Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Kakak, dia juga istrimu?


__ADS_3

Dua belas : Kakak, dia juga istrimu.


__________


__________


Author pov.


"Aku-aku tidak tau, Rasya...." Gumam Prilly lirih hampir tidak terdengar. Mirip seperti berbisik pada diri sendiri.


"Kenapa tidak tau?" tanya Rasya.


"Karna aku tidak tau jatuh cinta itu seperti apa. Jangan tertawa! Aku memang belum pernah jatuh cinta." ucap Prilly.


Rasya meringis lalu memegang tangan kanan Prilly dan di letakkan di atas dadanya {dada Rasya ya bukan Prilly😂}. "Apa kau bisa merasakannya..."


"Hu'um." Prilly mendadak menjadi salah tingkah sendiri dengan apa yg Rasya lakukan. Prilly bahkan bisa merasa kan detak jantung Rasya yang berdebar sangat kencang sama seperti debaran jantungnya saat ini.


"Itu salah satunya, apa kau juga merasakan apa yang aku rasakan jika bersama ku?" tanya Rasya.


Prilly mengangguk malu - malu dan menarik tangan nya masih di genggaman Rasya. "Aku ingin pulang." ucapnya cepat.


Rasya mendesah, Prilly mengalihkan pembicaraan. "Ini sudah malam, jadi besok pagi saja ya." ucap Rasya.


Prilly menggeleng. "Tidak! Aku ingin pulang, aku lapar ingin makan." ucapnya.


"Kalau cuma makan, nih aku udah beli tadi. Jadi kau bisa makan disini." ucap Rasya. Ia mengambil kotak makan di meja dekat ranjang Prilly.


Prilly mendengus kesal. "Tidak mau! Aku ingin pulang, titik tidak pake koma!."


"Baiklah, tapi sebaiknya kau makan dulu ya baru kita pulang bersama." putus Rasya. Prilly memang keras kepala.


Setelah selesai makan.


"Nah sekarang kau duduk di sini." perintah Rasya.


"Apa??" ucap Prilly.

__ADS_1


"Kau ingin pulangkan, jadi duduklah disini aku akan mendorongmu." ucap Rasya.


"Tidak! Tidak! Aku tidak mau, aku bisa berjalan Rasya. Yang terbentur itu kepalaku, dan tidak ada masalah dengan kakiku." ucap Prilly panjang lebar.


Rasya menghela nafas, "baiklah." sepertinya Rasya akan sering mengalah dengan Prilly.


"Sebelum pulang aku ingin ke ruangan ka Nikita dulu, aku ingin melihat kondisinya." ucap Prilly.


"Tidak perlu Prilly, besok saja kita datang kesana ya." ucap Rasya, ia tidak mau mendengar kakaknya memarahi Prilly lagi.


"Besok kita juga datang lagi, lagian aku hanya ingin melihat saja, apa itu salah?" tanya Prilly.


"Ya tidak sih, tapi.... Huh baiklah."


______


Bukan pernikahan impian.


______


"Ali..." Panggil Prilly saat ia sudah memasuki ruangan Nikita.


Melihat siapa yang ada di sebelahnya, rahangnya langsung mengeras. "Apa yang kau lalukan disini, belum puas kau melihat istriku seperti itu hah!?" ucap Ali sarkastik.


Ck, Sepertinya Ali lupa kalau Prilly juga istrinya, hahaha.


Ali bangkit dari ranjang lalu mendekati Prilly yang berdiri tidak jauh dari ranjang. Prilly meringis mendengar itu, Ali sangat marah padanya.


"Aku-aku...." Prilly menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak bisa berbicara sepatah katapun jika Ali terus menatapnya tajam, setajam silet. Eh?


"Apa??"


"Apa kakak baik baik saja?" Tanya Prilly cepat seraya menundukkan kepalanya.


"Lihat! Apa itu bisa di katakan baik baik saja!" ucap Ali tajam. Ali geram melihat gadis munafik di hadapannya ini, kalau bukan karna peruhanaannya di ambang ke hancuran. Ali tidak akan pernah sudi menikah dengan gadis seperti dia.


"Maafkan kan aku Ali, aku benar benar minta maaf." lirihnya.

__ADS_1


"Memang kau fikir maaf bisa mengembalikan istriku seperti semula." bentak Ali.


"Kakak." sergah Rasya. Ia tidak tega melihat Prilly terus di bentak oleh kakaknya itu, tadi ia sudah mengatakan pada Prilly jika mereka langsung pulang saja. Namun Prilly bersikeras untuk menemui kak Nikita terlebih dahulu.


"Dia juga istrimu kak." lanjut Rasya mengingatkan.


"Jangan ikut campur Rasya! Lebih baik kau bawa dia pergi dari sini." ucap Ali sinis. Bahkan Ali enggan untuk menyebut nama gadis itu.


"Ali aku minta maaf..." ucap Prilly.


"Ayo kita pulang saja." ucap Rasya memegang bahu Prilly yang mulai bergetar karna isak tangis.


Ali langsung memalingkan mukanya saat melihat Rasya memeluk Prilly dan membawanya keluar dari ruangan Nikita. Ada rasa tidak rela dalam hatinya yang paling dalam melihat hal itu. Namun ia mengabaikannya dan kembali menatap Nikita.


Tadi saat Nikita sudah siuman, Ali langsung bertanya padanya kenapa ia menyembunyikan kehamilannya. Dan Nikita menjawab jika ia pasti sudah tau alasannya. Nikita tidak mau operasi, ia tidak mau membunuh calon anaknya.


Ali sudah membujuk Nikita dengan berkata bahwa mereka masih bisa mempunyai anak dengan cara adopsi dari panti asuhan. Namun Nikita kekeh tidak mau operasi dan ingin anaknya terlahir ke dunia ini, apapun resikonya akan ia tanggung sekalipun ia harus kehilangan nyawanya pun ia tidak perduli.


"Kenapa harus seperti ini, aku tidak mau kehilanganmu jika kamu terus mempertahankannya." bisik Ali pelan. Ia sudah kembali duduk di kursi dekat ranjang dan menggenggam tangan Nikita.


"Aku mencintaimu." ucap Ali lalu mencium telapak tangan Nikita dengan sayang.


__________


Bukan pernikahan impian.


__________


Rasya membopong tubuh Prilly memasuki rumahnya. Prilly tadi tertidur di mobil dan ia tidak tega untuk membangunkannya.


"Kakak apa yang terjadi pada kakak ipar? Dan kemana semua orang hari ini aku pulang tidak ada seorang pun yg ada di rumah." ucap Dahlia.


"Ssttt... Nanti kakak jelasin ya." ucapnya dan melanjutkan perjalanan menaiki tangga menuju kamar Prilly.


Dahlia mendecakkan lidahnya kesal, tadi siang saat ia pulang dari sekolah. Rumah mereka sepi, seperti rumah hantu tak berpenghuni. Ia kira kedua kakak iparnya berada di toko dan kakak pertamanya tentu saja bekerja. Dan ia juga berfikir kalau Rasya masih kuliah.


Namun sampai malam para kakaknya itu tidak ada yang menunjukkan batang hidung nya barang satupun. Tidak ada yang memberitahunya apa yg terjadi di rumah ini, semua ponsel kakaknya di luar jangkauan.

__ADS_1


Dan sekarang kakak keduanya itu pulang dengan menggendong kakak ipar keduanya dengan kepala di perban. Sebenarnya apa yg terjadi. Batinnya bertanya tanya sendiri.


__ADS_2