Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
aku lebih percaya jika rassya suamiku.


__ADS_3

Dua puluh dua. : Aku lebih percaya jika Rasya suamiku.


_________________


_________________


Author pov.


"Menurutmu aku harus menjawab ya atau tidak?" tanya Prilly, matanya memandang tiga orang di samping ranjang kirinya yang sedang menatapnya dengan penuh tandanya (?) yang besar di kepala mereka...


"Astaga Tuhan...." erang Dokter Rendy frustasi sendiri mengatasi pasien yang satu ini. Prilly benar benar sangat menyebalkan, kalau tidak ada larangan membunuh aku pasti sudah menyuntik mati kau' Gerutu dokter Rendy dalam hati.


"Kenapa?" tanya Prilly dengan muka polosnya. Fandi tersenyum kecil mendengar ucapan kakaknya barusan.


"Prilly ada apa denganmu? Kamu mengingat aku kan?" tanya Ali ikut berbicara.


Prilly memandang Ali dengan tatapan bingung. "Aku? Memangnya ada apa denganku? Memangnya kau siapa dan kenapa aku harus mengingatmu?" ucapnya malah balik tanya dengan jari telunjuk menunjuk diri sendiri.


"Prilly apa kamu ingat aku?" tanya Rasya penuh harap.


Prilly berganti menatap Rasya. "Kau..."


"Ya aku."


"Hmm ya aku ingat, kau pria pertama yang aku lihat disini saat aku bangun dan kau juga menggenggam tanganku, apa kau kekasih ku?" jawab dan tanya Prilly sambil menatap manik mata Rasya yang berdiri disebelah kiri ranjangnya.


"Aku...." ucapan Rasya terpotong dengan ucapan Ali.


"Dia adik iparmu Prilly, karna kamu istriku." ucap Ali spontan, bahkan ia sendiri heran kenap ia bisa mengatakan hal itu.


"Hah! Apa? Istri? Yang benar saja, kapan aku menikah?" tanya Prilly beruntun.


"Jadi kamu tidak ingat jika kamu sudah menikah sayang?" kini Papa Prilly -pak haidar- yang berbicara.


Prilly hanya mengangguk saja, dia tidak mau memikirkan hal yang tidak ia ingat karna ia takut kepalanya akan sakit lagi seperti tadi.


"Baiklah sampai mana anda mengingat masa lalumu anda, nona?" tanya dokter Rendy kembali dengan berbicara formal.


"Sampai seorang lelaki yang di kejar kejar banci karna sok kegantengan padahal wajahnya pas pas'an." celetuk Prilly sambil melirik dokter Rendy dari ekor matanya sambil tersenyum lebar.


Dokter Rendy mendengar itu langsung membulatkan matanya tidak percaya akan apa yang Prilly ucapkan. "Saya serius nona..." ucapnya.


"Bahkan saya lebih serius dokter." ucap Prilly dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.


"Hmm baiklah, jadi anda benar benar tidak ingat jika anda sudah menikah?" tanya Dokter Rendy lagi berusaha menghilangkan kekesalannya pada Prilly.


"Kau sudah tau ingatakanku hanya sampai seorang lelaki....."


"Oke, stop...." ucap dokter Rendy menghentikan ucapan Prilly.

__ADS_1


"Dokter bagaimana sih, tadi bertanya. Saat aku jawab malah tidak boleh, disuruh berhenti. Ada apa denganmu dokter?" tanya Prilly.


"Ada ada apa dengan saya? Harusnya saya yang bertanya dengan anda nona! Ada apa dengan anda sebenarnya?" ucap dokter Rendy denga nada sarkastik.


"Kenapa? Apa kau merasa tersindir heh?"


"Tidak!"


"Tidak salah lagi."


"Ini malah kenapa jadi kalian berdebat begini? Dokter kenal istri saya?" tanya Ali kesal sendiri.


"Tidak!" ucap dokter Rendy. "Baiklah, jadi nona Prilly sepertinya hanya ingat sampai ia masih kuliah dulu dan setelahnya hilang. Saya permisi dulu, kalau ada keluhan kalian bisa cari saya diruangan saya." ucap Dokter Rendy akhirnya keluar ruangan Prilly dengan perasaan dongkol.


Bagaimana tidak? Yang Prilly katakan tadi adalah dirinya maksudnya lelaki yang di kejar kejar banci itu adalah dirinya dulu saat masih kuliah. Rendy tidak menyangka jika gadis aneh di kampusnya yang kemana mana selalu bersama kedua bodyguardnya itu sekarang berubah menjadi wanita yang sangat menyebalkan.


Oke kita kembali ke cerita.


"Apa kepala ka Bie masih sakit?" tanya Fandi.


Prilly tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan."tidak. Kau sudah dewasa ya sekarang?" balas Prilly sambil memperhatikan adiknya itu.


"Tentu saja, aku sudah 17 tahun kak." ucap Fandi.


Prilly manggut manggut mirip marmut makan wortel. "Jadi kau adalah suamiku ya?" tanya Prilly.


"Ya." balas Ali datar.


Prilly memperhatikan Ali dengan intens. "Sepertinya aku tidak pernah mengenalmu, bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki aneh seperti mu?" tanya Prilly.


Ali membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Prilly yang mengatakan dirinya aneh. Yang benar saja?


Sementara Rasya dan Fandi malah terang terangan terkekeh geli mendengar ucapan Prilly.


Ali pov.


Aku membulatkan mataku tidak percaya dengan ucapan Prilly tadi yang mengatakan bahwa aku itu aneh. Dan itu sukses membuat Rasya dan Fandi -adik prilly- terkekeh karna ucapannya itu.


Saat ini hanya ada aku dan Prilly di ruangannya. Aku sudah menyuruh Papa mertuaku pulang dan menyuruhnya agar besok datang lagi. Fandi yang tadinya tidak mau pulang pun akhirnya terpaksa pulang karna Prilly yang menyuruhnya pulang karna besok ia harus sekolah. Sepertinya anak itu begitu nurut dengan Prilly, saat mertuaku yg ngajaknya pulang ia menolak namun saat Prilly yang menyuruhnya anak itu langsung pulang.


Aku juga sudah menyruh Rasya dan Dahlia pulang.


Dahlia sih hanya menurut, sepertinya ia agak kurang sehat karna sedari tadi hanya diam dan menatap Fandi dengan pandangan anehnya. Atau sedang terjadi sesuatu pada mereka aku juga tidak tau.


Sementara Rasya tadi ngotot tidak mau pulang dan ingin menemani Prilly disini, namun aku memaksanya untuk pulang.


Sekarang ruangan Prilly menjadi semakin sunyi karna jujur saja aku tidak tau apa yang harus aku lakukan atau katakan.


"Kau tidak pulang?" tanya Prilly membuka suara.

__ADS_1


"Tidak." balasku singkat, sebenarnya aku juga tidak tau kenapa aku masih ada disini? Bukanya aku membenci Prilly? Lalu untuk apa aku masih diruangan ini dan tadi malah menyuruh Rasya untuk pulang padahal dia masih ingin disini. Ck! Ada apa dengan diriku sebenarnya?


"Kau datar sekali."


"Mana mungkin aku bisa menikah dengan pria seperti mu, aku tidak percaya ini." gerutunya sebal.


Aku tidak pernah mendengar Prilly yang berbicara dengan nada yang seperti itu. Maksudku dia terlihat seperti anak remaja.


"Bukankah Papamu sendiri juga sudah bilang bahwa memang aku suamimu." balasku.


"Ya, tapi aku tetap tidak percaya kalau kau suamiku. Kau terlalu datar dan aneh, jika Rasya yang jadi suamiku maka aku akan langsung percaya." cecarnya panjang lebar.


"Kenapa begitu?"


"Rasya itu baik, tampan, tidak aneh seperti mu dan juga sangat perhatian." ucap Prilly membuatku geram sendiri. Aku merasa sangat kesal saat mendengar Prilly lebih memilih Rasya sebagai suaminya bukan aku. Hah!


"Tapi sayangnya aku suamimu bukan Rasya!"


"Ya sudah kita cerai saja biar aku bisa menikah dengan Rasya." celetuk Prilly sambil mencebikkan bibirnya, lucu? Hah apa tadi aku bilang lucu. Yang yang benar saja.


Ck, sepertinya aku mulai gila karna kematian nikita.


"Tidak bisa begitu dong. Gwen masih membutuhkanmu."


"Siapa Gwen dan apa peduliku."


"Gwen. Anak kita." ucapku asal. Ntahlah, aku hanya ingin Prilly mengakui bahwa aku ini suaminya.


"Anak! Kita punya anak?" tanya Prilly tidak percaya.


"Ya."


"Yang benar saja."


"Kau tidak percaya?"


"Tentu saja tidak."


"Besok juga kau akan melihatnya dan percaya jika memang aku ini suamimu." ucapku karna memang besok Prilly sudah di perbolehkan pulang.


"Kau percaya diri sekali."


Sungguh, ini bukan Prilly yang aku kenal.


"Kau pikir aku mau pulang bersamamu apa?" lanjutnya.


"Harus! Karna aku suamimu." ucapku penuh penekanan di setiap kataku.


"Kau bukan suamiku! Dan aku tidak mau menjadi istri pria aneh seperti mu." ucap Prilly langsung menutup seluruh wajahnya dengan selimut.

__ADS_1


Hah! Aku menghela nafas panjang dan menghempaskan diriku disofa. Rasanya sangat kesal saat Prilly mengatakan aku bukan suaminya dan dia tidak mau menjadi istriku.


__ADS_2