
Dua puluh. : Rumah Sakit, kritis'
____________
____________
Author pov.
Akhirnya Ali pun memutuskan untuk membawa Prilly ke rumah sakit saja, takut juga kalau terjadi sesuatu pada Prilly. Bagaimana pun Ali bukan psikopat atau pembunuh yang tega membiarkan Prilly merenggang nyawa di tangannya. Ya bagaimanapun jika seumpama Prilly meninggal, Ali lah yang sudah membunuhnya karna ia yang mendorong Prilly.
Mobil Ali berjalan menuju rumah sakit terdekat, hujan semakin deras dan petir yang menyambar-nyambar membuatnya tidak bisa mengendarai mobilnya dengan cepat. Ali pun hanya bisa mengendarai mobil standar saja, ia tidak mau mati konyol. Sudah cukup ia kehilangan Nikita. Walau ia sangat mencintai Nikita, namun dirinya belum mau mati konyol. Ali masih memikirkan putrinya yang baru saja keluar dari ruang inkubator itu masih membutuhkan dirinya.
Ali menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit, ia keluar dari kemudi dan membuka pintu penumpang untuk menggendong Prilly.
"Dokter.... Suster, tolong saya." ucapnya saat sudah berada dalam rumah sakit itu.
Dengan sigap, suster yang melihat itu langsung menyuruh Ali meletakkan Prilly di ranjang. Dengan segera pula mereka langsung membawa Prilly masuk ke ruang UGD.
Ali memungu di luar ruangan dengan gelisah, entahlah apa yang membuatnya gelisah. Yang pasti perasaanya tidak tenang saat ini. Ali menatap pintu ruang UGD yang masih tertutup rapat, ini sudah setengah jam namun mereka belum juga ada yang keluar.
Tidak lama setelahnya seorang dokter membuka pintu ruang UGD, dan mencari keluarga korban. Ali pun mendekati dokter dan bertanya apa yang terjadi pada Prilly.
"Jadi anda suaminya pak?" tanya dokter. Ali hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan sang dokter.
"Pasien kehilangan banyak darah pak dan mohon maaf rumah sakit kami saat ini sedang kehabisan darah dengan golongan yang sama dengan golongan darah pasien. Apakah anda bisa menghubungi keluarganya yang lain, siapa tau ada yang cocok. Karna pasien sangat membutuhkan nya pak." jelas dokter dengan bernamatage dr.Rendi Revanda itu panjang lebar.
__ADS_1
Aku menelan ludah dengan susah payah karna itu artinya ia harus menghubungi Papa Prilly. Dan jika Papa Prilly tau kondisi putrinya, apa yang akan Ali katakan padanya. Tidak mungkin kan Ali jujur bahwa ia yang menyebabkan putrinya kritis, bisa langsung di mutilasi saat itu juga. Terkesan lebay memang, tapi yang Ali tau Papa mertuanya itu sangat menyayangi putrinya, jadi kemungkinan ia akan melakukan apapun pada orang yang sudah membuat putrinya kritis.
Ali meringis membayangkan kemungkinan - kemungkinan yang ada dalam benaknya. Dokter Rendy mengerutkan dahinya melihat reaksi Ali. Ini pertama kali dia menangi pasien tapi suaminya biasa saja melihat istrinya kritis. Maksud dokter itu adalah biasanya sang suami akan langsung panik mendapat kabar seperti yang ia katakan tadi, tidak seperti Ali.
"Maaf pak, apa pasien masih mempunyai keluarga atau kalau ada kerabatnya juga jadi asalkan golongan darah mereka sama." ucap dokter Rendy membuyarkan imajinasi liar Ali tentang kemungkinan kemungkinan yang ada.
Ali yang mendengar ucapan dokter Rendy sedikit terkejut dan gelagapan sendiri. "Memangnya apa golongan darah istri saya dok?" tanya Ali kemudian.
"B+ pak." balas dokter Rendy.
Ali mengangguk paham, "saya akan segera menelfon keluarga istri saya atau kerabat saya kalau begitu."
"Baiklah pak, kami akan menunggu kabar dari anda. Kami juga akan mengushakan meminta bantuan dari rumah sakit lain." ucap dokter itu dan kembali memasuk ruang UGD.
Ali dan kedua adiknya mempunyai golongan darah yang sama yaitu ; O. Jadi darimana dia akan menemukan golongan darah B+ kalau bukan dari keluarga Prilly.
Setelah hampir lima belas menit mondar mandir di depan pintu UGD, akhirnya Ali memutuskan untuk menelfon Papa mertuanya saja. Apapan resikonya ia akan menangung nanti, lagipula ini memang salahnya sendiri.
Setelah setengah jam ia menelfon Papa mertuanya, namun belum ada tanda tanda bahwa mertuanya itu akan datang. Mungkin karna ini sudah malam dan hujan juga masih lebat jadi perjalanan mertuanya itu terhambat.
"Apa yang kau lakukan padanya kak?" tanya Rasya yang lebih dulu datang bersama Dahlia. Ya memang tadi ia memberitahu Rasya, Ali mengumpat dalam hati. Harusnya ia tidak perlu memberitahu Rasya tentang keadaan Prilly, karna Rasya langsung menghujaninya dengan pukulan pukalannya.
Ali sadar dari pertama kali melihat mereka di dapur waktu di hari pertama Prilky tinggal dirumahnya bahwa adiknya itu menyukai Prilly dan juga sebaliknya dan itulah yang membuat Ali semakin membenci Prilly waktu itu hingga saat ini.
"Kakak sudah cukup..." ucap Dahlia mencoba merelai Rasya yang tidak mau berhenti memukul Ali.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Papa mertua Ali -pak haidar- yang baru saja datang bersama lelaki yang tidak pernah Ali liat.
"Ada apa sebenarnya, bagaimana keadaan Prilly?" tanya pak Haidar. Ia sangat khawatir saat tau putrinya kritis dirumah sakit dan membutuhkan darah.
Dan golongan yang sama dengan Prilly adalah anak keduanya atau putranya Fandi Cristian Takahsi, ia tadi harus menjemputnya dan meyakinkan jika Prilly membutuhkannya dulu agar putranya itu mau ikut kerumah sakit.
Dahlia menatap bingung kearah Fandi. Apa yang kekasihnya itu lakukan disini? Pikirnya. Ia kan tidak memberitahukan hal ini pada kekasihnya itu. Sementara Fandi menatap tajam kearah Dahlia dan dua orang di sampingnya yang ia yakin adalah kakak Dahlia.
Rasya yang hendak memukul kakaknya Ali pun langsung mengurungkan niatnya begitu mengetahui Papa Prilly ada di sana dan baru saja datang dengan seorang pria yang tidak ia kenal namun ia seperti pernah melihat pria itu entah dimana. "Urusan kita belom selesai kak." ucap Rasya sinis.
Ali tidak menangapi ucapan Rasya dan beralih menatap dua orang lelaki yang ada di hadapannya itu. Ali tidak mengenal siapa lelaki itu, mungkin keluarga Prilly yang lain batinnya.
"Jadi golongan darah siapa yang cocok dengan Prilly?" tanya Ali langsung.
"Aku." ucap Fandi, lelaki itu menatap sinis kearah Ali. Namun Ali tidak perduli itu, toh Ali juga tak mengenal siapa lelaki itu.
"Jadi kau yang mau mendonorkan darahmu untuk Prilly?" tanya Ali sekali lagi memastikan.
Fandi hanya menjawab dengan anggukan saja. "Baiklah, tunggu sebentar..." ucap Ali berjalan menjauhi mereka dan tidak lama kemudian ia datang kembali bersama seorang dokter.
"Jadi siapa yang akan mendonorkan darah untuk pasien?" tanya dokter Rendy ramah.
"Saya dok." ucap Fandi.
"Baiklah mari ikuti saya." ucap dokter Rendy . fandi pun mengikuti dokter itu meninggalkan empat orang yang terdiam sendiri dengan pikiran masing masing.
__ADS_1