lebar, tangannya masih sibuk menungkan susu di setiap gelas.


Ali mendelik, selama ini Dahlia yang selalu sini pada Prilly mengatakan bahwa Prilly baik. Yang benar saja. Apalagi Dahlia mau belajar semua ini denga Prilly.


"Kau salah minum obat ya." ucap Ali meletakkan punggung tanganya ke dahi Dahlia.


Dahlia menepis tangan Ali. "Tau ah, kakak Ali nyebelin."


"Ada apa Lia?" tanya Prilly yang entah sejak kapan sudah ada di dekat mereka.


"Tidak ada kak." balas Dahlia dengan senyuman manis.


"Oh, ini nasi gorengnya sudah jadi. Kalian cepat sarapan nanti telat." ucap Prilly.


"Kakak tidak ikut sarapan.?" tanya Dahlia karna Prilly tidak ikut duduk.


"Aku akan memanggil Rasya sebentar ya." balasnya dan berlalu dari ruang makan.


"Biasanya juga turun sendiri, ngapain coba pake di panggil segala." cibir Ali kesal.


"Kau kenapa kak? Kau cemburu ya?" goda Dahlia.


"Apa?? Cemburu? Tidak! Yang benar saja." balas Ali dengan nada agk sedikit tinggi.

__ADS_1


Dahlia tersenyum. "Lalu apa namanya kalau bukan cemburu? Kau tidak suka kalau ka Prilly lebih memperhatikan ka Rasya daripada kau?" tanya Dahlia.


Ali mendegus sebal. "Aku tidak cemburu, Dahlia! Dan aku tidak akan pernah ceburu padanya. Toh aku kan tidak mencintainya." balas Ali.


"Aku tidak bertanya kau mencintainya itu tidak kak." ucap Dahlia santai.


"Aku----


"Kenapa kalian belum pada makan?" tanya Prilly saat kembali keruang makan bersama Rasya.


"Tidak boleh makan dulu, kakak Ali bilang harus nunggu ka Prilly baru boleh makan." ucap Dahlia santai.


Ali mendelik sebal kearah Dahlia, bisa bisanya adiknya itu mengarang. "Kalian tidak perlu menunggu." ucap Prilly.


"Siapa juga yang menunggumu." ucap Ali sinis, melihat Prilly yang duduk di samping Rasya buka dirinya.


Mereka makan dengan posisi, Ali di samping Dahlia, Prilly didepan Ali dan Rasya di samping Prilly.


"Kau." balas Prilly.


"Sudah jangan malu malu begitu kak Ali, tadi saja kau bilang bahwa ka Prilly itu sangat baik hati dan juga sangat cantik." celetuk Dahlia. Lagi.


Ali kembali mendelik kearah Dahlia yang ada disampingmu kalau dia tidak ingat kalau Dahlia adiknya, rasanya ingin sekali dia mengubur Dahlia hidup hidup karna sudah berbicara sembarangan.


Rasya tau jika itu semua hanya kebongongan saja, karna dia yakin tidak mungkin Ali berbicara seperti yang Dahliaucapkan tadi. Tapi untuk apa? Bukanya Dahlia itu tidak suka sama Prilly dan juga membenci Prilly. Batin Rasya bertanya tanya sendiri.


"Sudahlah itu tidak penting, lebih baik kalian sarapan nanti terlambat." ucap Prilly seraya mengambilkan nasi goreng untuk Rasya.


"Terima kasih." ucap Rasya tersenyum manis.


Prilly hany mengngguk dan baas tersenyum.


"Ka Ali juga mau tuh di ambilkan."


"Apa?! Tidak aku bisa sendiri."


Belum sempat Ali meraih piring di depannya, Prilly sudah lebih dulu mengambilnya dan mengisinya dengan nasi goreng.


"Terima kasih." ucap Ali lirih.


"Apa kak? Kami tidak dengar?" tanya Dahlia tersenyum menggoda, Ali sudah ingin menempelkan lakban pada mulut adiknya itu.


"Terima kasih." ulang Ali kesal.


"Tidak usah berterima kasih kalu tidak ikhlas." balas Prilly.


"Udah untung aku mau berterima kasih padamu." sunggut Ali kesal.


"Aku juga tidak memintamu untuk berterima kasih." balas Prilly santai dan mulai menyuapkan nasi goreng dalam mulutnya.


Ali menggertakkan giginya sebal. Kenapa Prilly yang sekarang menjadi sangat menyebalkan, Ali ingin Prilly nya yang dulu, Ali ingin Prilly yang lembut dan juga penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2