
Dua puluh enam : Gensi dan Oon.
__________________
__________________
Author pov.
Sudah lima bulan sejak Prilly amnesia, Ali benar benar di buat stres dengan dirinya sendiri. Entahlah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya karna Ali pun tidak tau.
Ali tidak suka Prilly yang selalu mengabaikannya, tapi Ali juga tidak mau mengakui jika ia menyukai Prilly atau bahkan mencintai Prilly. Sering kali Ali merasa cemburu karna Prilly lebih care dengan Rasya bukan dirinya.
Sampai akhirnya Ali sadar jika dia benar benar mencintai Prilly dan tidak bisa berjauhan dengan Prilly dan juga tidak mau jika harus kehilangan Prilly. Ali tidak akan sanggup lagi, ia sudah kehilangan cinta pertamanya dan tidak mau bila harus kehilangan cinta terakhirnya.
Ya, Ali berharap bahwa Prilly adalah cinta terakhirnya.
Dulu Ali sering sekali menyangkal jika ia mencintai Prilly, karna hanya Nikita lah yang dia cintai. Ali sendiri tidak percaya bahwa ia sudah jatuh dalam pesona Prilly, bahkan sangat amat mencintai gadis itu.
Ya, Prilly memang masih gadis, karna selama satu tahun mereka menikah. Ali belum pernah menyentuh Prilly, kecuali berciuman. Itu saja saat Nikita masih hidup.
"Hah..." Ali menghela nafas panjang. Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang sedang ia kerjakan, karna pikiran nya tertuju pada Prilly yang siang ini sedang berbelanja kebutuhan Gwen bersama Rasya.
Seharusnya dirinya yang menemani Prilly bukan Rasya, karna dia adalah suaminya bukan Rasya.
"Ck, aku tidak akan bisa konsentrasi kalau begini caranya. Astaga!! Dia udah membuatku gila."
Ali mendecakkan lidah kesal dan mengacak acak rambutnya frustasi. Ini lebih stres dari Nikita yang masuk ugd.
"Baiklah lebih baik aku menyusul mereka saja dari pada aku menerka nerka apa yang mereka lakukan saat ini." gumam Ali bangkit dari kursi kerjanya dan keluar ruangan.
"Diana, cancel meeting siang ini. Aku ada urusan." ucap Ali tanpa mempedulikan sekertarisnya itu yang hedak protes karna 15 menit lagi meeting akan dimulai dia malah mau kabur. Haha kabur? Ya Ali mau kabur dari meeting dan mencari Prilly.
Ali kembali mengacak ngacak rambutnya frustasi saat dirinya sudah ada di dalam mobil, karna dia tidak tau dimana Rasya dan Prilly biasanya berbelanja.
"Dimana aku harus mencari mereka, aku tidak rela mereka berduan."
Ali pun mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang ada dalam fikirannya saat ini. Setelah sekitar 20 atau 25 menittan Ali berhenti dan memarkirkan mobilnya di Mall yang paling dekat dengan rumahnya.
"Masa iya aku harus mencari Prilly dan Rasya di Mall sebesar ini. Yang benar saja." gumam Ali turun dari mobil dan memasuki Mall TA {taman anggrek}.
__ADS_1
"Gimana kalau mereka ngak ada disini dan malah di CP {central park}."
Ya memang Mall Central Park dan Mall Taman Anggrek itu sangat dekat, hanya bersebelahan. Bahkan kedua mal itu memiliki ases terhubung dari Central Park ke Taman Anggrek namun tidak sebaliknya, aneh memang. Tapi itulah adanya.
Ali mulai mengelilingi Mall tempat, ia berjalan dengan matanya berkeliaran kemana mana sudah seperti orang jahat saja.
"Mungkin mereka udah selesai belanja kali ya.." gumam Ali pasrah karna tidak kunjung menemukan Prilly.
Ali berjalan memasuki salah satu resto jepang disana dan berbuat mengisi perutnya karna sudah berbunyi sejak tadi. Karna memang ini sudah saatnya jam makan siang.
Tapi saat sedang mencari meja kosong, matanya tidak sengaja menangkap Prilly yang sedang tertawa di salah satu meja bersama Rasya.
Seketika darahnya mendidih sampai ke ubun ubun saat melihat Prilly tertawa tapi bukan karna dirinya, melainkan Rasya. Adiknya itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.
Dengan langkah panjang panjang Ali berjalan mendekati mereka dan langsung duduk di kursi depan Prilly membuat Prilly terlonjak kaget karna tiba tiba Ali duduk di depannya dan menatapnya tajam.
"Lho Ali... Ngapain kau disini?" tanya Prilly kaget.
"Iya kakak ngapain disini? Kakak nguntit kita ya?" tanya Rasya ikutan kaget melihat Ali ada disini.
"Makan. Enak saja aku nguntit kalian, kayak ngak ada kerjaan aja." ucap Ali acuh.
"Lalu kenapa kau tiba tiba bisa ada disini kalau bukan nguntit?" tanya Prilly curiga.
Ali menatap Prilly tajam. "Jangan terlalu PD, aku tidak pernah menguntit kalian. Tadi aku sedang meeting bersama klienku di resto dekat sini tapi karna aku ingin makan shuhsi jadi aku kesini." jelas Ali panjang lebar dengan dingin. Ali berharap bahwa mereka tidak akan tau jika ia memang sedang mencari Prilly, mau di taruh dimana mukanya kalau sampai mereka tau.
"Kan masih ada meja lain." balas Rasya.
"Kau tidak liat tempat ini sudah penuh." balas Ali asal.
Dan untunglah bahwa memang ucapannya itu benar, semua meja penuh oleh pengunjung lain. Jadi Ali tidak akan kena malu karna asal bicara.
Rasya pun memandang sekitar dan memang benar semua meja penuh, tapi ia masih curiga dengan Ali yang tiba tiba ada disini. Tapi sudahlah walau Rasya bertanya samapi mulut berbusa pun Ali juga tidak akan mau ngaku.
Prilly menatap Ali yang sedang makan di hadapannya, ia masih tidak percaya dengan apa yang Ali ucapkan tadi.
"Hmm Prilly... Aku lupa kalau siang ini aku harus ke kampus, jadi kau tidak apa apa kan kalau pulang naik taksi... Maaf.. Aku benar benar harus pergi karna sudah telat dari tadi." ucap Rasya bangkit dari duduk dan meninggalkan Prilly yang hendak protes.
"Sudah pulang bersamaku saja." ucap Ali santai.
__ADS_1
"Tapi aku belum belanja, kami baru saja datang kesini." balas Prilly.
"Aku bisa menemanimu nanti, lanjutkan makanmu." ucap Ali.
"Kau serius?" tanya Prilly tidak yakin. Selama ini Ali tidak pernah peduli dengan kebutuhan Gwen, ia hanya akan memberikan uang padanya dan dia aakn berbelanja bersama Rasya.
"Ya." balas Ali singkat.
Prilly mendengus sebal. "Kalau tidak ikhlas aku bisa sendiri. "Ucap Prilly bangkit dari kursinya meninggalkan Ali.
"Hey kau mau kemana?" teriak Ali, tapi Prilly tidak mempedulikan nya dan tetap melangkah keluar.
Ali buru buru memanggil pelayan dan membayar tagihan makanan yang di pesan Rasya , Prilly dan juga dirinya. Dan buru buru keluar mengejar Prilly sebelum Prilly jauh.
______
Bukan pernikahan impian.
______
"Masih lama tidak?" tanya Ali, sudah hampir setengah jam dia mendorong troli berisi berbagai macam barang yang Prilly letakkan.
Ali merasa tangannya sudah pegal, padahal hanya mendorong saja. Maklumlah dia kan tidak pernah berbelanja seperti ini. Karna dia tidak mau repot dan lebih memilih menyuruh pelayan dirumah.
Tapi semenjak Prilly mengalami amnesia, setiap bulan dia selalu berbelanja sendiri tidak mau menyuruh pelayan. Padahal kalau menyuruh pelayan itu lebih praktis.
Ali mendengus sebal karna sedari tadi Prilly tidak sekali pun membalas ucapannya atau lebih jelas nya gerutuannya. Sepanjang mendorong troli ia hanya menggerutu tidak jelas.
Sebenarnya Prilly sudah pusing mendengarnya, tapi mau bagaimana lagi masih banyak yang belum dia beli.
"Banyak sekali kau beli begituan untuk apa?" tanya Ali saat melihat Prilly memasukkan beberapa bungkus pempers berukuran besar ke troli.
"Ini namanya pempers. Untuk Gwen dua minggu juga habis." balas Prilly.
"Hah! Masa Gwen makan begituan setiap hari." ucap Ali. Dasar bego.
Prilly mendelik sebal kearah Ali. "Kau ini punya anak tapi tidak tau gunanya pempers untuk apa! Jangan cuma bisa buat doang, pempers itu untuk di pakai biar ngak ngompol bukan dimakan !" ucap Prilly dengan nada sedikit tinggi membuat beberapa pengunjung menatapnya.
Ali hanya nyengir dan menggaruk belakang kepalanya karna memang dia tidak tau apa gunanya pempers. Apalagi hampis semua pengunjung menatapnya dengan terang terangan cekikikan.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak tanya, dorong itu troli yang benar."